Curah Hujan Tinggi di Indonesia Mei 2026 Meski Kemarau
Gambar atau konten salah?
Prediksi cuaca di Indonesia pada bulan Mei 2026 menunjukkan curah hujan yang masih tinggi, meski secara klimatologis wilayah ini biasanya sudah memasuki fase kemarau.
Menurut data resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi hujan meningkat di awal Mei 2026. Pada periode 01‑03 Mei 2026, hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem terpantau di sejumlah wilayah. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat, mengingat harapan akan berkurangnya curah hujan seiring berjalannya musim kemarau.
Berbagai faktor alam memengaruhi pola cuaca. BMKG menjelaskan enam faktor utama yang berkontribusi pada hujan berkelanjutan di bulan Mei.
1. Aktivitas Gelombang Atmosfer – Gelombang Rossby ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby‑Gravity (MRG) masih aktif melintasi Indonesia. Gelombang ini memodulasi proses konvektif pada skala luas, sehingga mendukung pembentukan awan hujan di banyak daerah.
2. Fenomena Madden‑Julian Oscillation (MJO) – Pada fase 2, MJO menguat dan menambah peluang terbentuknya awan hujan. Fenomena ini melintasi Sumatera, Jawa barat, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB, NTT, hingga Maluku.
3. Sirkulasi Siklonik – Keberadaan sirkulasi siklonik di pesisir barat dan utara Sumatera, Kalimantan utara, perairan utara Maluku, serta pesisir utara Papua memperkuat potensi hujan. Sirkulasi ini meningkatkan pertumbuhan awan konvektif.
4. Suhu Permukaan Bumi yang Tinggi – Pemanasan permukaan bumi pada siang hari masih cukup kuat, dikombinasikan dengan kelembaban tinggi. Kondisi ini mendukung terbentuknya awan hujan meski Indonesia sudah memasuki fase transisi musim.
5. Bibit Siklon Tropis 92W – BMKG mencatat adanya bibit siklon tropis 92W di Samudra Pasifik utara Papua. Selain itu, sirkulasi siklonik di Selat Makassar, Laut Banda, perairan barat Bengkulu, dan barat laut Aceh membentuk daerah konvergensi dan konfluensi, memicu pengangkatan massa udara dan pertumbuhan awan hujan.
6. Angin Monsun Australia – Monsun Australia membawa angin timuran yang semakin kuat. Angin ini membawa massa udara lebih kering, sehingga tutupan awan berkurang dan suhu siang hari meningkat. Meski demikian, kondisi ini mempertegas peralihan musim menuju kemarau.
Dengan kombinasi faktor tersebut, potensi hujan tetap tinggi, terutama di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku bagian selatan dan tenggara, serta Papua. Dinamika cuaca di Indonesia masih aktif dan belum sepenuhnya stabil meski berada dalam masa transisi musim.
BMKG memproyeksikan potensi hujan selama satu minggu ke depan. Secara umum, cuaca didominasi hujan ringan hingga hujan sedang, dengan beberapa wilayah berpotensi hujan intensitas tinggi.
Periode 05‑07 Mei 2026
Di periode awal, hujan ringan hingga lebat umum. Namun, BMKG mengingatkan potensi peningkatan hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat di banyak wilayah. Berikut wilayah yang diwaspadai:
- Hujan dengan Intensitas Sedang hingga Lebat (Waspada) – Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Selatan.
- Hujan dengan Intensitas Lebat hingga Sangat Lebat (Siaga) – Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Banten, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Maluku, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua.
Periode 08‑11 Mei 2026
Di periode berikutnya, cuaca masih didominasi hujan ringan hingga sedang. Potensi hujan intensitas sedang hingga lebat masih perlu diwaspadai di hampir seluruh wilayah. Berikut wilayah yang diwaspadai:
- Hujan dengan Intensitas Sedang hingga Lebat (Waspada) – Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua.
- Hujan dengan Intensitas Lebat hingga Sangat Lebat (Siaga) – Aceh, Sulawesi Barat, Papua Pegunungan.
BMKG juga mencatat potensi angin kencang di beberapa wilayah, namun prediksi angin kencang di wilayah siaga masih nihil.
BMKG telah merilis prediksi musim kemarau 2026 melalui konferensi pers. Menurut data, musim kemarau diperkirakan mulai masuk secara bertahap pada periode 04 April 2026 hingga 30 Juni 2026. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi secara bertahap mulai Juli hingga September, dengan mayoritas wilayah terdampak pada Agustus 2026. Musim kemarau diperkirakan berakhir pada akhir September 2026, sebelum kembali ke musim hujan pada Oktober 2026. Pola musim di Indonesia tidak seragam di semua wilayah karena dipengaruhi karakteristik iklim lokal yang berbeda.
Dengan demikian, meskipun secara klimatologis bulan Mei biasanya identik dengan peralihan menuju musim kemarau, kombinasi faktor atmosferik, suhu permukaan, dan sirkulasi siklonik masih memungkinkan curah hujan tinggi. Kondisi ini menegaskan bahwa dinamika cuaca di Indonesia masih cukup aktif, dan masyarakat di berbagai wilayah harus tetap waspada terhadap potensi hujan intensitas tinggi yang dapat terjadi selama minggu berikutnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
