Apakah Boleh Makan Sebelum Shalat Idul Adha? Panduan Praktis

Guntur P. · 3 min baca · 9 hari lalu · 60 dibaca
Bisik.id
Apakah Boleh Makan Sebelum Shalat Idul Adha? Panduan Praktis

Gambar atau konten salah?

Di akhir bulan puasa, banyak umat Islam yang memikirkan bagaimana menata amalan sebelum melaksanakan shalat Idul Adha. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah apakah benar tidak boleh makan sebelum shalat Idul Adha, atau justru boleh. Jawabannya tidak bersifat mutlak; ia bergantung pada apakah seseorang akan berkurban atau tidak.

Perbedaan utama terletak pada dua perayaan Idul: Idul Fitri dan Idul Adha. Pada Idul Fitri, umat dianjurkan untuk makan terlebih dahulu sebelum pergi ke masjid. Namun pada Idul Adha, Nabi Muhammad SAW menunjukkan contoh berbeda: beliau tidak makan sampai selesai shalat, lalu baru menyantap hasil kurbannya. “Rasulullah SAW biasa berangkat sholat Id pada hari Idul Fitri dan ia makan terlebih dahulu, sedangkan pada hari Idul Adha, ia tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari sholat Id, lalu ia menyantap hasil kurbannya.” (HR Ahmad, 5:352. Syaikh Syu'aib Al-Arnauth menyatakan hadits ini hasan)

Hadits tersebut menegaskan bahwa ada sunah berbeda bagi dua Idul. Sunah Idul Fitri mengharuskan makan sebelum shalat, sedangkan sunah Idul Adha menuntut menunda makan hingga setelah shalat. “Sunah sholat Idul Fitri adalah makan sebelum mengerjakannya, sedangkan sunah sholat Idul Adha adalah tidak makan sebelum menunaikannya.” (Minhaaj Ath-Thalibin, 1:300)

Para ulama menafsirkan hadits ini dengan cara yang serupa. Mayoritas menganggap bahwa bagi orang yang berniat berkurban, menunda makan hingga selesai shalat adalah sunnah yang harus diikuti. Tujuannya agar makanan pertama yang disantap berasal dari hewan kurban yang disembelih. Imam Nawawi menjelaskan hal ini dalam karya Minhaaj Ath-Thalibin, dan Imam Al-'Amrani menegaskan dalam Al-Bayaan bahwa makan sebelum Idul Fitri adalah mustahab, sedangkan pada Idul Adha dianjurkan menunggu hingga shalat selesai.

Bagi yang tidak berkurban, pandangan mayoritas ulama tetap menyarankan menunda makan sebelum shalat Idul Adha. Namun, mazhab Hambali memberikan pandangan yang lebih longgar. Menurut ulama Hambali, orang yang tidak memiliki hewan kurban dibolehkan makan sebelum shalat Idul Adha. “Saat Idul Adha dianjurkan tidak makan hingga kembali dan memakan hasil sembelihan kurban. Jika seseorang tidak memiliki kurban, maka tidak mengapa jika ia makan terlebih dahulu sebelum shalat Id.” (Al-Mughni, 2:228)

Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla menambahkan bahwa jika seseorang makan pada hari Idul Adha sebelum shalat, maka tidak mengapa. Namun, menahan makan hingga dapat memakan daging kurban dianggap lebih baik. Ia juga menegaskan bahwa berpuasa pada hari Idul, baik Fitri maupun Adha, tidak diperbolehkan. “Jika seseorang makan pada hari Idul Adha sebelum berangkat sholat Id, maka tidak mengapa. Jika ia menahan makan hingga bisa makan dari sembelihan kurbannya, maka itu lebih baik. Dan, tidak diperbolehkan berpuasa pada hari Id, baik Idul Fitri maupun Idul Adha.” (Al-Muhalla, 5:89)

Alasan di balik anjuran menunda makan sebelum shalat Idul Adha juga dapat dilihat dari dalil lain. Ibnu Qudamah menjelaskan bahwa karena di Idul Adha disyariatkan menyembelih kurban dan makan darinya, maka disunahkan berbuka dengan sesuatu dari hasil sembelihan tersebut. “Pada hari Idul Adha disyariatkan untuk menyembelih kurban dan makan darinya, maka disunahkan berbuka dengan sesuatu dari hasil sembelihan tersebut.” (Al-Mughni, 2:228)

Dengan demikian, makan sebelum shalat Idul Adha tidak dilarang atau menghilangkan ibadah. Tidak ada larangan mutlak atau dosa bagi yang sarapan sebelum shalat Id. Namun, menunda makan hingga selesai shalat tetap lebih dianjurkan, khususnya bagi yang berkurban. Amalan ini mencerminkan mengikuti kebiasaan Nabi Muhammad SAW dan memastikan bahwa daging kurban menjadi makanan pertama setelah ibadah selesai.

Perbedaan ini juga menjadi pembeda antara Idul Fitri dan Idul Adha. Idul Fitri menandai akhir puasa Ramadan, sehingga makan sebelum shalat dianggap sebagai berbuka. Sedangkan Idul Adha menandai hari pengorbanan, sehingga menunda makan hingga setelah shalat menegaskan makna pengorbanan dan kepatuhan terhadap sunnah.

Secara praktis, bagi yang tidak berkurban, makan sebelum shalat Idul Adha tetap diperbolehkan. Namun, menunggu hingga selesai shalat tetap menjadi pilihan yang lebih baik jika ingin mengikuti sunnah Nabi. Hal ini tidak mengurangi keabsahan shalat atau ibadah lainnya.

Dengan pemahaman ini, umat dapat menyesuaikan amalan mereka sesuai dengan kondisi dan niat. Menunda makan sebelum shalat Idul Adha tidak menambah beban, melainkan memperkaya pengalaman spiritual dengan mengikuti contoh Nabi. Di akhir hari, yang terpenting adalah melaksanakan shalat Idul Adha dengan khusyuk dan memanfaatkan hasil kurban sebagai sarana berbagi dan bersyukur.

Idul AdhaIdul Fitrisunnahkurbanshalatmakan sebelum shalatulamamazhab Hambali

Komentar

Memuat komentar...