BMKG Prediksi Puncak Kemarau 2026 di 61% Wilayah Indonesia

Bayu K. · 4 min baca · 3 bulan lalu · 113 dibaca
Bisik.id
BMKG Prediksi Puncak Kemarau 2026 di 61% Wilayah Indonesia

Gambar atau konten salah?

Indonesia dikenal dengan dua musim: hujan dan kemarau. Peralihan antar musim biasanya berlangsung perlahan, dipengaruhi angin, suhu permukaan laut, dan faktor alam lainnya.

Menjelang pertengahan 2026, banyak orang bertanya kapan musim kemarau dimulai dan kapan berakhir. Mengetahui waktu ini penting, terutama bagi mereka yang bergantung pada kondisi cuaca.

BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) baru saja mengumumkan prediksi musim kemarau 2026 lewat konferensi pers. Selain itu, BMKG juga menyampaikan hasil pemantauan tentang El Nino dan IOD (Indian Ocean Dipole).

Menurut BMKG, pada 1 April 2026 ada 114 Zona Musim (ZOM) atau 16,3 % wilayah Indonesia yang sudah memasuki kemarau. Angka ini naik menjadi 184 ZOM atau 26,3 % pada 1 Mei 2026, lalu bertambah lagi menjadi 163 ZOM atau 23,3 % pada 1 Juni 2026.

Hingga akhir 31 Maret 2026, sekitar 7 % ZOM sudah mengalami kemarau. Wilayah yang pertama kali merasakan kemarau antara lain Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, NTB, NTT, Maluku, dan Papua Barat.

Prediksi BMKG menunjukkan bahwa jumlah wilayah yang memasuki kemarau akan meningkat signifikan mulai 1 April 2026 hingga 1 Juni 2026. Artinya, sebagian wilayah Indonesia lainnya diperkirakan akan mulai mengalami kemarau secara bertahap dalam rentang April, Mei, dan Juni 2026.

Puncak kemarau diperkirakan akan terjadi secara bertahap, seiring meluasnya wilayah yang memasuki kemarau sejak 1 April 2026 hingga 1 Juni 2026. Awalnya, kemarau diperkirakan muncul dari wilayah Nusa Tenggara, kemudian menyebar ke daerah lain.

Menurut BMKG, puncak musim kemarau di Indonesia pada tahun 2026 diperkirakan terjadi pada 1 Agustus 2026 di sekitar 61,4 % wilayah. Waktu puncaknya juga cenderung berbeda di banyak daerah, dengan wilayah lain mengalami puncak kemarau pada 1 Juli 2026 (12,6 %) dan 1 September 2026 (14,3 %).

Memasuki 1 Agustus 2026, wilayah yang mengalami puncak kemarau diperkirakan semakin meluas secara signifikan. Kondisi kering akan mendominasi daerah dari Sumatera bagian tengah hingga selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, seluruh Bali dan Nusa Tenggara, serta sebagian wilayah Maluku dan Papua.

Memasuki 1 September 2026, puncak kemarau masih dirasakan di beberapa daerah, seperti sebagian wilayah Lampung, sebagian kecil Pulau Jawa, serta sebagian besar Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain itu, kondisi serupa juga diprediksi terjadi di wilayah Sulawesi bagian utara dan timur, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, serta sebagian kecil wilayah Papua.

Menurut laporan, musim kemarau di Indonesia akan berlangsung cukup panjang hingga akhir 30 September 2026, yang diawali dengan berhentinya musim hujan pada kisaran akhir 31 Februari 2026 hingga 31 Maret 2026. Setelah itu, musim hujan diprediksi akan kembali datang pada 1 Oktober 2026.

Namun, pola musim di Indonesia tidak sepenuhnya seragam. Beberapa wilayah memiliki karakteristik iklim berbeda, dengan dua kali periode musim hujan dan dua kali musim kemarau dalam setahun. Hal ini membuat peralihan musim di berbagai wilayah Indonesia tidak selalu serentak.

Selain pola musim tahunan, kondisi iklim global juga menjadi faktor penting yang memengaruhi terjadinya musim kemarau di Indonesia pada tahun ini. Di antara faktor yang memengaruhi adalah El Nino dan IOD positif.

Menurut Instagram resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), El Nino adalah fenomena peningkatan suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur yang menimbulkan dampak berbeda-beda di berbagai belahan dunia. Di sejumlah negara Amerika Latin, seperti Peru, El Nino justru menyebabkan peningkatan curah hujan. Sementara itu, di Indonesia, El Nino umumnya berdampak pada kondisi yang lebih kering serta penurunan curah hujan.

BMKG memprediksi peluang berkembangnya fenomena El Nino pada semester kedua tahun 2026. Tidak hanya itu, fenomena kali ini juga disebutkan akan terjadi bersamaan dengan IOD positif.

Hingga akhir 31 Maret 2026, kondisi El Nino‑Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada pada fase netral. Namun, hasil pemodelan menunjukkan bahwa ENSO berpotensi berubah menjadi El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat, dengan peluang sekitar 50‑80 %.

Meski begitu, BMKG mengingatkan adanya fenomena spring predictability barrier, yaitu penurunan akurasi prediksi iklim pada periode 1 Maret 2026 hingga 1 Mei 2026. Oleh karena itu, prediksi saat ini masih bersifat dinamis dan akan diperbarui seiring perkembangan data terbaru. Tingkat akurasi terhadap prediksi El Nino diperkirakan akan semakin meningkat pada 1 Mei 2026, karena secara statistik, periode tersebut memberikan hasil prediksi yang lebih akurat untuk beberapa bulan ke depan.

Menurut artikel ilmiah berjudul “Pengaruh Indian Ocean Dipole (IOD) terhadap Sebaran Pola Angin di Bandara Depati Amir Pangkalpinang” oleh Muhamad Bais Ridwan dalam Jurnal Widya Climago, IOD positif merupakan perbedaan suhu permukaan laut yang signifikan antara bagian barat dan timur Samudra Hindia yang ditandai dengan nilai indeks (DMI) lebih dari 0,35. Dalam kondisi ini, muncul anomali angin yang membawa massa awan bergerak ke arah barat yang menyebabkan berkurangnya pembentukan awan hujan.

Fenomena El Nino pada musim kemarau ini disebut dengan “Godzila”. Karena El Nino yang menyerang Indonesia kali ini termasuk dalam variasi kuat, musim kemarau yang terjadi di Indonesia memiliki durasi yang lebih panjang dan kering dibandingkan biasanya.

BMKG memprediksi bahwa musim kemarau 2026 berpotensi memiliki karakter yang lebih kering dan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal. Hal ini dipengaruhi oleh kombinasi variabilitas iklim alami serta potensi kemunculan El Nino Godzila bersama IOD positif yang menyerang bersamaan.

Fenomena El Nino Godzila dan IOD Positif yang terjadi secara bersamaan tidak hanya membawa angin kering. Sebaliknya, di beberapa wilayah di Indonesia lain yang tidak mengalami musim kemarau lebih awal, justru berpotensi memiliki curah hujan tinggi.

Itulah penjelasan lengkap terkait waktu mulai dan berakhirnya musim kemarau di Indonesia pada tahun 2026. Informasi ini penting bagi perencanaan pertanian, pengelolaan air, dan aktivitas masyarakat yang bergantung pada cuaca.

BMKGEl NinoIODmusim kemarau 2026puncak kemarauEl Nino Godzilaprediksi iklim

Komentar

Memuat komentar...