BMKG Peringatkan Banjir Rob di Pesisir Jatim 11-17 Juli
Gambar atau konten salah?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Maritim Tanjung Perak mengeluarkan peringatan dini. Banjir rob diprediksi akan melanda beberapa wilayah pesisir Jawa Timur. Periode yang diwaspadai adalah 11 hingga 17 Juli 2026.
Penyebabnya adalah fenomena alam. Ada dua hal yang menjadi pemicu: bulan perigee dan bulan baru. Bulan perigee adalah posisi bulan yang berada di titik terdekat dengan bumi. Saat itu terjadi, gravitasi bulan terhadap bumi lebih kuat dari biasanya.
Sutarno, Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya, menjelaskan soal ini. Ia mengatakan bahwa kombinasi bulan perigee dan bulan baru bisa menimbulkan dampak langsung di pesisir. "Fenomena bulan perigee dan bulan baru ini berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum," kata Sutarno saat dikonfirmasi pada Kamis, 09 Juli 2026.
BMKG sudah memantau data water level dan prediksi pasang surut. Hasilnya, banjir rob berpotensi terjadi di sejumlah titik. Di kawasan pesisir Pelabuhan Surabaya, banjir rob diperkirakan terjadi pada 11-17 Juli 2026. Sementara itu, di pesisir timur Surabaya—mencakup Sidoarjo, Pasuruan, dan Probolinggo—potensi banjir rob berlangsung pada 13-16 Juli 2026.
Untuk wilayah Surabaya sendiri, ada beberapa kawasan yang berpotensi terdampak. Di antaranya pesisir Benowo, Kalianak, dan Jalan Kalimas. Waktu kejadian juga sudah diperkirakan. "Banjir rob tersebut diprakirakan terjadi sekitar pukul 08.00-12.00 WIB," ujar Sutarno.
Imbauan pun disampaikan kepada masyarakat. Mereka yang tinggal atau beraktivitas di kawasan pesisir diminta meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, banjir rob bisa mengganggu banyak hal. Aktivitas bongkar muat di pelabuhan bisa terhambat. Transportasi di kawasan pesisir juga bisa terganggu. Kegiatan tambak garam dan perikanan darat ikut terdampak. Tak ketinggalan, aktivitas masyarakat di permukiman pesisir juga bisa terganggu.
"Masyarakat diimbau selalu waspada dan memperbarui informasi cuaca dari BMKG," pungkas Sutarno.
Fenomena ini sebenarnya rutin terjadi setiap tahun. Namun, dampaknya bisa berbeda tergantung kondisi cuaca dan tinggi gelombang. Masyarakat pesisir yang sudah terbiasa dengan rob biasanya sudah punya langkah antisipasi sendiri. Tapi tetap, kewaspadaan ekstra tidak ada salahnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
47 Kasus HIV Baru di Batu, LSL Sumbang 4
5 Pejabat Perempuan Surabaya Digeser karena Tak Dapat Restu Suami
Perpustakaan Menur Surabaya Buka Sampai Malam
Banyuwangi Miliki Pusat Penetasan 20.000 Telur Penyu
Masa Kontrak PPPK: Bisa Naik Golongan? Ini Jawabannya
50 Tahun Satelit Indonesia: Dari Palapa A1 ke NEO-1
Berita Terbaru
Angin Kencang Majalengka: Bukan Pantai, Tapi Ini Penyebabnya
Courtois Akui Spanyol Lebih Diunggulkan dari Belgia
900 Ular Kabur Akibat Banjir di China
Tumpahan Batu Bara Pangandaran Buktikan Kekhawatiran Nelayan
Gempa 2,6 Guncang Cimahi, BMKG Imbau Warga Tenang
Ibu di Inggris Kaget Lihat Tagihan Fish and Chips
Jalan Dago Giri Ditutup Total, Perbaikan Berlangsung Beberapa Pekan
Batam Dinilai Jadi Kunci Pintu Logistik ASEAN