Dr. Tirta di Podcast Raditya Dika: Makan Soto Solo Favorit
Gambar atau konten salah?
Dr. Tirta, seorang dokter umum dan edukator kesehatan yang lulus dari Universitas Gadjah Mada, muncul sebagai bintang tamu di podcast Raditya Dika. Bersama dr. Gia Pratama, penulis sekaligus dokter, dua narasumber ini membawa nuansa berbeda ke dalam percakapan.
Di sela‑sela diskusi tentang kesehatan, Raditya menanyakan makanan favorit dr. Tirta. Dengan lantang, ia menjawab: Soto! Soto tanpa kecap! Setelah itu, pertanyaan beralih ke tempat favorit di Jakarta. Dr. Tirta mengaku tidak menemukan tempat yang disukainya di ibu kota, menambahkan: Nggak ada, nggak ada. Soto paling enak semuanya di Solo dan Jogja.
Ketika diminta untuk menyebutkan tempat soto favoritnya, dr. Tirta memunculkan tiga nama yang sudah menjadi legenda: Soto Kirana, Soto Gading, dan Soto Triwindu. Ia berkata: Aku sih Soto Kirana enak, Soto Gading, Soto Triwindu ya enak. Ia juga menambahkan: Tapi (di Solo) itu Soto Triwindu, Kirana itu yang pendatang ke sana dulu, terus Triwindu, terus Gading. Nah nanti ada soto-soto underground lagi.
Keberadaan ketiga restoran ini menegaskan sejarah panjang soto Solo. Soto Kirana telah berdiri sejak 1982, Soto Triwindu sejak 1939, dan Soto Gading sejak 1974. Meskipun berusia berabad-abad, soto di ketiganya tetap mempertahankan cita rasa klasik: daging iris, kuah bening, tauge, seledri, dan bawang goreng. Biasanya, soto ini disajikan bersama nasi, serta pelengkap seperti perkedel, tempe garit, paru goreng, dan aneka sate.
Dr. Tirta, yang lahir pada tahun 1991, menegaskan bahwa soto bukan sekadar makanan, melainkan bagian penting dari warisan kuliner Jawa Tengah. Ia menyoroti bahwa soto Solo dan Jogja memiliki keunikan tersendiri, dan ia menantikan munculnya soto “underground” yang akan membawa nuansa baru ke dalam hidangan tradisional.
Podcast ini menampilkan bagaimana seorang profesional kesehatan dapat berbagi pandangan pribadi tentang makanan, sekaligus menyoroti pentingnya tradisi kuliner dalam konteks budaya Indonesia. Dr. Tirta menunjukkan bahwa rasa dan sejarah dapat bersatu dalam satu mangkuk soto, menegaskan bahwa makanan tradisional tetap relevan di tengah kehidupan modern.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kelas Memasak Mentolo dan Petulo di Jakarta: Tradisi Kue Jawa
Disney Adventure Bayar Rp106.000 Setiap Room Service
Makanan Ular di Asia: Sup Hong Kong, Sate Indonesia, dan Lagi
Han Lewat 25 Tahun di KFC, Buka Warung Ayam Mantan KFC
Zushiku: Sushi Grab‑n‑Go Menyajikan Rasa Autentik di Jakarta
Bump: Kue Protein Sehat 170 Kalori dari Montreal Fitness
Berita Terbaru
Paula Hurd & Bill Gates Bersinergi di Breakthrough Prize 2026
Tren Strava Fridge: Minuman di Kulkas Minimarket Jadi Viral
Trump Lakukan Tiga Pemeriksaan Medis di Walter Reed
Bandara Husein Sastranegara Dipertimbangkan Rute Luar Jawa
Martinez: Pensiun Bila Argentina Raih Gelar Dunia Kedua
UB SNBT 2026: 5.842 Lolos dari 82.613 Pilihan, Ketat
IHSG Turun 4,11% di Tengah Sesi, Rupiah Menguat
