APBN 2026 Defisit Rp 240,1 Triliun, 0,93% PDB Indonesia
Gambar atau konten salah?
Pada 6 April 2026, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per 31 Maret 2026 akan mencatat defisit sebesar Rp 240,1 triliun.
Defisit ini setara dengan 0,93 % terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Realisasi pendapatan negara sampai 31 Maret 2026 mencapai Rp 574,9 triliun, naik 10,5 % dibanding tahun sebelumnya, sementara belanja negara terealisasi sebesar Rp 815 triliun, meningkat 31,4 % yoy.
“Dengan demikian defisit APBN sebesar Rp 240,1 triliun atau 0,93% terhadap PDB. Ketika ada defisit, masyarakat atau bapak ibu jangan kaget karena memang anggaran kita didesain defisit,” kata Purbaya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI.
Pendapatan negara berasal dari penerimaan pajak Rp 394,8 triliun (naik 20,7 %), kepabeanan dan cukai Rp 67,9 triliun (turun 12,6 %) dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp 112,1 triliun (turun 3 %).
Belanja negara terdiri dari belanja pemerintah pusat Rp 610,3 triliun (naik 47,7 %) dan transfer ke daerah Rp 204,8 triliun (turun 1,1 %).
“Belanja negara lebih cepat tumbuh tinggi 31,4% yoy, jauh lebih tinggi dari tahun lalu yang tumbuhnya 1,4% yoy. Kalau orang bertanya kenapa sekarang lebih cepat? Karena memang kita maunya begitu, kita ingin sekali belanjanya bisa dibelanjakan hampir merata sepanjang tahun sehingga dampak ekonominya lebih signifikan dirasakan sepanjang tahun,” jelas Purbaya.
“Jadi strategi kita ini mulai berhasil, harusnya dampak ke ekonomi juga lebih bagus,” tambahnya.
Anggaran negara menunjukkan defisit yang terukur, namun pemerintah menekankan bahwa strategi belanja merata diharapkan memberi dampak ekonomi yang lebih luas sepanjang tahun.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BEI: Standalone Market Bukan Kategori Terendah MSCI
IHSG Anjlok 10,76%, Rupiah Tembus 18.000 Usai MSCI Umumkan Downgrade
BEI Kaget MSCI Umumkan Potensi Status Baru Lebih Cepat dari Jadwal
IHSG Melemah, Investor Asing Jual Rp 2,92 Triliun
Menkeu: Riset Jerman Buktikan MSCI Tak Selalu Benar
Airlangga Kaget MSCI Umumkan Lebih Cepat soal Status Pasar Modal RI
