Dua Spesies Anggrek Baru Tercatat di Gunung Semeru
Gambar atau konten salah?
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengumumkan pencatatan dua spesies anggrek baru di Gunung Semeru. Anoectochilus papuanus dan Acanthophippium bicolor ditemukan di lereng selatan gunung, pada ketinggian 800 hingga 1.100 meter di atas permukaan laut.
Penemuan ini penting karena kedua anggrek tersebut belum pernah tercatat di Pulau Jawa maupun di Indonesia. Mereka baru saja masuk ke daftar keanekaragaman hayati nasional. Anoectochilus papuanus pertama kali ditemukan pada tahun 2022, sementara Acanthophippium bicolor ditemukan pada tahun 2023.
Toni Artaka, koordinator Pengendali Ekosistem Hutan TNBTS, menjelaskan proses panjang dari penemuan hingga pengakuan ilmiah. “Sejak ditemukan sampai pengajuan jurnal ilmiah butuh waktu sekitar satu sampai dua tahun, setelah itu proses publikasi ilmiah hampir dua tahun.”
Menurut Artaka, validasi botani harus melewati tahapan ketat sebelum dipublikasikan. “Penemuan dua jenis anggrek itu merupakan catatan baru untuk Pulau Jawa dan Indonesia,” ujarnya kepada wartawan pada hari Rabu, 20 Mei 2026.
Secara morfologi, kedua anggrek memiliki ciri khas yang menarik. Anoectochilus papuanus masuk ke dalam kelompok Jewel Orchids. Daun berurat berukuran dua sampai lima sentimeter, bunga tinggi 12 sentimeter. Bunga memadukan warna marun dan putih transparan, dilapisi rambut halus di seluruh bagian.
Sementara itu, Acanthophippium bicolor termasuk ke dalam kelompok Jug Orchids. Tanaman ini lebih tinggi, mencapai 60 sentimeter dari pangkal hingga ujung daun. Dua daun hijau bertahan sepanjang tahun, umbi semu tumbuh merumpun hingga 20 sentimeter panjang. Bunga berdiameter empat sentimeter, berbentuk menyerupai kendi, dengan warna merah menyala dan kuning pucat.
Penemuan ini juga memperluas peta sebaran geografis kedua spesies. Sebelumnya, Anoectochilus papuanus hanya diketahui tersebar dari Papua hingga Kepulauan Solomon. Acanthophippium bicolor hanya tercatat di India dan Sri Lanka.
TNBTS menegaskan bahwa kedua anggrek ini relatif sulit ditemukan dan tergolong langka. Oleh karena itu, perlindungan khusus diperlukan. “Status konservasi kedua tanaman cantik ini masih memerlukan kajian lebih mendalam,” ujar Artaka.
Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), kedua spesies masih dalam kategori not evaluated atau belum dievaluasi. Hingga saat ini, mereka belum memiliki nama lokal di Indonesia.
Untuk status konservasi domestik, TNBTS berencana koordinasi lebih lanjut dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hal ini penting agar perlindungan dapat diatur secara resmi dan terintegrasi dengan kebijakan nasional.
Keberadaan dua anggrek ini di Gunung Semeru menambah nilai keanekaragaman hayati di kawasan tersebut. Penelitian lebih lanjut diharapkan dapat mengungkap potensi ekologi dan nilai konservasi yang lebih luas.
Dengan catatan baru ini, TNBTS menegaskan komitmennya untuk melestarikan flora langka. Penemuan ini menjadi contoh penting bagaimana penelitian lapangan dapat memperkaya pengetahuan tentang flora Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
