Bus dan Truk Masuk Gang sempit Gilimanuk, Warga Batal
Gambar atau konten salah?
Kelurahan Gilimanuk di Kecamatan Melaya, Jembrana, menjadi saksi aksi protes warga yang menolak lewatnya kendaraan besar di gang permukiman. Aksi ini memuncak ketika bus dan truk nekat menembus gang sempit, seolah‑olah menjadi jalur pintas menuju Pelabuhan Gilimanuk.
Keluhan warga disampaikan langsung kepada Lurah Gilimanuk, Ida Bagus Tony Wirahadikuauma. Mereka menilai situasi sudah tidak wajar dan sangat membahayakan lingkungan, khususnya di kawasan padat penduduk. Gang tersebut, menurut warga, hanya layak dilintasi kendaraan kecil. Selama ini, sepeda motor atau mobil pribadi biasanya masih diizinkan lewat saat arus mudik. Namun, pemandangan bus dan truk membuat warga geram.
“Kemarin itu kami diinformasikan oleh warga adanya truk dan bus yang melintas di gang kecil di tengah pemukiman. Kalau dilewati truk dan bus jelas berbahaya dan merusak. Apalagi sudah sampai memutus beberapa kabel,” ungkap Tony saat dikonfirmasi, Kamis (02 April 2026).
Menurut Tony, penggunaan gang tersebut bukan kebijakan resmi dari pihak pelabuhan maupun kepolisian. Hal itu murni ulah sopir dan pengurus bus yang nekat mencari jalur tercepat saat jalan utama menuju pelabuhan mengalami kemacetan parah dalam beberapa hari terakhir.
Dampak melintasnya kendaraan bertonase besar sudah mulai terlihat. Selain kerusakan badan jalan yang tidak dirancang untuk beban berat, keberadaan bus dan truk juga mengancam fasilitas umum lainnya. “Dampaknya mulai dari kerusakan badan jalan hingga terganggunya fasilitas umum seperti kabel listrik dan kabel provider yang melintang rendah di atas gang,” tambah Tony.
Akibat emosi yang memuncak, warga sempat menutup akses gang secara mandiri. Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada lagi kendaraan besar yang mencoba mencuri jalur melalui pemukiman warga, baik di saat arus mudik maupun arus balik.
“Kami sudah menindaklanjuti aspirasi warga. Kami berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menertibkan kendaraan besar yang melintas sembarangan dan memastikan gang permukiman tidak lagi dijadikan akses alternatif menuju pelabuhan,” tegas Tony.
Tony juga menjelaskan adanya truk dan bus yang masuk ke gang‑gang kecil di wilayah Kelurahan Gilimanuk untuk menghindari antrean yang terjadi di jalan Denpasar‑Gilimanuk menuju Pelabuhan Gilimanuk. “Antrean pagi tadi itu sampai gereja. Kemungkinan karena penerapan TBB di Ketapang jadi nerampak di sini (Pelabuhan Gilimanuk),” jelas Tony.
Situasi ini menyoroti betapa pentingnya koordinasi antara warga, pemerintah desa, dan pihak pelabuhan dalam mengatur arus kendaraan. Tanpa kebijakan resmi, jalur pintas yang tidak terencana dapat menimbulkan kerusakan infrastruktur dan risiko keselamatan bagi penduduk.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Penurunan Wisnus Bali 4,14% Tahun Ini, 2,03% Bulanan
SIM Keliling Kembali Operasi di Badung dan Buleleng Pusat
Cuaca cerah berawan Bali, hujan ringan Badung Denpasar
Kamis 04 Juni 2026: Hari Ala Ayuning Dewasa, Waktu Lahan
Badung Bangun Tempat Penampungan Sampah B3 di Mengwitani
SMPN 5 Pupuan, Disdik Tabanan Atasi Rendahnya Siswa
Berita Terbaru
Paula Hurd & Bill Gates Bersinergi di Breakthrough Prize 2026
Tren Strava Fridge: Minuman di Kulkas Minimarket Jadi Viral
Trump Lakukan Tiga Pemeriksaan Medis di Walter Reed
Bandara Husein Sastranegara Dipertimbangkan Rute Luar Jawa
Martinez: Pensiun Bila Argentina Raih Gelar Dunia Kedua
UB SNBT 2026: 5.842 Lolos dari 82.613 Pilihan, Ketat
IHSG Turun 4,11% di Tengah Sesi, Rupiah Menguat
