Aceh: 52 Sekolah Masih Belajar di Tenda Setelah Banjir
Gambar atau konten salah?
Banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Aceh sudah berlalu lebih dari enam bulan, namun masih banyak siswa yang harus belajar di bawah tenda setiap hari.
Data yang dirilis oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada Februari 2026 menunjukkan 52 sekolah masih belajar di tenda atau kelas darurat, sementara 20 sekolah menumpang di sekolah lain sementara. Sebaliknya, 3.001 sekolah telah kembali ke tempat asalnya.
Di Aceh Tengah, tercatat ada 12 sekolah yang masih belajar di tenda darurat. Sekolah-sekolah tersebut tersebar di Kecamatan Ketol, Bintang, dan Linge. Menurut Plt Kadis Pendidikan Aceh Tengah, Salimsyah, “Saat ini ada beberapa sekolah masih belajar di tenda darurat, yaitu sekitar 12 sekolah.”
Salimsyah menjelaskan bahwa di beberapa wilayah Aceh Tengah, kondisi sekolah tidak dapat dipakai sama sekali untuk proses belajar mengajar. Setelah bencana, rata‑rata sekolah memiliki pembatas sungai yang melebar sehingga berbahaya bagi anak-anak untuk melintasinya. Untuk menghindari melintasi sungai, pemerintah daerah membangun tempat darurat di dua lokasi: pertama di sekolah asal, kedua di tenda darurat. “Ada inisiatif pemerintah daerah membangun dua tempat, pertama, sekolah asal; kedua, ada tempat yang bisa dimanfaatkan di tenda. Ada beberapa titik seperti itu, Ketol, Bintang, dan Linge,” jelasnya.
Selama menunggu pembangunan sekolah permanen, ruang‑ruang belajar darurat terus diupayakan. Salimsyah menegaskan, “Kita harapkan dalam waktu dekat bisa dihadirkan ruang belajar darurat, apakah di rumah atau sekolah berdekatan. Yang jelas, ini terus kita usahakan secepat mungkin demi menghadirkan pendidikan yang nyaman untuk anak-anak kita.”
Di Aceh Barat, proses belajar di tenda darurat juga masih berlangsung. Pada 5 Juni 2026, SDN Alue Lhok mengikuti ujian di tenda darurat di Desa Jambak, Kecamatan Pante Ceureumen. Beberapa siswa mengangkat meja sendiri untuk mengikuti ujian. Sekolah menggunakan tenda karena keterbatasan ruang kelas dan fasilitas sekolah yang rusak akibat bencana hidrometeorologi akhir November 2025.
Lokasi tenda berada di depan sekolah yang rusak dan hanya beberapa meter dari bibir sungai. Kondisi ini menambah risiko bagi para siswa yang harus menempuh perjalanan singkat namun berbahaya setiap hari.
Secara keseluruhan, dampak banjir dan longsor masih terasa pada sistem pendidikan di Aceh. Pemerintah terus berusaha menyediakan ruang belajar darurat sementara, meski kondisi masih menantang. Upaya ini diharapkan dapat mempercepat kembalinya pendidikan yang nyaman bagi anak‑anak di wilayah tersebut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Natieva Kids: Les Bahasa Inggris, Pilih Guru, Tanpa Jadwal
Pelatihan SKKNI Level 4 Online, 2 Hari, Rp3,5 Juta
AI Tak Selamatkan Kesenjangan Digital, Penelitian Triastuti
Buka Pendaftaran Bantuan Laboratorium IPA SMA Tahun Ajaran 2026
BOSP Tahap 2 2026: Sekolah Penuhi Syarat 20–30 Juni Juli
Chandra Asri dan UNTIRTA Luncurkan Program Jejak Asri
Berita Terbaru
Pelantikan Forum HRD Muba, Perlindungan 1.000 Pekerja Rentan
Umat Katolik Renungkan Hati Tersuci Maria pada 13 Juni 2026
BBM Non-Subsidi Indonesia Naik, Tetap Murah di Asia Tenggara
Sumur Puter di Kudus, Mitra Barang Hilang? Belum Ada Bukti
SpaceX IPO Jadikan Elon Musk Triliuner Pertama di Dunia
444 Jemaah Bangka Belitung Selamat Tiba di Palembang
Diana Favorit: Eggs Suzette, Hidangan Sederhana Kerajaan
Balai TNGR Tegaskan Aturan Pendakian Gunung Rinjani