9 Dari 10 Produk Makanan Kemasan Indonesia Tidak Sehat
Gambar atau konten salah?
Mayoritas produk makanan dan minuman kemasan di Indonesia belum sehat. 9 dari 10 produk mengandung gula, garam, atau lemak berlebih, dan sebagian besar memakai pemanis non‑gula yang berisiko bila dikonsumsi terus‑menerus.
Studi terbaru ini dilakukan oleh CISDI bersama CHeNECE di Universitas Airlangga. Peneliti mengumpulkan 8.077 sampel produk dari delapan supermarket dan minimarket di Jakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar.
Hasilnya cukup mengejutkan. 90 hingga 95 persen produk makanan kemasan dinilai tidak sehat menurut Model Profil Gizi berbasis bukti internasional.
Peneliti menilai bahwa maraknya peredaran makanan kemasan tidak sehat menunjukkan bahwa masalah malnutrisi—terutama obesitas dan penyakit tidak menular—bukan sekadar soal pilihan individu. Lingkungan pangan berperan besar karena sistematis mendorong konsumsi makanan tidak sehat.
“Temuan ini menegaskan masyarakat Indonesia hidup dalam lingkungan pangan yang telah didominasi produk tinggi gula, garam, dan lemak. Ini bukan lagi soal edukasi individu, tetapi soal desain sistem yang perlu diperbaiki,” ujar Muhammad Zulfiqar Firdaus, Health Economics Research Associate CISDI, dalam keterangannya, dikutip Kamis 30 April 2026.
Dalam studi ini, peneliti membandingkan berbagai Model Profil Gizi internasional, seperti Model WHO Asia Tenggara (SEARO), WHO Pan‑Amerika (PAHO), hingga model praktik terbaik yang menggabungkan kerangka SEARO, PAHO, dan WHO Afrika (AFRO), serta pembelajaran dari negara‑negara Amerika Latin seperti Meksiko dan Chile.
Di sisi lain, peneliti menyoroti ambang batas Nutri‑Level yang sedang dikembangkan di Indonesia. Hasilnya menunjukkan hanya sekitar 73 persen produk yang dikategorikan tidak sehat. Perbedaan ini dinilai cukup signifikan.
“Perbedaan ini menunjukkan bahwa ketepatan ambang batas sangat menentukan seberapa efektifnya suatu kebijakan. Jika terlalu longgar, banyak produk makanan tidak sehat yang tidak teridentifikasi,” kata Trias Mahmudiono, Direktur CHeNECE sekaligus Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga.
Studi ini menjadi pengingat bahwa upaya perbaikan pola konsumsi masyarakat tidak bisa hanya dibebankan pada individu. Dibutuhkan intervensi kebijakan yang lebih tegas untuk mengatur industri pangan.
Secara keseluruhan, data ini menyoroti bahwa lingkungan pangan di Indonesia masih didominasi produk tinggi gula, garam, dan lemak. Untuk mengurangi risiko kesehatan, perubahan sistem dan regulasi diperlukan, bukan sekadar edukasi pribadi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
