Bakteri Thermus javaensis Temukan Dari Geiser Cisolok
Gambar atau konten salah?
Thermus javaensis, bakteri termofilik yang ditemukan di geiser Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat, telah dipublikasikan dalam Journal of Systematic and Evolutionary Microbiology pada 2026. Penemuan ini menandai langkah penting bagi pengembangan bioteknologi ekstrem di Indonesia.
Geiser Cisolok, satu-satunya geiser di Indonesia dengan suhu mencapai 100 derajat Celsius, menjadi sumber bakteri ini. Bakteri ini mampu bertahan pada suhu tinggi, menjadikannya kandidat potensial untuk berbagai aplikasi industri.
“Jadi bakteri Thermus javaensis ini adalah bakteri termofilik ya, yang tahan hidup pada suhu yang tinggi. Jadi bakteri ini di tempat namanya di geiser yang suhunya itu mencapai 100 derajat. Dan ini adalah geiser satu-satunya di Indonesia yang memiliki suhu panas itu,” ujar Prof Dra Wellyzar Sjamsuridzal, M.Sc, PhD saat dihadiri pertemuan ilmiah.
Tim peneliti memulai studi di geiser Cisolok sekitar 12 tahun lalu. Proses isolasi bakteri dilakukan pada 2015, namun pengembangan kultur memerlukan waktu lebih lama karena kondisi ekstrem yang harus dipenuhi.
Pengisolasi bakteri tidak mudah. Suhu optimal bakteri ini berada di sekitar 65 derajat Celsius, sehingga memerlukan inkubator khusus. Selain itu, media agar yang biasa digunakan akan meleleh pada suhu tersebut, sehingga tim harus merancang media khusus agar bakteri dapat tumbuh di laboratorium.
“Jadi kami mengisolasi bakterinya tahun 2015, kemudian proses, kebetulan isolasinya cukup sulit juga karena bakteri ini suhu optimalnya itu 65 derajat. Jadi membutuhkan inkubator yang bisa pada suhu yang tinggi,” tambah Prof Wellyzar.
“Dan kesulitannya adalah pada suhu sekian, 65 derajat itu medium agar biasanya meleleh. Karena itu kami membutuhkan medium khusus untuk menemukan bakteri ini agar bisa hidup di dalam laboratorium pada suhu 65 derajat,” lanjutnya.
Potensi terbesar bakteri ini terletak pada enzim yang dihasilkannya. Enzim-enzim tersebut tetap stabil meski berada pada suhu tinggi, menjadikannya berguna dalam proses industri yang memerlukan kondisi panas.
“Jadi seperti enzim-enzim karbohidrase yang sangat tertinggi di industri, itu bisa dihasilkan oleh bakteri ini,” jelas Prof Wellyzar.
Karbohidrase, kelompok enzim yang memecah karbohidrat kompleks menjadi senyawa sederhana, banyak dimanfaatkan dalam industri pangan dan fermentasi. Dengan enzim ini, bakteri dapat membantu proses produksi makanan dan minuman.
Selain industri pangan, bakteri ini juga memiliki peluang di bidang kesehatan, industri, dan lingkungan. “Industri pangan, kesehatan, atau industri dan lingkungan, iya,” ujar Prof Wellyzar.
Di luar negeri, bakteri Thermus telah dimanfaatkan dalam produk kosmetik, khususnya anti‑aging. Kemampuan bakteri ini untuk bertahan pada suhu tinggi juga dapat meningkatkan kolagen pada kulit, membuka peluang bagi industri kecantikan.
“Kemudian kalau di luar negeri, spesies dari Thermus itu digunakan untuk anti-aging, dan dia juga bisa, karena bakterinya bisa panas, dia juga bisa mem-boosting kolagen dalam kulit,” kata Prof Wellyzar.
“Jadi ini ke depannya bisa juga dimanfaatkan dari sisi industri kosmetik juga,” tambahnya.
Bakteri ini juga menghasilkan berbagai enzim degradasi polimer, seperti amilase, kitinase, silahase, dan enzim lainnya. Enzim-enzim ini dapat memecah polimer yang sulit terurai, berpotensi membantu pengelolaan limbah industri.
“Enzimnya itu, dia bisa menghasilkan berbagai macam enzim, seperti amilase, kitinase, silahase, enzim-enzim yang memang didegradasi, berbagai macam polimer, yang selama ini sulit didegradasi,” ujarnya.
Teknologi PCR, yang sangat populer dalam penelitian genetika, juga menggunakan enzim Taq DNA polymerase yang berasal dari bakteri Thermus. Contoh klasik adalah Thermus aquaticus yang diisolasi di Yellowstone Hot Springs, Amerika.
“Jadi mungkin kita ingat, kita tahu ya, bahwa enzim Taq DNA polymerase yang digunakan untuk PCR, itu berasal dari Thermus. Dan Thermus itu Thermus aquaticus yang diisolasi di Yellowstone Hot Springs di Amerika,” jelas Prof Wellyzar.
Menetapkan bakteri sebagai spesies baru memerlukan proses panjang. Peneliti harus melakukan karakterisasi biologi, fisiologi, biokimia, serta analisis genetik dan genom.
“Di Indonesia sebenarnya Thermus itu banyak, hanya mungkin yang bisa mengkarakterisasi dan membuktikan itu adalah spesies baru, itu yang jarang ya, karena spesies baru kita membutuhkan karakterisasi sifat biologi, fisiologi, biokimia, kemudian mengungkap karakter genetiknya, mengungkap genomnya, itu butuh waktu,” ujar Prof Wellyzar.
Timnya menghabiskan sekitar dua tahun untuk mengumpulkan data penelitian. Meskipun prosesnya menantang, hasilnya membuka peluang baru bagi riset dan industri berbasis mikroorganisme ekstrem di tanah air.
Secara keseluruhan, penemuan Thermus javaensis menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi mikroorganisme ekstrem yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan industri, kesehatan, lingkungan, dan kosmetik. Penelitian ini juga menandai langkah awal menuju pengembangan bioteknologi yang lebih berkelanjutan dan inovatif di wilayah ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
