China PhD Praktis: Gelar Doktor lewat Produk Nyata
Gambar atau konten salah?
Di banyak negara, gelar PhD biasanya diperoleh setelah menulis disertasi panjang. Namun, sejak 2024, China telah memperkenalkan cara baru: mahasiswa dapat meraih gelar tersebut hanya dengan menghasilkan produk nyata.
Contohnya, Zheng Hehui, seorang mahasiswa doktoral di Universitas Nanjing, berhasil mempertahankan PhD dengan membangun sebuah rangka balok baja bertulang. Rangka ini dirancang untuk menahan beban tiang jembatan besar, dan kini sudah dipasang pada jembatan kereta api serta jalan raya bertiang kabel raksasa di Sungai Yangtze.
Alih‑alih menulis ratusan halaman di atas kertas, mahasiswa diharuskan langsung memberikan kontribusi bagi negara. Penemuan Zheng tidak hanya menjadi karya akademis, tetapi juga menjadi bagian penting dari infrastruktur publik.
Program ini dikenal sebagai “PhD Praktis”. Undang‑undang yang mengaturnya disahkan pada tahun 2024, memungkinkan universitas memberikan gelar doktor di bidang teknik berdasarkan prototipe fisik, teknologi baru, atau instalasi proyek besar. Tujuannya adalah menghindari penelitian yang hanya mengutip karya lain dan menutup celah antara teori dan praktik.
Li Jiang, ilmuwan informasi di Universitas Nanjing, menegaskan bahwa “Ada kesenjangan besar antara pengetahuan teoritis yang mereka pelajari dari buku dan kemampuan praktis yang dibutuhkan masyarakat dari mereka,” ujar Li Jiang, seorang ilmuwan informasi di Universitas Nanjing, dikutip dari ZME Science, Jumat (27/3/2026).
Sejauh ini, sebelas insinyur telah memperoleh gelar doktor melalui program praktis ini. Produk mereka sudah diaplikasikan, mulai dari blok tiang jembatan seperti yang dibuat Zheng hingga sistem pemadam kebakaran baru untuk pesawat amfibi besar.
Tokoh perintis lain adalah Wei Lianfeng, peneliti dari Institut Tenaga Nuklir Tiongkok. Ia baru saja menyelesaikan program doktoran di Institut Teknologi Harbin (HIT). Tesisnya mengembangkan proses pengelasan laser vakum dan peralatan terkait.
Program ini lahir dari reformasi pendidikan tinggi China, yang dipicu oleh kepentingan keamanan nasional dan kebutuhan untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Kementerian Pendidikan meluncurkan program percontohan di 18 bidang penting, termasuk elektronika, teknologi informasi, dan semikonduktor.
Zong Yingying, Wakil Dekan Eksekutif Pascasarjana di HIT, menyatakan bahwa banyak masalah teknik tidak cocok dengan format tesis tradisional. Solusinya, menurutnya, ada pada teknologi itu sendiri.
Dalam tiga tahun terakhir, program ini tumbuh pesat. Sekarang ada 50 perguruan tinggi pascasarjana khusus insinyur, 20.000 mahasiswa teknik terdaftar, serta partisipasi lebih dari 100 perusahaan dan 60 universitas. Universitas Tsinghua, misalnya, bermitra dengan 56 perusahaan dan telah memperoleh lebih dari 100 paten mahasiswa pascasarjana.
Model pembelajaran baru menuntut mahasiswa tidak hanya mengejar nilai A. Setiap mahasiswa akan mendapatkan dua pembimbing: satu akademis dan satu praktisi industri. Dengan begitu, mahasiswa diharapkan dapat menciptakan produk yang berguna di kehidupan nyata.
Li Jiang menambahkan, “Banyak profesor teknik di universitas‑universitas Tiongkok selalu berprofesi sebagai akademisi dan tidak pernah bekerja di industri. Itulah mengapa penting untuk memasangkan mereka dengan para ahli dari industri untuk mengajar para mahasiswa doktoral tersebut.”
Namun, menilai produk nyata lebih sulit daripada menilai disertasi. Sun Yutao, peneliti kebijakan inovasi di Universitas Teknologi Dalian, berkata, “Relatif mudah untuk menilai apakah sebuah tesis itu bagus, tetapi jauh lebih sulit untuk mengevaluasi produk nyata, apalagi memutuskan apakah itu setara dengan lompatan besar bagi suatu industri.”
Program ini juga menghadapi tantangan dalam pengawasan kualitas pembimbing. Jika ahli industri yang ditunjuk oleh universitas tidak kompeten, kualitas gelar doktor dapat terpengaruh.
Statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2024, China meluluskan 97.000 doktor. Meskipun program “PhD Praktis” masih minoritas, minatnya cukup tinggi. Para ahli berpendapat bahwa program ini tidak dapat menggantikan ilmu dasar berbasis teori, melainkan hanya relevan bagi bidang-bidang hibrida seperti desain, perangkat medis canggih, dan diagnosis cerdas. Di masa depan, perbedaan antara teknik dan sains akan semakin kabur.
Program ini menandai langkah China untuk menghubungkan teori dan praktik. Meskipun masih menghadapi kendala evaluasi dan pengawasan, upaya ini menunjukkan bahwa gelar doktor dapat bertransformasi menjadi alat nyata bagi pembangunan negara.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Penyerapan Pupuk Subsidi di Bandung Terhambat El Nino
Jadwal Sholat Jumat 12 Juni 2026 di 38 Wilayah Jawa Timur
Pertamina Dukung Konservasi Lebah di P4S Lembah Suhita
Piala Dunia 2026: Meksiko vs Afrika Selatan Stadion Azteca
Piala Dunia 2026: Belanda Siap Menjadi Juara di Format Baru
Jadwal Puasa Sunnah Muharram 1448: Asyura, Tasu'a & Lainnya
Bandung Jewellery Fair 2026 Menarik Pecinta Perhiasan
Meksiko vs Afrika Selatan Pembuka Piala Dunia 2026 di Azteca