Denpasar Catat 12.090 Kasus ISPA, Dampak Musim Pancaroba

Ratna D. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 54 dibaca
Bisik.id
Denpasar Catat 12.090 Kasus ISPA, Dampak Musim Pancaroba

Gambar atau konten salah?

Denpasar mencatat 12.090 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada periode 01 Januari 2026 hingga 28 Februari 2026, menurut data Dinas Kesehatan (Dinkes) Denpasar. Jumlah ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Kelompok usia yang paling terdampak ISPA adalah dewasa, 19‑59 tahun, dengan 5.318 kasus. Pusat layanan kesehatan yang melaporkan jumlah tertinggi berada di Puskesmas I Denpasar Selatan I (2.991 kasus) dan Puskesmas III Denpasar Utara (1.748 kasus). Data ini menegaskan bahwa wilayah kerja puskesmas menjadi titik fokus pengawasan penyakit.

Selain ISPA, Dinkes juga memantau kasus demam berdarah dengue (DBD) dan diare. Hingga 30 April 2026, terdapat 1.799 suspek diare, di mana 1.390 kasus terjadi pada usia di atas 5 tahun. DBD mencapai 88 suspek, dengan mayoritas pada usia 15‑44 tahun (43 kasus). Meskipun jumlah DBD turun dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya, ISPA tetap menjadi penyakit yang paling meningkat.

“Selain ISPA, juga ada DBD dan diare yang perlu diwaspadai selama musim pancaroba ini,” ujar Kadinkes Denpasar, Anak Agung Ayu Agung Candrawati, pada wawancara 07 April 2028. Ia menekankan bahwa perubahan iklim dan sanitasi lingkungan mempermudah penyebaran penyakit.

Genangan air menjadi habitat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti. “Genangan air itu kan bisa buat habitat ideal nyamuk Aedes aegypti. Tetapi, selain sanitasi buruk, individu yang pernah terkena virus dengue memiliki risiko terpapar DBD lebih besar,” jelas Candrawati. Ia juga menjelaskan bahwa diare tidak hanya berasal dari bakteri seperti E. coli atau Salmonella, tetapi juga virus (Rotavirus, Norovirus) dan parasit (Giardia lamblia, Entamoeba histolytica).

Untuk mencegah infeksi, Candrawati menyarankan warga menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Langkah-langkahnya meliputi menjaga kebersihan lingkungan, memakai masker atau alat pelindung diri (APD) lain, cukup minum, makan gizi seimbang, dan berolahraga. Ia menegaskan bahwa pemerintah sedang meningkatkan surveilans, edukasi PHBS, serta pencegahan vektor penyakit melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Peningkatan pelayanan fasilitas kesehatan, khususnya di puskesmas, juga menjadi fokus utama.

Data ini menyoroti pentingnya perhatian terhadap ISPA selama musim pancaroba. Keterbatasan sanitasi dan perubahan iklim menjadi faktor kunci penyebaran penyakit, sementara upaya PHBS dan pengendalian vektor tetap menjadi strategi utama dalam menurunkan angka kasus di Denpasar.

ISPADinkesPuskesmasDBDDiareSanitasiPHBS

Komentar

Memuat komentar...