Desa Tutup Blora: Sejarah Mbah Datuk dan Pohon Trutup
Gambar atau konten salah?
Desa Tutup terletak di Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora. Nama desa ini unik, menimbulkan rasa penasaran. Desa ini terdiri dari tiga dukuh: Dukuh Tutup, Ngetrep, dan Sukorame. Meskipun terletak di wilayah pedesaan, Desa Tutup hanya berjarak beberapa kilometer dari pusat kota Blora.
Secara geografis, Desa Tutup dikelilingi oleh lima desa lain. Di utara terdapat Desa Sukorejo, di timur wilayah Kelurahan Sonorejo dan Kelurahan Tambahrejo, di baratnya Desa Buluroto, dan di selatan Desa Tamanrejo. Jaraknya hanya 2,5 km dari pusat kota Blora, membuatnya mudah diakses.
Selama kunjungan ke Desa Tutup, penulis dibawa oleh sejarawan Blora bernama Dalhar Muhammadun, yang sering dipanggil Madun. Ia menjelaskan bahwa nama Desa Tutup berasal dari pohon trutup. Pohon ini memiliki karakter mirip kayu along atau Melanolepis Multiglandulosa. Di beberapa daerah, pohon ini disebut trutup beling atau balik angin, namun masyarakat Desa Tutup menyebutnya trutup.
Pohon trutup memiliki daun berbentuk hati dengan tepi sedikit bergerigi. Kategori pohon ini termasuk keras, dan buahnya bulat kecil-kecil. “Pohon trutup ini dulunya sering kita temui di desa sini. Biasanya di belakang rumah, ada juga yang memanfaatkan pohon trutup sebagai pembatas tanah,” ujar Madun, sambil menunjukkan salah satu pohon trutup pada 28 Mei 2026.
Walaupun pohon trutup mudah tumbuh di Indonesia, kini jarang ditemukan, termasuk di Desa Tutup. Buahnya menjadi incaran burung terucukan, sementara daunnya memiliki manfaat kesehatan. “Buahnya dimakan burung terucukan. Pohon trutup itu bisa digunakan mengobati penyakit trutup, itu penyakit kulit semacam panu atau kadas dan khusus hanya di muka. Nama penyakitnya juga trutup,” jelas Madun.
Selain cerita tentang pohon, ada versi lain mengenai asal nama Desa Tutup. Madun, yang juga Ketua Dewan Kebudayaan, mengungkapkan bahwa desa ini pernah menjadi tempat pelarian bagi tentara Diponegoro. Pasukan tempur Diponegoro, yang bersembunyi di Desa Tutup, dipimpin oleh Raden Ngabehi Honggowijoyo, dikenal dengan nama Mbah Datuk, sekitar tahun 1830.
Menurut Madun, Mbah Datuk memilih Desa Tutup sebagai tempat persembunyian karena banyak pohon trutup di sana. “Mbah Datuk menjadi cikal bakal nama Desa Tutup. Pada pelariannya, Mbah Datuk tiba di sebuah daerah di mana daerah tersebut banyak pohon trutup. Disanalah Mbah Datuk beristirahat dan bersembunyi,” kata ia.
Madun menambahkan bahwa kata Tutup berarti menutup diri dari pasukan Belanda. Desa tersebut menjadi tempat persembunyian, menutup aktivitas agar tidak terdeteksi. “Kenapa menjadi Desa Tutup. Bahwa desa setempat itu tempat pelarian, tempat persembunyian pasukan Diponegoro. Maka desa situ memang tertutup, memproteksi diri, menutup diri. Menutup diri dari pengawasan orang luar, kehadiran orang luar termasuk pasukan musuh,” ujarnya.
Seiring waktu, keturunan Mbah Datuk menerima pengakuan dari bupati Blora. Salah satu putra Mbah Datuk pernah menjadi Wedono Jati. Beberapa keturunan Mbah Datuk juga menjabat lurah desa. Tiga generasi keturunan Mbah Datuk secara berurutan menjadi lurah Tutup: R. Honggodiwiryo (Lurah Tutup I), R. Citrodiwiryo (Lurah Tutup II), dan R. Sumarjo Citrodijoyo (Lurah Tutup III). Nama terakhir, Sumarjo Citrodijoyo, lebih sering dipanggil Mbah Lurah Citro, menjabat selama 51 tahun hingga tahun 1950.
Mbah Datuk, alias Raden Ngabehi Honggowijoyo, dimakamkan di pemakaman keluarga, Makam Keluarga Trah Honggowijoyo, di Desa Tutup. Sisa peninggalan yang masih dapat dilihat hari ini adalah beberapa bagian rumah Mbah Lurah Citro. Rumah tersebut kini dihuni oleh menantu Mbah Lurah Citro, Sri Lestari, istri Soedarwanto, keturunan Mbah Datuk. Makam Mbah Datuk dikelilingi pagar batu bata setinggi sekitar 30 centimeter, tanpa batu nisan, hanya ada pohon kamboja.
Rumah Mbah Lurah Citro terletak di tengah pemukiman warga, menghadap ke selatan. Walaupun tampak modern, masih ada bagian kuno: pintu berjejer empat susun, meja kursi satu set terbuat dari marmer, dan beberapa lemari kayu kuno. Sri Lestari, yang berusia 86 tahun, menjelaskan bahwa meja kursi itu dibuat untuk menyambut tamu dan digunakan sebagai tempat makan. “Meja kursi ini dibuat duduk. Ini kan kuno, mejanya dari marmer. Ini zamannya Mbah Citro,” kata Sri.
Di luar rumah, ada sketsel kuno yang awalnya empat lipat, satu hilang. Rumah sebelumnya sedikit ke belakang, namun setelah ditempati Soedarwanto dan istrinya, rumah tersebut sedikit dimajukan. “Awalnya rumah ini halamannya luas, dari belakang kita pindah ke depan. Dan halaman belakang rumah dimanfaatkan untuk tanaman,” jelas Sri.
Berbagai narasi lokal juga mencatat asal nama Desa Tutup. Yuda Wikanto, alias Gilang, mengatakan bahwa nama desa berasal dari pohon trutup. “Untuk orang kuno Desa Tutup dari Trutup. Hanya saja kadang lidah orang Jawa membuat huruf ‘R’ hilang menjadi tutup,” jelasnya.
Kepala Pokdarwis Desa Tutup, Isnu Widiyatmoko, menegaskan bahwa Raden Ngabehi Honggowijoyo, atau Mbah Onggo, adalah pendiri desa. Ia juga menjelaskan bahwa Mbah Onggo berasal dari Keraton Kasunanan Surakarta dan termasuk tentara Pangeran Diponegoro yang kabur dan bersembunyi di Desa Tutup. “Dulu ceritanya Mbah Onggo yang buka desa, itu masih keturunan Keraton Solo. Kalau versi pertama, tutup artinya menutupi kegiatan dalam melawan Belanda. Menutupi gerakan terhadap Belanda. Menutupi informasi kepada Belanda. Terus terkenal Desa Tutup,” ujarnya.
Menurut mantan ketua RT, ada dua versi asal nama. Versi pertama menekankan peran Mbah Onggo, sementara versi kedua menekankan keberadaan pohon trutup. “Infonya banyak tanaman trutup. Dan cerita ini masih melekat khususnya pada kalangan tua, tahu semua. Kalau anak muda banyak yang belum tahu,” tambahnya.
Desa Tutup, dengan sejarahnya yang kaya, tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Blora. Nama yang sederhana namun bermakna, pohon yang pernah tumbuh subur, dan kisah perjuangan yang melekat pada setiap sudut desa. Seiring waktu, cerita-cerita ini terus diceritakan, menjaga identitas dan sejarah desa bagi generasi berikutnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026
