Bandung Regency: Banjir, Sampah, dan Kemiskinan Tetap Rumit
Gambar atau konten salah?
Bandung Regency telah berusia 385 tahun sejak didirikan pada 20 April 1641. Sebagai wilayah induk, daerah ini telah menjadi sumber bagi berbagai kawasan penting, termasuk Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Bandung Barat. Sejak masa kolonial, Bandung telah menjadi pusat perkembangan peradaban di Jawa Barat.
Meskipun memiliki sejarah panjang, Bandung Regency masih menghadapi banyak pekerjaan rumah. Wilayah yang terdiri dari 31 kecamatan terus bergulat dengan persoalan klasik: kemiskinan, banjir, sampah, dan infrastruktur. Masalah kemiskinan dan rumah tidak layak huni (rutilahu) tetap menjadi tantangan nyata. Di sisi lain, kemacetan sering terjadi, terutama di perbatasan antara Kabupaten dan Kota Bandung, mencerminkan tekanan urbanisasi yang terus meningkat tanpa penataan yang optimal.
Masalah sampah belum teratasi sepenuhnya. Tumpukan sampah masih sering terlihat di jalan protokol maupun di Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Meskipun sempat dilakukan aksi pembersihan serentak, fenomena penumpukan sampah kerap kembali terulang. Sementara itu, banjir masih menjadi persoalan tahunan yang belum menemukan solusi permanen. Beberapa wilayah seperti Kecamatan Bojongsoang, Dayeuhkolot, dan Baleendah telah lama menjadi korban banjir. Baru-baru ini, genangan meluas hingga ke Solokan Jeruk dan Majalaya.
“Kalau kita lihat posisi Bandung, kalimat Bandung itu kan kalimat dari ‘bendungan’. Nah, tentu kondisi dan situasi yang saat ini memang tidak bisa dipungkiri bahwa Kabupaten Bandung adalah salah satu daerah yang memang setiap tahun atau setiap musim hujan ini tentunya banjir ya,” ujar Dadang, saat ditemui di Lapangan Upakarti, Soreang, Senin 20 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa upaya penanganan banjir telah dilakukan secara kolaboratif oleh berbagai pihak. Program dari pemerintah pusat, seperti Citarum Harum, juga disebut telah berkontribusi dalam mengurangi luas wilayah terdampak banjir. “Tentunya ini terus berjalan dan berlanjut, yang tadinya 4.000 hektar saat ini kan tinggal menyisakan sekitar 1.500 hektar-an lagi. Nah, tetapi karena sedimentasi ini meningkat, tidak ada maintenance atau pemeliharaan, sehingga banjir terjadi kembali,” katanya.
Menurutnya, durasi banjir yang sebelumnya bisa berlangsung hingga satu bulan sempat berhasil ditekan menjadi hanya dua hari pada 2025. Namun, kondisi terbaru menunjukkan genangan kembali meluas dan bertahan lebih lama akibat faktor cuaca. “Nah, kenapa kali ini bisa melonjak lagi satu minggu atau dua minggu? Pertama curah hujan tinggi dan sebagainya. Ini tentu terima kasih kepada seluruh warga Kabupaten Bandung yang sudah peduli. Tentu ini PR kita bersama,” jelasnya.
Selain banjir, persoalan sampah juga menjadi perhatian serius. Saat ini, timbulan sampah di Kabupaten Bandung mencapai sekitar 1.800 ton per hari. Pemerintah daerah mengklaim telah melakukan berbagai langkah penanganan. “Kami telah melakukan berbagai langkah, yakni Optimalisasi TPST dan TPS3R, Program zero waste, pengembangan RDF. Untuk urusan sampah, setelah saya kaji dan sebagainya, insya Allah kita punya terobosan inovasi dan telah penandatangan dengan Menteri Lingkungan Hidup terkait pengolahan sampah menjadi energi listrik atau Psel,” ungkapnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Dadang menyebut sejumlah indikator makro menunjukkan tren positif. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada 2025 tercatat meningkat menjadi 75,58 poin dari sebelumnya 74,59 poin. Tingkat kemiskinan turun menjadi 6,04 persen, dan kemiskinan ekstrem turun menjadi 0,5 persen. Laju pertumbuhan ekonomi mencapai 6,32 persen, meningkat dari 5,04 persen.
Untuk infrastruktur, perbaikan jalan disebut telah mencapai 65 persen, dengan target meningkat menjadi 74 persen pada 2026. Sementara itu, program rutilahu pada 2025 telah merealisasikan perbaikan sebanyak 3.489 unit dan akan terus dilanjutkan. Di bidang pendidikan, pembangunan sekolah baru telah terealisasi 24 dari target 27 unit.
Dadang juga menilai pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bandung terus mengalami peningkatan signifikan dalam dua tahun terakhir. “Ini menurut sejarah ini peningkatan yang sangat luar biasa. Untuk meningkat satu digit ini luar biasa. Nah, artinya kenapa ini bisa meningkat? Karena sirkular ekonomi mengikuti programnya Pak Presiden diselaraskan dengan kerja nyata di lapangan,” tuturnya.
Meskipun demikian, ia mengakui masih banyak hal yang perlu diperbaiki. Ia menegaskan komitmennya untuk terus turun langsung ke lapangan guna memastikan berbagai permasalahan masyarakat dapat ditangani secara bertahap. “Ini membuktikan kita jangan terpengaruh dan akhirnya tidak bekerja. Kritik untuk membangun saya welcome ya, dan saya siap untuk dikritisi tentunya untuk perbaikan,” pungkasnya.
Bandung Regency, dengan sejarahnya yang panjang, terus berusaha mengatasi tantangan sosial dan lingkungan. Meskipun sudah ada kemajuan di bidang pembangunan manusia, ekonomi, dan infrastruktur, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Upaya kolaboratif, penataan wilayah, dan inovasi pengelolaan sampah menjadi kunci untuk mencapai perbaikan berkelanjutan di daerah ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026