BMKG Prediksi Puncak Kemarau 2026: 61% Wilayah Terpengaruhi

Fitri A. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 138 dibaca
Bisik.id
BMKG Prediksi Puncak Kemarau 2026: 61% Wilayah Terpengaruhi

Gambar atau konten salah?

Prediksi cuaca BMKG menunjukkan bahwa wilayah Bali dan Nusa Tenggara akan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Meski sebagian daerah masih berpeluang diguyur hujan dalam beberapa pekan ke depan, suhu di banyak zona diperkirakan akan naik tajam.

Menurut Prediksi Musim Kemarau 2026, 61,4 % wilayah Indonesia atau 429 ZOM diperkirakan akan mengalami puncak kemarau pada Agustus 2026. Zona tersebut meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, Jawa bagian tengah hingga timur, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

BMKG sebelumnya menyatakan musim kemarau tahun ini datang lebih cepat dibandingkan biasanya. Pada 20 Mei 2026, 184 ZOM atau sekitar 26,3 % wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Prediksi menunjukkan jumlah tersebut akan bertambah pada Juni 2026 dengan 163 ZOM dan berlanjut pada Juli 2026 sebanyak 63 ZOM lainnya.

Berikut rincian kapan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi:

  • Juli 2026 – 88 ZOM (12,6 %) masuk puncak kemarau. Wilayah yang terpengaruh meliputi sebagian Sumatera, sebagian kecil Jawa, sebagian kecil Nusa Tenggara, Kalimantan bagian tengah dan utara, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, Sulawesi Utara bagian barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat bagian tengah, dan Papua bagian timur.
  • Agustus 2026 – 429 ZOM (61,4 %) masuk puncak kemarau. Wilayah yang terpengaruh meliputi Sumatera bagian tengah dan selatan, Jawa bagian tengah hingga timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, sebagian Maluku, Maluku Utara, dan sebagian Pulau Papua.
  • September 2026 – 100 ZOM (14,3 %) masuk puncak kemarau. Wilayah yang terpengaruh meliputi sebagian Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Sulawesi bagian utara dan timur, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, dan sebagian kecil Pulau Papua.

BMKG telah menyiapkan beberapa langkah antisipasi untuk menghadapi potensi musim kemarau 2026 dan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berikut beberapa inisiatif utama:

1. Pengembangan Layanan Prediksi Cuaca dan Iklim

Guswanto, Sekretaris Utama BMKG, menegaskan bahwa kesiapsiagaan harus dilakukan lebih dini, berbasis data, dan prediksi iklim yang akurat. Untuk itu, BMKG mengembangkan layanan prediksi cuaca dan iklim yang dapat mendukung pengambilan keputusan pemerintah daerah maupun sektor teknis. Saat ini, layanan prediksi BMKG sudah mampu memberikan informasi hingga tingkat desa dan kelurahan.

Andri Ramdhani, Plt Deputi Bidang Meteorologi, menambahkan bahwa BMKG terus memperkuat pemantauan cuaca dengan radar cuaca dan sistem prakiraan berbasis nowcasting. Teknologi ini mampu meningkatkan keakuratan informasi cuaca ekstrem dan potensi hujan. “Informasi mengenai prediksi, sekarang ini sudah sampai level desa. Jadi kalau lihat di aplikasi itu kan sudah bisa per kelurahan atau per desa, kita berusaha agar forecasting itu akurat,” kata Andri. Ia juga menekankan bahwa layanan informasi iklim akan disampaikan secara mudah, baik akses maupun pemahamannya, sehingga masyarakat dapat memanfaatkan informasi cuaca dan iklim secara luas.

2. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)

Selain prediksi, BMKG juga akan melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang terkoordinasi. OMC akan didukung dengan informasi prakiraan cuaca yang akurat agar pelaksanaannya lebih efektif. Tri Handoko Seto, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca, menyebutkan bahwa OMC akan dilakukan sesuai kebutuhan penanganan di lapangan. BMKG akan memantau perkembangan kondisi cuaca di wilayah sasaran sebelum OMC dilakukan.

3. Diseminasi Informasi

BMKG akan memperkuat sistem diseminasi informasi cuaca dan iklim kepada masyarakat, khususnya kelompok rentan dan sektor terdampak. Sektor terdampak yang dimaksud adalah pertanian, transportasi, dan pengelolaan sumber daya air. “Informasi peringatan dini diharapkan tidak berhenti pada level institusi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi langkah antisipatif di lapangan,” tulis BMKG.

Meski sudah memasuki musim kemarau, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan pada 18-24 Mei 2026 bahwa sebagian besar wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan ringan hingga sedang. Beberapa wilayah lain perlu waspada terhadap potensi hujan lebat. Daftar wilayah yang perlu waspada meliputi:

  • Kepulauan Bangka Belitung
  • Jawa Barat
  • Nusa Tenggara Barat
  • Nusa Tenggara Timur
  • Kalimantan Utara
  • Sulawesi
  • Maluku Utara
  • Papua Pegunungan (nor/nor)

Dengan prediksi yang semakin detail, BMKG berharap masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas harian dan persiapan mitigasi. Informasi cuaca yang kini dapat diakses hingga tingkat kelurahan atau desa memberi peluang bagi petani, pengusaha, dan warga umum untuk merencanakan langkah-langkah preventif. Operasi Modifikasi Cuaca, walaupun masih dalam tahap koordinasi, menandakan upaya pemerintah untuk mengurangi dampak ekstrem. Diseminasi informasi yang lebih mudah diakses juga diharapkan dapat mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di daerah yang rawan.

Secara keseluruhan, prediksi BMKG menandai periode puncak kemarau yang cukup luas di Indonesia pada akhir tahun 2026. Meskipun suhu diperkirakan naik tinggi, masih ada potensi hujan di beberapa wilayah, menambah kompleksitas dalam perencanaan mitigasi. BMKG terus memperkuat sistem prediksi, operasi modifikasi, dan penyebaran informasi untuk meminimalisir dampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan.

BMKGmusim kemarau 2026prediksi cuacaOperasi Modifikasi CuacaZOMpotensi kebakaran hutandiseminasi informasi

Komentar

Memuat komentar...