Cek Nyeri Dada: Bedakan Serangan Jantung & GERD, Tanpa Salah
Gambar atau konten salah?
Serangan jantung dan GERD (gastroesophageal reflux disease) seringkali menimbulkan rasa nyeri dada yang mirip. Meski keduanya memiliki gejala serupa, ada perbedaan penting yang dapat membantu membedakannya.
Dari laman Mayo Clinic, serangan jantung klasik biasanya muncul dengan nyeri dada yang tiba‑tiba, hebat, dan disertai kesulitan bernapas. Seringkali, gejala ini dipicu oleh aktivitas fisik. Namun, tanda dan gejala serangan jantung dapat bervariasi pada setiap orang. Rasa panas di dada bisa muncul bersamaan dengan gejala lain.
Berikut ini daftar umum gejala serangan jantung:
- Tekanan, rasa sesak, atau sensasi meremas di dada atau lengan yang bisa menyebar ke leher, rahang, atau punggung.
- Mual, gangguan pencernaan, nyeri ulu hati, atau sakit perut.
- Sesak napas.
- Keringat dingin.
- Kelelahan.
- Pusing atau kepala terasa ringan secara tiba‑tiba.
Di sisi lain, nyeri dada akibat GERD cenderung terasa seperti sensasi menusuk atau terbakar di tengah dada, tepat di belakang tulang dada atau di bawahnya. Sensasi terbakar ini biasanya tetap terlokalisir dan tidak menyebar ke area lain. Gejala tambahan yang sering muncul meliputi:
- Nyeri atau kesulitan menelan.
- Kembung.
- Bersendawa atau cegukan.
- Bau mulut.
- Sakit atau iritasi tenggorokan.
- Rasa tidak enak atau asam di mulut.
Dr. Muhammad Yamin, SpJP (K), menegaskan bahwa beberapa tanda serangan jantung dan GERD dapat saling tumpang tindih, seperti mual, muntah, nyeri lambung, dan keringat dingin. “Jadi, jangan semua gejala GERD dipastikan hanya GERD. Jadi kalau kita misalnya habis aktivitas, olahraga, atau stres berat terus lambungnya nyeri, apalagi kalau menjalar ke dada, leher, jangan dulu dipastikan GERD,” kata dr Yamin kepada detikcom beberapa waktu lalu. “Mungkin kalau dia (gejala muncul) pertama ya boleh saja. Kalau sudah berulang‑ulang harus dipastikan (ke dokter). Terutama bagi orang di atas 35 tahun dan ada faktor risiko, seperti merokok, hipertensi, kolesterol tinggi, kegemukan, ada keluarga kandung yang jantung, diabetes,” sambungnya.
Menurut dr Yamin, ada gejala khas yang dapat membedakan serangan jantung dari GERD. “Gejala serangan jantung yang klasik itu nyeri dada di tengah, menjalar ke leher atau lengan kiri. Dipicu oleh aktivitas, olahraga, atau emosi. Umumnya reda dengan istirahat,” katanya. Ia juga menambahkan, “Tapi ada 5 sampai 10 persen tidak khas. Kadang‑kadang dia cuman nyeri clekit‑clekit. Termasuk engap, kadang‑kadang ada yang sesak. Kalau orang tua dengan diabetes biasanya sesak, bukan sakit,” tuturnya.
Pengamatan ini menegaskan pentingnya tidak langsung menilai nyeri dada sebagai GERD tanpa mempertimbangkan faktor risiko dan pola gejala. Bagi yang memiliki riwayat faktor risiko—misalnya usia di atas 35 tahun, merokok, hipertensi, kolesterol tinggi, kegemukan, riwayat keluarga jantung, atau diabetes—pemeriksaan lebih lanjut ke dokter sangat dianjurkan. Dengan memahami perbedaan gejala, pasien dapat mengambil langkah cepat untuk diagnosis dan penanganan yang tepat, sehingga risiko komplikasi dapat diminimalkan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Trump Lakukan Tiga Pemeriksaan Medis di Walter Reed
Air Kelapa 15 Hari: Hidrasi, Pencernaan, Berat Badan
Gejala Kulit Leukemia: Memar, Benjolan, Infeksi, dan Lainnya
Almond vs. Kacang Tanah: Pilihan Nutrisi Jantung Kesehatan
BPOM Tegaskan Indonesia Jadi Pemain Utama ATMP Terapi Gen
Peringatan WMO: El Nino 2026 Siap Guncang Indonesia
Berita Terbaru
Kebakaran 4 Ha di Bangka Barat Padam dalam 1 Jam pada 3 Juni
Khutbah Jumat Akhir Tahun: Refleksi dan Muhasabah 1447 H
Curacao masuk Piala Dunia 2026, Chong satu pemain asli
Beasiswa AGRTPS 2026: 5 Slot Buka, Pendaftaran Hingga 18 Juni
BGN Digeledah, Pimpinan Baru Fokus Perbaikan Tata Kelola
AS Pasang Tarif 10‑12,5% ke Barang Indonesia dan 59 Negara
