BBM Naik, PTP Nonpetikemas Terus Naik Volume Bongkar

Ratna D. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 88 dibaca
Bisik.id
BBM Naik, PTP Nonpetikemas Terus Naik Volume Bongkar

Gambar atau konten salah?

Dwi Rahmad Toto, Direktur Komersial & Pengembangan Usaha PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas), mengungkapkan bahwa kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mulai menekan biaya operasional perusahaan. Ia menegaskan bahwa alat berat yang digunakan masih menggunakan BBM, sehingga dampak kenaikan harga terasa langsung.

“(Konflik) Iran, Israel, dan Amerika ini tidak terlalu signifikan sebetulnya ya. Tapi ini mulai terasa nih, karena dampaknya BBM mulai naik ya. Operasional cost kita meningkat. BBM yang tadinya di bawah ini itu sudah dua kali lipat,” ujarnya pada acara Port Visit PTP Nonpetikemas Cabang Tanjung Priok, 29 April 2026.

Ketika ditanya apakah kenaikan harga BBM mempengaruhi keuangan perusahaan, Dwi menjawab belum ada hitungan pasti. Ia menyebutnya masih dalam tahap perhitungan. “Jadi memang kalau dioperasional pasti terasa, tapi kita sedang mengkaji dampak secara korporasi secara keseluruhan,” katanya.

Dwi menambahkan bahwa kenaikan biaya operasional ini berpotensi berdampak pada ongkos logistik secara keseluruhan, termasuk biaya angkut kapal. Namun, pihaknya belum dapat segera menyesuaikan tarif karena harus mengikuti regulasi yang berlaku. “Saat ini, pihaknya masih melakukan kajian terkait adanya penyesuaian tarif. Jika sudah keluar kajian tersebut, maka akan diserahkan kepada regulator yakni Kementerian Perhubungan,” ujarnya. Ia juga menyebut kemungkinan penerapan surcharge yang akan dikoordinasikan dengan regulator.

Di sisi lain, PTP Nonpetikemas mencatat volume bongkar muat (throughput) pada triwulan I 2026 mencapai 12,44 juta ton. Angka ini mencapai 103,33 % dari target RKAP 2026 serta tumbuh 3,84 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. “Ini sampai dengan triwulan I 2026 kita sudah naik sekitar 3 %,” ujar Direktur Komersial & Pengembangan Usaha PTP Nonpetikemas, Dwi Rahmad Toto.

Peningkatan kinerja ini didorong oleh pertumbuhan pada segmen curah cair dan segmen kering. Pada segmen curah cair, terjadi kenaikan sekitar 16 % dari triwulan I 2025 sebesar 2,6 juta ton menjadi 3,09 juta ton. Peningkatan ini didukung oleh aktivitas ekspor komoditas CPO di PTP Cabang Teluk Bayur serta berkelanjutan bongkar muat produk minyak sawit di PTP Cabang Pontianak. “Curah cair tumbuh sangat besar 16 %, itu di Teluk Bayu, juga ada di Kijing,” terangnya.

Selanjutnya, segmen curah kering meningkat mencatat pertumbuhan sekitar 10 %. Kenaikan ini didukung oleh aktivitas bongkar muat komoditas pasir di PTP Cabang Tanjung Priok dan juga adanya peningkatan muat PKE Pelabuhan Dwikora, serta kegiatan bongkar muat bauksit, batu bara, dan alumina. “Untuk curah kering kegiatan pembongkoran pasir dan beberapa komunditi impor,” pungkasnya.

Secara keseluruhan, Dwi menegaskan bahwa meski biaya operasional meningkat, perusahaan masih dalam proses evaluasi dampak finansial secara menyeluruh. Sementara itu, throughput tetap menunjukkan pertumbuhan positif, didorong oleh peningkatan volume di segmen curah cair dan curah kering. Dengan demikian, PTP Nonpetikemas tetap berusaha menyeimbangkan antara tekanan biaya dan kinerja operasional.

BBMbiaya operasionalPTP Nonpetikemasthroughputcurah caircurah keringregulatorsurcharge

Komentar

Memuat komentar...