BMKG Peringatkan El Nino Akan Memperparah Kemarau 2026

Teguh A. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 140 dibaca
Bisik.id
BMKG Peringatkan El Nino Akan Memperparah Kemarau 2026

Gambar atau konten salah?

Musim kemarau sering dianggap sama dengan El Nino karena keduanya identik dengan cuaca panas dan minim hujan. Padahal, menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda yang kerap saling berkaitan, tetapi tidak bisa disamakan.

BMKG menjelaskan bahwa kemarau adalah siklus iklim musiman yang terjadi secara rutin setiap tahun di Indonesia. Fenomena ini muncul akibat angin monsun Australia yang membawa massa udara kering ke wilayah Indonesia, sehingga curah hujan menurun secara signifikan. Secara umum, kemarau bersifat normal, musiman, dipengaruhi pola angin monsun, dan menyebabkan penurunan curah hujan secara bertahap.

El Nino, di sisi lain, merupakan anomali iklim global yang terjadi secara periodik, biasanya setiap tiga hingga tujuh tahun sekali. Anomali ini terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur meningkat lebih panas dari normal. Kondisi ini mengganggu pola cuaca global, termasuk mengurangi curah hujan di Indonesia. Akibatnya, musim kemarau dapat menjadi lebih panjang, lebih panas, lebih kering, dan lebih berisiko memicu kekeringan ekstrem. Jadi, El Nino bukanlah musim, melainkan faktor yang dapat memperburuk kemarau.

Perbedaan utama antara kemarau dan El Nino terletak pada penyebab, sifat, dan frekuensi terjadinya. Kemarau adalah musim tahunan yang normal terjadi akibat pola monsun. El Nino adalah anomali iklim global periodik yang dapat memperparah kemarau. Jika diibaratkan, kemarau adalah kondisi normal, sedangkan El Nino adalah semacam faktor penguat yang membuat musim kering terasa lebih ekstrem. Kemarau pasti datang setiap tahun, sementara El Nino datang secara tidak terduga dan dapat membuat kemarau menjadi lebih kering.

Ketika El Nino terjadi bersamaan dengan musim kemarau, dampaknya bisa lebih serius bagi masyarakat. Beberapa dampak yang dapat terjadi antara lain: berkurangnya sumber air bersih, peningkatan polusi udara, risiko kebakaran hutan dan lahan lebih tinggi, penurunan produksi listrik tenaga air, dan ancaman gagal panen akibat kekeringan. Meski begitu, fenomena ini juga membawa manfaat. Misalnya, produksi garam berkualitas tinggi akan meningkat, dan proyek infrastruktur pun lebih minim gangguan hujan.

BMKG memperkirakan El Nino mulai mempengaruhi Indonesia sejak 01 April 2026, dan sudah terindikasi muncul dalam kategori lemah. Pada periode 01 Mei 2026 sampai 31 Oktober 2026, El Nino berada pada kategori lemah hingga sedang. Lembaga internasional, World Meteorological Organization (WMO), juga menyampaikan hal serupa. Mereka memperkirakan El Nino akan kembali berkembang pada pertengahan 01 Juli 2026. WMO menyebut kondisi El Nino berpeluang muncul pada periode 01 Mei 2026 sampai 01 Juli 2026, dengan indikasi awal menuju fase yang lebih kuat. Setelah periode netral di awal tahun, terdapat keyakinan tinggi akan munculnya El Nino yang kemudian dapat menguat, ujar Kepala Prediksi Iklim WMO, Wilfran Moufouma Okia.

Berikut hal-hal penting yang perlu diketahui terkait kemarau 2026. Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau pada periode 01 April 2026 (114 wilayah; 16,3 %), 01 Mei 2026 (184 wilayah; 26,3 %), dan 01 Juni 2026 (163 wilayah; 23,3 %) diawali dari wilayah Nusa Tenggara kemudian secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya. Awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih awal atau maju (325 wilayah; 46,5 %) dan sama dengan normalnya (173 wilayah; 23,7 %). Akumulasi curah hujan pada periode musim kemarau di sebagian besar Indonesia (451 wilayah; 64,5 %) diprediksi pada kategori bawah normal atau lebih kering dari biasanya. Sebagian besar wilayah Indonesia (429 wilayah; 61,4 %) diprediksi mengalami puncak kemarau pada bulan 01 Agustus 2026. Puncak musim kemarau di Indonesia sebagian besar diprediksi terjadi lebih awal atau maju (410 wilayah; 58,7 %) dan sama dengan normalnya (142 wilayah; 20,3 %). Sebagian besar wilayah Indonesia (400 wilayah; 57,2 %) diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normalnya.

Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menghadapi kemarau dan El Nino. Pertama, gunakan air secara hemat dan bijak. Kedua, hindari pembakaran sembarangan. Ketiga, pilih komoditas tanaman yang tahan kering dan usia tanam lebih pendek. Keempat, mulai tampung air hujan sejak sekarang. Kelima, jaga kesehatan, cukupi kebutuhan air minum, dan pakai masker. Semua langkah ini bertujuan mengurangi dampak negatif dan memanfaatkan peluang yang ada.

Dengan memahami perbedaan antara kemarau dan El Nino, serta mempersiapkan diri sejak dini, masyarakat dapat mengurangi risiko kekeringan, kebakaran, dan gangguan produksi. Meskipun El Nino dapat memperparah kondisi kering, langkah-langkah sederhana seperti penghematan air dan pemilihan tanaman tahan kering dapat membantu menanggulangi dampak yang mungkin timbul. Persiapan yang tepat akan membuat perbedaan antara musim kering biasa dan musim kering ekstrem yang disertai El Nino.

El NinokemarauBMKGWMOcurah hujankebakaran hutankekeringan

Komentar

Memuat komentar...