Ebola Kembali Mengancam DRC, WHO Sebut Darurat Kesehatan

Wahyu T. · 2 min baca · 22 hari lalu · 49 dibaca
Bisik.id
Ebola Kembali Mengancam DRC, WHO Sebut Darurat Kesehatan

Gambar atau konten salah?

Ebola kembali muncul di wilayah Republik Demokratik Kongo, menimbulkan perhatian internasional. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai situasi ini sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat Internasional setelah laporan 131 orang meninggal dan ratusan lainnya terinfeksi.

Virus ini pertama kali terdeteksi pada tahun 1976 di daerah dekat Sungai Ebola. Karena letak geografisnya, virus tersebut diberi nama Ebola. Sejak saat itu, wabah berulang kali melanda beberapa negara di Afrika.

Secara biologis, virus Ebola menyerang sistem kekebalan tubuh. Penyakit ini termasuk dalam kategori demam berdarah virus, yang dapat menyebabkan perdarahan hebat, kerusakan organ, dan kematian. Salah satu kesalahpahaman umum adalah bahwa virus ini menular melalui udara seperti Covid‑19. Faktanya, virus Ebola tidak menular lewat udara; penularan hanya terjadi bila ada kontak langsung dengan darah, sekresi, organ, atau cairan tubuh lainnya.

Asal usul virus ini diperkirakan berasal dari kelelawar buah (famili Pteropodidae), yang merupakan inang alami Orthoebola. Penularan ke manusia biasanya terjadi ketika seseorang berhubungan dekat dengan hewan terinfeksi—kelelawar buah, simpanse, gorila, monyet, antelop hutan, atau landak—atau ketika mengkonsumsi daging mentah yang berasal dari hewan tersebut.

Gejala Ebola muncul dalam rentang 2 hingga 21 hari setelah paparan. Pada tahap awal, gejalanya menyerupai flu biasa: demam, kelelahan, rasa tidak enak badan, nyeri otot, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Jika tidak segera diobati, gejala berkembang menjadi muntah, diare, sakit perut, ruam, serta gangguan fungsi ginjal dan hati. Perdarahan, baik internal maupun eksternal, biasanya muncul di tahap akhir penyakit. Pasien dapat mengalami darah dalam muntah dan tinja, perdarahan dari hidung, gusi, atau vagina, serta perdarahan di tempat jarum menusuk kulit.

Upaya pencegahan dan pengendalian melibatkan beberapa langkah penting:

  • Kurangi risiko penularan dari satwa liar dengan tidak mengkonsumsi daging mentah hewan terinfeksi.
  • Hindari kontak langsung dengan orang yang terinfeksi, terutama cairan tubuhnya.
  • Isolasi pasien di fasilitas kesehatan yang ditunjuk untuk mencegah penyebaran di rumah.
  • Berikan informasi yang jelas kepada masyarakat tentang penyakit dan cara mengendalikan wabah.
  • Penguburan jenazah dilakukan dengan aman dan bermartabat.
  • Identifikasi orang yang mungkin telah berhubungan dengan pasien, lalu pantau kesehatan mereka selama 21 hari.
  • Jaga kebersihan lingkungan dan hindari kontak dengan orang sakit.

WHO menegaskan bahwa penyebaran virus ini belum dapat diprediksi secara pasti, namun langkah-langkah pencegahan yang tepat dapat mengurangi risiko. Penanganan cepat dan isolasi pasien menjadi kunci utama untuk menghentikan rantai infeksi.

Menurut data terakhir, 131 orang telah meninggal akibat wabah ini, sementara jumlah yang terinfeksi masih terus bertambah. Pemerintah setempat bekerja sama dengan organisasi internasional untuk memperluas program vaksinasi dan meningkatkan kapasitas fasilitas kesehatan.

Dalam konteks global, virus Ebola tetap menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Meskipun tidak menular lewat udara, potensi penyebaran melalui kontak langsung menuntut kewaspadaan tinggi. Peningkatan kesadaran, pelatihan tenaga kesehatan, dan dukungan logistik menjadi faktor penting dalam menanggulangi wabah ini.

Dengan langkah-langkah pencegahan yang konsisten, masyarakat dapat mengurangi risiko penularan. Penanganan cepat, isolasi pasien, dan pengawasan ketat terhadap kontak potensial menjadi strategi utama. Masyarakat juga diharapkan untuk mengikuti petunjuk dari otoritas kesehatan dan menjaga kebersihan lingkungan agar wabah tidak menyebar lebih luas.

EbolaRepublik Demokratik KongoWHOpenularankontak langsungisolasi pasienvaksinasisatwa liar

Komentar

Memuat komentar...