Burung Merpati Pakai Sel Darah Putih di Hati Sebagai Kompas
Gambar atau konten salah?
Burung merpati dikenal mampu kembali ke sarangnya setelah terbang ribuan kilometer. Peneliti baru saja menemukan bahwa hewan ini memiliki “kompas internal” yang tidak memerlukan satelit. Sel darah putih di hati merpati menumpuk zat besi yang berfungsi menafsirkan medan magnet bumi.
Hasil ini dipublikasikan pada 28 Mei 2026 di jurnal Science dan dilaporkan oleh Science News pada 2 Juni 2026. Sebelumnya, para ilmuwan sudah lama membahas bahwa beberapa hewan, termasuk burung, kelelawar, dan hiu, menggunakan medan magnet bumi untuk migrasi. Namun belum ada bukti konkret tentang mekanisme yang tepat.
Teori lama menyoroti protein khusus di mata burung yang diyakini berperan. Meskipun demikian, tidak ada data yang dapat membuktikan fungsi kuantum dari protein tersebut. Karena burung lain yang juga menggunakan magnetisme tidak memiliki protein itu, perdebatan tetap terbuka.
Dr. Clivia Lisowski, biologi sel dari Universitas Bonn, memeriksa berbagai organ burung—paruh, mata, limpa, dan hati—untuk melihat apakah sel-sel di dalamnya bersifat magnetik. Ia menemukan bahwa hanya makrofag di hati merpati yang menempel pada kolom magnetik. Makrofag adalah sel darah putih besar yang memakan kuman dan sel mati.
Di hati, jutaan sel darah putih mengandung zat besi di dekat jaringan saraf. Sel-sel ini tampaknya memberi sinyal kepada otak tentang arah berdasarkan medan magnet bumi. Ide meneliti makrofag berasal dari kolaborasi antara ahli ornitologi Martin Wikelski dan imunolog Christian Kurts, dua peneliti Jerman.
Untuk menguji peran makrofag, tim mengamati burung pada hari-hari mendung. Burung biasanya mengandalkan sinar matahari sebagai panduan utama, dan hanya menggunakan magnetisme bila matahari tidak terlihat. “Sangat penting agar burung-burung itu tidak tahu di mana posisi matahari,” kata Kurts.
Peneliti memotong makrofag pada setengah dari 34 merpati yang diuji. Semua burung dibawa sejauh 19 km dari sarang, lalu dilepaskan dengan pelacak GPS. Burung yang makrofagnya masih utuh kembali ke sarang dalam waktu sekitar 70 menit. Burung yang makrofagnya berkurang terbang ke segala arah, dan baru pulang ketika matahari terbit keesokan harinya.
Namun, ketika cuaca cerah, burung yang makrofagnya dihilangkan langsung terbang pulang. Ini menunjukkan bahwa makrofag berfungsi sebagai sensor magnetik, membantu otak menentukan arah ketika sinar matahari tidak tersedia.
John Phillips, neuroetolog dari Virginia Tech, yang tidak terlibat dalam penelitian, mengomentari temuan tersebut. “pasti akan ada orang yang tidak percaya. Tetapi, dirinya menyampaikan, penelitian ini dilakukan dengan sangat baik, sehingga bahkan orang yang belum percaya pun tidak dapat mengabaikannya.”
Penelitian ini menambah pemahaman tentang bagaimana burung merpati menavigasi. Dengan makrofag yang menampung zat besi, burung dapat membaca medan magnet bumi dan mengarahkan diri kembali ke sarang, bahkan ketika langit mendung. Temuan ini menegaskan bahwa sistem imun dan navigasi saling terkait, dan menandai langkah penting dalam studi magnetoresepsi hewan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Google Ungkap Cara Jitu Kendalikan Biaya Token AI
Logitech Rilis Kamera AI yang 'Hilang' untuk Ruang Rapat
Iran Eksploitasi Celah SS7 untuk Lacak Tentara AS
Prediksi Final Piala Dunia 2026 Viral, Netizen Curiga
Cyber Breaker Season 3: Peserta Melonjak ke 916
Piala Dunia 2026: 48 Tim, Tiga Negara, Hadiah Fantastis
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
