10 Regentstraat: Restoran Heritage di Kota Lama Surabaya
Gambar atau konten salah?
10 Regentstraat terletak di Jalan Kebon Rojo Nomor 10, di jantung Kota Lama Surabaya. Bangunan ini dulu berfungsi sebagai kantor pos, kemudian menjadi sekolah Hoogere Burgerschool (HBS) yang pernah menampung masa belajar Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno.
Sejak 01 Mei 2026, struktur kolonial ini bertransformasi menjadi restoran heritage. Di balik dinding tebal, kaca patri, dan langit-langit tinggi, pengunjung dapat menikmati hidangan sekaligus merasakan nuansa sejarah yang masih terjaga.
Steffiani Setyadji, yang berusia 29 tahun dan sering dipanggil Steffi, menjadi pemilik restoran ini. Ia mengaku proses memutuskan membuka restoran di bangunan cagar budaya tidak terjadi dalam semalam. Ide tersebut digodok hampir dua tahun sebelum akhirnya resmi dibuka.
“Waktu pertama kali lihat bangunan ini, saya kaget. Masuk itu kosong semua, nggak ada apa-apanya,” ujar Steffi kepada detikJatim pada 07 Mei 2026. Kondisi bangunan pada saat pertama kali ia datang memang memprihatinkan. Bekas tenant kecil yang sebelumnya menempati area dalam sudah banyak yang kosong. Suasana terasa sepi dan dingin, berbeda dengan karakter arsitekturnya yang kuat.
“Jadi ngeliatnya juga sedih ya. Sempet agak kebingungan juga, gimana sih cara membawa kehangatan dari luar tapi tetap nyaman,” tambahnya. Alih-alih mengubah total wajah bangunan, Steffi memilih mempertahankan identitas aslinya. Ia hanya menambahkan pencahayaan untuk menonjolkan detail interior lama, mengganti lantai yang sebelumnya sudah diubah pihak PT Pos, serta menutup beberapa sisi demi menjaga struktur bangunan tetap aman.
Dengan begitu, pengunjung masih dapat menikmati visual artistik di setiap sudut restoran. Kaca patri asli bangunan itu masih berdiri utuh. Pilar‑pilar tua namun kokoh tetap dibiarkan terekspos. “Yang kita lakukan malah cuma nambahin lampu supaya ke-highlight sampai atas. Batu-batu di dinding, di samping pilar, itu juga masih asli, nggak retouch supaya pengunjung tau ‘oh begini desain interior zaman Belanda dulu’,” jelasnya.
Steffi menganggap bangunan tua seperti ini terlalu sayang jika dibiarkan mati dan kosong tanpa aktivitas. Terlebih lokasinya berada di jantung Kota Lama Surabaya, kawasan yang selama ini identik dengan wisata sejarah namun belum seluruh sudutnya benar-benar hidup. Ia sempat mencari tahu mengapa kawasan tersebut terasa kurang aktif. Dari situ ia mengetahui Pemerintah Kota Surabaya tengah berupaya menghidupkan kembali Kota Lama.
“Nah, ketika kita tahu ternyata Kota Lama mau dihidupkan lagi, kita merasa tertarik banget. Kita juga pengen ikut support program itu,” ungkapnya. Bahkan, pada buku menu, pengunjung juga akan menemukan cerita singkat mengenai bangunan yang mereka tempati. “Ada bagian dari sejarah yang memang nggak bisa diganti. Kalau cuma diceritakan lewat foto atau media sosial itu kurang, orang harus datang dan merasakan sendiri suasananya,” tambahnya.
Konsep heritage yang diusung tidak berhenti pada desain ruang. Jejak kolonial juga diterjemahkan dalam menu-menu yang dihidangkan. Salah satunya Nasi Rijsttafel, sajian khas masa kolonial Belanda yang kini lebih akrab disebut nasi campur, serta Bitterballen, kroket daging sapi cincang dengan keju berpadu dengan rempah‑rempah. Selain itu ada zuppa sup, sup krim khas Belanda yang sederhana, mengingatkannya pada masakan rumahan semasa kecil. “Sekarang sudah jarang ada yang makan zuppa sup lagi. Padahal dulu mama saya masih sering bikin,” kata Steffi sambil tertawa.
Minuman‑minuman yang saat ini terdengar asing dan unik juga dihadirkan. Badak float, soda Badak atau Cap Badak ternyata sudah ada sejak puluhan tahun lalu dan bernilai historis.
Untuk pengunjung yang ingin menikmati sajian di 10 Regentstraat, disarankan melakukan reservasi terlebih dahulu. Hal tersebut dikarenakan antusiasme pengunjung disebut cukup tinggi di minggu pertama pembukaan. Restoran tersebut juga menyediakan tiga private room dengan kapasitas berbeda, mulai untuk 5 hingga 12 orang. Selain itu, tersedia pula area bar yang dapat digunakan pengunjung yang ingin menikmati suasana lebih santai, termasuk sebagai area smoking.
Steffi berharap restorannya tak hanya menjadi tempat makan, tetapi juga ikut menjadi bagian dari perjalanan panjang bangunan itu sendiri. Ia membayangkan, puluhan tahun mendatang, orang‑orang tetap akan mengenang tempat tersebut sebagai bagian dari sejarah Surabaya. “Dulu sekolahnya Pak Soekarno, lalu kantor pos, sekarang restoran. Nggak tahu nanti ke depannya jadi apa lagi. Tapi, semoga waktu kami yang menempati cagar budaya ini, kami bisa ikut menjaga dan melanjutkan ceritanya,” pungkasnya.
Dengan mempertahankan struktur asli dan menambahkan elemen modern yang minimal, 10 Regentstraat menjadi contoh bagaimana bangunan bersejarah dapat dihidupkan kembali melalui konsep kuliner. Restoran ini tidak hanya menawarkan rasa, tetapi juga pengalaman sejarah yang dapat dirasakan langsung oleh setiap pengunjung.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Persebaya Penasaran Ramadhan Sananta, Bebas Transfer
Cuaca Berawan Surabaya Hari Ini, Suhu 24-34°C Kelembapan
Surabaya Tampilkan Jadwal Sholat Lengkap 4 Juni 2026
Kebijakan Baru Pemerintah Mengurangi Plastik Sekali
Gudang Semen Terbakar di Nganjuk, Tidak Ada Korban Jiwa
Jadwal Sholat Jawa Timur 04 Juni 2026: Subuh Paling Awal
Berita Terbaru
Pria 65 Tahun di Klampok Lor Berhenti Hidup, Kembali Mati
Persebaya Penasaran Ramadhan Sananta, Bebas Transfer
Rasa Terbakar Dada: Penyebab Utama dan Tanda Peringatan
Minum 3‑4 Cangkir Kopi Bisa Perlambat Penuaan 5 Tahun
Empat Anakan Harimau Sumatra Lahir di Taman Safari Prigen
Operasi Patuh 2026: 14 Hari Tepatkan Lalu Lintas Nasional
Vlahovic Bebas: Arsenal Tertarik, Juventus Tak Berikan Kontrak
Fabiola Elizabeth Tersangka Penipuan Online Internasional
