BPBD Ponorogo Catat 26 Kasus Bencana, 20 Longsor di Pulung

Surya B. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 75 dibaca
Bisik.id
BPBD Ponorogo Catat 26 Kasus Bencana, 20 Longsor di Pulung

Gambar atau konten salah?

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo mencatat puluhan kejadian bencana dalam lima hari pertama April 2026. Mayoritas bencana yang terjadi didominasi tanah longsor akibat cuaca ekstrem.

Selasa (07 April 2026), Masun, Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, menyatakan bahwa sejak tanggal 1-5 April 2026 tercatat 26 laporan bencana yang masuk. “Sejak tanggal 1-5 April 2026, tercatat laporan masuk 26 kasus. Terdiri dari satu kasus banjir di Desa Caluk, Kecamatan Slahung, selebihnya tanah longsor,” ujar Masun. Laporan tersebut masuk ke sistem pengaduan resmi.

Masun melanjutkan: “Yang paling parah terjadi di tanggal 5 April 2026, ada 20 kasus laporan. Paling banyak di Kecamatan Pulung.” Pada hari itu, 20 kejadian dilaporkan, menunjukkan puncak intensitas bencana di wilayah tersebut.

Kecamatan Pulung menjadi wilayah paling terdampak. Desa Banaran mencatat sembilan kasus, Desa Wagir Kidul tiga, dan Desa Bekiring satu. Selain Pulung, longsor juga terjadi di Ngebel (enam), Ngrayun (empat), dan Pudak (dua). Jumlah ini menegaskan konsentrasi kejadian di daerah yang rawan.

“Total ada 25 kasus longsor selama lima hari di awal April,” imbuh Masun. Jumlah ini mencerminkan konsentrasi kejadian di daerah yang rawan, menegaskan perlunya tindakan mitigasi.

“Ini sejalan dengan rilis BMKG 01 April 2026, yang mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Kabupaten Ponorogo,” paparnya. Peringatan tersebut mencakup potensi hujan lebat dan risiko tanah longsor, yang kemudian terwujud dalam data BPBD.

“Yang cukup parah dampaknya di Banaran, karena mengakibatkan kurang lebih tiga rumah terisolasi akibat akses jalan terputus,” ungkapnya. Keterputusan jalan menghambat akses bantuan dan memperparah kondisi warga yang terisolasi.

“Retakan tanah sudah terjadi sejak 2021. Bahkan, sebelumnya juga sering terjadi longsor di titik yang sama,” jelasnya. Kondisi geologi di Banaran telah menunjukkan pola retakan yang berulang, menandakan risiko jangka panjang.

PVMBG sudah menyarankan kurang lebih 17 rumah itu berbahaya, disarankan kalau bisa pindah,” katanya. Rekomendasi ini didasarkan pada analisis risiko tanah dan potensi kerusakan struktural.

“Kami sudah mengimbau melalui kepala desa agar warga yang berada di wilayah rawan untuk pindah atau setidaknya waspada saat hujan lebat lebih dari dua jam,” pungkas Masun. Peringatan ini ditujukan untuk mencegah korban lebih lanjut selama kondisi cuaca buruk.

Hingga saat ini, BPBD Ponorogo masih melakukan pendataan terkait total kerugian dan jumlah pasti rumah terdampak akibat rangkaian bencana tersebut. Data ini akan menjadi dasar perencanaan bantuan dan rehabilitasi.

Kejadian ini menegaskan betapa pentingnya sistem peringatan dini dan koordinasi antara lembaga pemerintah serta masyarakat. Dengan data yang terus diperbarui, BPBD dapat menyesuaikan respons dan mengurangi dampak bencana di masa depan.

Bencana tanah longsorCuaca ekstremBPBD PonorogoPeringatan dini BMKGJalan terputusRetakan tanahMitigasi

Komentar

Memuat komentar...