23 April: Hari Buku Global, Rayakan Penulis Legendaris

Surya B. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 68 dibaca
Bisik.id
23 April: Hari Buku Global, Rayakan Penulis Legendaris

Gambar atau konten salah?

23 April adalah hari yang diperingati di seluruh dunia setiap tahun. Pada tanggal itu, orang-orang merayakan Hari Buku Global dengan tujuan mengajak lebih banyak orang untuk membaca, memberi dukungan pada industri penerbitan, dan menghormati hak cipta penulis.

Kenapa 23 April dipilih sebagai hari spesial ini? Pada tahun 1995, UNESCO menetapkan hari tersebut sebagai Hari Buku Sedunia. Tanggal ini dipilih karena banyak penulis terkenal yang meninggal pada hari itu, seperti William Shakespeare, Miguel de Cervantes, dan Vladimir Nabokov. Sehingga tanggal itu sudah memiliki makna khusus dalam dunia sastra.

Sejarah perayaan ini juga berakar pada tradisi di Katalonia, Spanyol. Di abad pertengahan, orang-orang merayakan Hari Saint George dengan memberi mawar kepada wanita yang mereka sukai. Pada tahun 1923, tradisi ini berubah menjadi penghormatan khusus kepada Miguel de Cervantes. Sejak saat itu, wanita mulai memberi buku sebagai balasan mawar. Pada masa itu, lebih dari 400.000 buku terjual dan dipertukarkan dengan jutaan mawar. Inspirasi dari tradisi ini menjadi dasar bagi UNESCO untuk menjadikan 23 April sebagai simbol penghormatan global bagi penulis, penerbit, dan pembaca.

Sering kali orang bingung antara tiga peringatan buku yang berbeda. Berikut perbedaannya agar tidak salah paham:

  • Hari Buku Sedunia (23 April) – Merayakan semua jenis buku dan hak cipta di tingkat global.
  • Hari Buku Anak Sedunia (2 April) – Fokus pada literasi anak-anak, memupuk kebiasaan membaca sejak dini.
  • Hari Buku Nasional (17 Mei) – Peringatan khusus di Indonesia, dipilih karena bertepatan dengan hari berdirinya gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada tahun 1980.

Setiap tahun, UNESCO tidak hanya memilih tanggal, tetapi juga satu kota di dunia yang diakui sebagai Ibu Kota Buku. Kota tersebut menjadi pusat kegiatan literasi dan promosi membaca. Gerakan ini menekankan pentingnya generasi muda. Anak-anak muda diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga menjadi penulis, pembaca, dan pemikir yang kritis.

Di Indonesia, kesadaran tentang Hari Buku Sedunia mulai tumbuh sejak tahun 2006. Gerakan ini diprakarsai oleh Forum Indonesia Membaca (FIM), sebuah organisasi yang berfokus pada membuka akses membaca bagi masyarakat. Sejak saat itu, minat membaca meningkat. Komunitas literasi, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), dan penerbit semakin aktif bekerja sama. Tujuannya sama: menjadikan buku sebagai teman setia bagi semua orang.

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca. Ia juga tentang bagaimana bangsa ini dapat menyerap informasi dengan bijak dan memanfaatkannya untuk kemajuan. Buku menjadi jendela ke dunia, dan melalui peringatan ini, kita diingatkan bahwa setiap halaman yang dibuka membawa kita lebih dekat pada kebangkitan intelektual.

Dengan semangat itu, banyak orang di Indonesia dan di luar negeri ikut merayakan Hari Buku Global dengan berbagai kegiatan: diskusi buku, lomba menulis, pameran karya, dan sesi baca bersama. Kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mempererat hubungan antar komunitas.

Kesadaran akan pentingnya membaca terus tumbuh. Setiap tahun, peringatan ini menjadi panggilan untuk memperjuangkan hak cipta, mendukung penerbitan, dan menumbuhkan kebiasaan membaca di semua kalangan. Dengan membaca, kita belajar lebih banyak, memperdalam rasa kemanusiaan, dan membantu bangsa maju.

Hari Buku GlobalUNESCOLiterasiHak CiptaPenerbitTaman Bacaan Masyarakat

Komentar

Memuat komentar...