Ahwar Driver Ojol 24 Jam Live TikTok Bantu Pedagang Surabaya

Sinta R. · 5 min baca · 1 bulan lalu · 84 dibaca
Bisik.id
Ahwar Driver Ojol 24 Jam Live TikTok Bantu Pedagang Surabaya

Gambar atau konten salah?

Surabaya – Di tengah persaingan pedagang kecil yang kesulitan menarik pelanggan, seorang driver ojek online bernama Ahwaruddin (39) menemukan cara tak biasa untuk membantu mereka. Ia memutuskan memanfaatkan live streaming di TikTok hampir 24 jam sehari, sehingga dagangan para pedagang laris manis, bahkan sampai diborong oleh pembeli dari luar negeri.

Ahwar, yang sering disebut Mas Ojol, memulai aktivitas ini pada tahun 2023. Ia mengisi sela-sela mencari orderan dengan melakukan siaran langsung di akun pribadinya @MAzz.ojol.sby. Melalui live, ia menjadi perantara antara pedagang kecil di jalanan dan pembeli dari berbagai daerah, termasuk luar negeri.

“Awalnya karena kasihan lihat orang tua jualan di pinggir jalan, tapi sepi. Mau saya borong semua, saya juga nggak mampu. Akhirnya saya coba live, biar penonton yang beli dan rupanya viewers saya pada loyal,” ujar pria asal Gresik itu pada 1 Mei 2026.

Ia mengamati bahwa pedagang, terutama lansia, seringkali sepi pelanggan karena hanya menetap di satu titik. “Kalau gitu kan yang lewat di jalanan ya orang itu‑itu saja, tapi kalau mau pindah‑pindah kan juga susah, faktor umur. Makannya saya pikir gimana caranya biar bisa menjangkau pelanggan lebih luas,” ujarnya.

Meski demikian, Ahwar tetap memilih lokasi live di pinggir jalan agar tidak menutup kemungkinan pembeli offline. Langkah sederhana ini ternyata membawa hasil besar. Konten pertamanya, yang memperlihatkan dirinya membeli dagangan pedagang tua, menjadi viral. Dari situ, ia mengembangkan konsep live streaming sebagai jembatan antara penjual dan pembeli.

Hari ini, ia hampir tidak pernah berhenti. Dalam satu hari, Ahwar bisa melakukan hingga empat sesi live di lokasi berbeda. Pagi dimulai pukul 06.00 hingga 09.00, kemudian sesi kedua pukul 10.00 hingga sekitar 14.00. Setelah jeda, ia kembali live usai magrib hingga pukul 20.00, lalu dilanjutkan lagi pukul 22.00 hingga dini hari. “Kurang lebih empat kali live sehari. Jadi hampir 24 jam,” katanya sambil tertawa.

Lokasi live pun berpindah‑pindah, mulai dari Ketintang, Menanggal, Gunungsari, Siwalankerto, hingga Sedati, Sidoarjo. Kini, sebanyak kurang lebih 50 pedagang yang dibantu pun sudah dijadwalkan, agar merata. Mayoritas yang ia bantu adalah lansia berusia 70 tahun ke atas. Bahkan, ada yang mencapai usia 80 tahun. “Mereka tetap jualan karena kebutuhan. Ada yang anaknya sudah berkeluarga sendiri, ada juga yang memang tidak punya anak,” jelasnya.

Dalam setiap sesi live, penonton bisa langsung membeli dagangan pedagang tersebut melalui sistem transfer. Makanan yang dibeli biasanya kemudian dibagikan kembali kepada masyarakat sekitar, warga membutuhkan, atau pengguna jalan. Konsep ini tak hanya melariskan dagangan, tapi juga menghadirkan nilai berbagi.

Menariknya, pembeli tak hanya datang dari dalam negeri. Banyak penonton dari Malaysia, Taiwan, hingga Singapura ikut memborong dagangan. “Kalau Malaysia itu sering banget borong. Bahkan pernah, selain diborong, pedagangnya dikasih tambahan satu juta per orang,” ungkapnya.

Ahwar menjelaskan bahwa sistem gift bernilai jutaan itu kerap kali disukai oleh para sultan (donatur). Selain karena live streamingnya yang tak sekadar berjualan tetapi juga menghibur, sultan‑sultan ini juga mengejar peringkat atau bahkan popularitas melalui sistem ranking badge di TikTok. Oleh karena itu, sistem gift di TikTok pun dimanfaatkan. Setiap gift yang masuk akan dikonversi menjadi uang dan dibelikan kembali ke dagangan pedagang yang sedang live. “Kan semua uang pembeli atau donatur itu masuk ke rekening saya. Jadi setelah live itu, saya tarik tunai lalu diberikan kepedagang tersebut,” terangnya.

Ia mengaku bahwa dirinya tidak pernah mengambil sekecil apa pun penghasilan yang ia terima saat live baik tujuannya untuk membeli dagangan atau sekadar bersedekah kepada para pedagang. Ahwar mengatakan bahwa uang tersebut adalah amanah sekaligus kepercayaan yang ia jaga. “Makannya di setiap transfer yang masuk, saya langsung sebutkan di live dan menyiapkan total pesanan sebesar jumlah transfer,” terangnya.

Meskipun demikian, Ahwar mengatakan tak jarang pula viewers juga memberinya uang untuk dirinya pribadi. “Kadang mereka kasih ke saya pribadi, sebagai bentuk terima kasih dan dukungan,” katanya.

Selain melalui live TikTok, upayanya untuk membantu pedagang kecil dilakukan melalui konten‑konten hariannya. Hal tersebut dikarenakan, terkadang donatur sengaja menitipkan pesan untuk memborong dagangan di suatu pedagang tertentu atau memberikannya sebagai sedekah. “Seperti nitip gitu ya. Misalnya mereka minta uang itu untuk dibelanjakan nasi bungkus lalu dibagi‑bagikan ke warga kurang mampu,” katanya.

Dengan demikian, Ahwar kini lebih berfokus untuk menjadi content creator dibandingkan menjadi driver ojol. “Sekarang saya lebih sering ngonten, apalagi di Facebook Pro. Tapi meskipun ini akun kedua saya di TikTok, mereka dari awal kenal saya sebagai Mas Ojol,” katanya.

Perjalanan ini tak selalu berjalan mulus, tetapi juga kerap kali menghadapi tantangan, salah satunya cuaca. “Kalau hujan, kita harus cari tempat berteduh. Kadang juga pernah lama nggak ada yang beli, kasihan pedagangnya. Tapi alhamdulillah, selama ini selalu habis,” katanya.

Lebih dari sekadar konten, Ahwar berharap apa yang ia lakukan bisa menginspirasi pelaku UMKM lain untuk melek digital. Menurutnya, mengandalkan pembeli offline saja kini semakin sulit. “Kalau cuma nunggu orang lewat, susah. Tapi kalau live, yang lihat bisa dari seluruh Indonesia bahkan luar negeri,” ujarnya.

Ia pun mulai mengajarkan para pedagang untuk live sendiri. Hasilnya mulai terlihat. Beberapa pedagang pecel yang ada di Jalan Dukuh Menanggal III yang dulu dibantunya kini sudah mandiri, bahkan dagangannya habis lebih cepat. “Dulu pulangnya jam tiga sore, sekarang jam 10 pagi sudah habis. Bahkan ada yang sekarang motornya sudah ganti baru,” ceritanya.

Tak sedikit pula mereka yang pernah dibantu Ahwar melalui livenya kini melakukan live serupa. Bahkan kini, Ahwar dibantu oleh Nuzulul Alfan (30), salah satu pedagang yang kini membantunya bergantian menjadi host live di akun yang sama. Begitu pula dengan pedagang es wawan, Ahmad (68) sudah mengikuti live Ahwar selama dua tahun. Ia mengatakan bawa dirinya sangat terbantu dengan live tersebut. Ahmad menyebut dirinya bisa membawa dagangan dua kali lipat dari biasanya. Jika pada hari biasa di luar jadwal live dengan Ahmad ia hanya membawa dua dus es wawan, saat live ia menjajakan empat dus sekaligus. “Dulu jualan di Masjid Agung, pagi sore, terus ketemu Mas Ojol. Meski yang namanya berdagang itu nggak mesti, tapi sangat terbantu. Banyak dagangan saya yang terjual, bahkan sampai habis,” katanya.

Ke depan, Ahwar berharap pemerintah bisa ikut turun tangan, terutama dalam memberikan edukasi digital kepada UMKM. “Kalau bisa difasilitasi, diajari soal live atau media sosial, itu sangat membantu. Biar mereka nggak bergantung terus dengan ketidakpastian, tapi bisa mandiri dan mengikuti zaman,” pungkas Ahwar.

Dengan menghubungkan pedagang kecil ke pasar online melalui siaran langsung, Ahwar menunjukkan bahwa solusi sederhana dapat membawa perubahan. Ia tetap menjaga kepercayaan dan amanah, menyalurkan setiap transaksi langsung ke pedagang. Sementara itu, para pedagang belajar memanfaatkan platform digital, memperluas jangkauan pasar, dan meningkatkan pendapatan. Inisiatif ini menegaskan pentingnya adaptasi teknologi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di era digital.

Live streamingTikTokPedagang kecilUMKMDriver ojekDonasiPasar onlineDigitalisasi

Komentar

Memuat komentar...