Buruh Bandung Meninggal Akibat Hantavirus dan Leptospirosis
Gambar atau konten salah?
49 tahun seorang pria, yang bekerja sebagai buruh bangunan di Cibeunying Kolot, Kota Bandung, meninggal dunia setelah tiga hari dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Penyebabnya adalah infeksi hantavirus dan leptospirosis, menurut Kemenkes yang menegaskan kejadian ini terjadi pada 2025 dan tidak berkaitan dengan wabah hantavirus yang pernah dibicarakan di kapal pesiar MV Hondius.
Dr. Elisabeth Hutajulu, spesialis penyakit dalam di RSHS Bandung, menjelaskan bahwa pasien tidak memiliki penyakit penyerta seperti diabetes atau hipertensi. Meskipun begitu, kondisi pasien memburuk secara drastis. Pada hari pertama perawatan, pasien masih menunjukkan demam dan nyeri perut kanan atas, namun sesak napas semakin parah.
Gejala awal muncul sekitar enam hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengalami demam hilang timbul, kemudian satu hari sebelum dirawat, muncul nyeri disertai badan dan mata kuning. "Nyeri disertai badan dan mata kuning sejak satu hari sebelum masuk rumah sakit," bebar Elisabeth dalam sosialisasi Hantavirus yang disiarkan daring, Senin (19/5/2026). Pasien juga mual dan muntah setiap kali makan atau minum. Pada saat pertama kali tiba di rumah sakit, tim medis menemukan pasien dalam kondisi demam, mata menguning, dan sesak napas.
Hasil pemeriksaan menunjukkan saturasi oksigen menurun, rontgen dada menandakan bronkiopneumonia, dan USG menunjukkan kardiomegali. Setelah sampel diuji, pasien terkonfirmasi positif hantavirus sekaligus leptospirosis. Kombinasi kedua infeksi ini diduga memicu kondisi berat, termasuk Weil's disease dan sepsis shock. Pasien juga mengalami AKI stage 3 dengan hiperkalemia. "Setelah dikirimkan sampelnya, pasien ini positi hantavirus dan leptospirosis, jadi ini yang menjelaskan kenapa pasien itu cukup berat dengan prokalsitonin meningkat kemudian trombositnya juga sangat rendah," terang Elisabeth.
Dr. Hutajulu menambahkan, "Ketika diedukasi untuk tindakan intubasi, keluarga menolak. Akhirnya pasien meninggal dunia." Prokalsitonin tinggi dan trombosit rendah menandakan infeksi serius. Meskipun keluarga menolak intubasi, kondisi pasien tetap kritis.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Andi Saguni, menegaskan bahwa kasus ini tidak berkaitan dengan MV Hondius. "Kasus ini di tahun 2025, tipenya HFRS, bukan tipe HPS yang di MV Hondius," ujar Andi saat dikonfirmasi, Rabu (20/5/2026). Ia menambahkan bahwa hantavirus telah ada di Indonesia jauh sebelum wabah di kapal pesiar, namun tipe yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan yang ada di MV Hondius.
Kasus ini menyoroti risiko infeksi hantavirus yang dapat bersamaan dengan leptospirosis, menghasilkan penyakit berat seperti Weil's disease dan sepsis shock. Meskipun tidak terkait dengan MV Hondius, kejadian ini mengingatkan pentingnya pengawasan dan penanganan cepat terhadap infeksi zoonotik di Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026
