Banjir Rob Marmerendam Jalan Margomulyo, Lalu Lintas Lumpuh
Gambar atau konten salah?
Pada Rabu (22 April 2026) siang hari, banjir rob merendam Jalan Margomulyo di Surabaya. Air laut menembus hingga menutupi jalur utama, sehingga lalu lintas di Jalan Tandes Lor sempat lumpuh total.
Menurut pengamatan di lapangan, banjir mulai surut pada pukul 16.00 WIB. Namun, arus lalu lintas dari arah Jalan Tandes Lor masih terlihat padat. Saat memasuki Jalan Margomulyo, kondisi semakin parah; kendaraan roda dua hampir tidak bisa bergerak karena volume kendaraan meningkat.
Di tengah situasi, beberapa orang tampak mengarahkan pengendara untuk berlawanan arah sebelum benar-benar terjebak di kemacetan. Sementara itu, pengendara yang sudah masuk ke jalur utama diimbau untuk melanjutkan perjalanan dengan sabar.
Menurut Kanit PJR Jatim 3, AKP Imam SR mengonfirmasi bahwa kemacetan parah mulai dari exit tol yang mengarah ke Kalianak. Ia menegaskan, "Iya kemacetan exit tol mengarah ke Kalianak dampak dari volume dan curah hujan tinggi, serta banjir rob," ketika dikonfirmasi pada hari tersebut.
Imam juga menekankan pentingnya kerja sama pengendara di lapangan agar situasi tidak semakin semrawut. Ia mengimbau, "Kita imbau untuk hindari jalur arah Margomulyo. Jika lewat tol, bisa alternatif turun di Romokalisari. Kalau lewat jalan arteri, bisa melalui Tambak Mayor, Tanjung Sari, Tandes, atau Pakal. Namun apabila memaksa lewat Margomulyo mohon bersabar, ikuti arahan petugas di lapangan,".
Ketinggian genangan air di titik terparah dilaporkan mencapai 25 hingga 50 cm, membuat aktivitas di kawasan industri Margomulyo lumpuh sementara. Hingga pukul 16.35 WIB, antrean kendaraan masih mengular meski beberapa kubangan air sudah mulai surut di beberapa titik. Imam mengungkapkan, "Sekarang sudah mulai surut, semoga segera normal kembali,".
Selain di Margomulyo, beberapa kawasan di Surabaya seperti Jalan Kalimas dan daerah pesisir lainnya juga terendam oleh banjir rob. Koordinator Observasi dan Informasi BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya menyebut, "Adanya fase bulan baru dan perigee yang berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum. Sehingga aktivitas-aktivitas bongkar muat, tambak garam, dan perikanan darat berpotensi terhambat,".
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana kondisi tidal dapat mengganggu lalu lintas jalan raya dan aktivitas industri. Kebutuhan akan perencanaan lalu lintas dan penanggulangan banjir menjadi lebih jelas, menyoroti pentingnya koordinasi antar pihak terkait untuk menjaga kelancaran mobilitas di wilayah pesisir.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026