El Nino 1997-98: Dampak Besar, Pemantauan Global Berhasil
Gambar atau konten salah?
El Nino, fenomena cuaca yang memengaruhi iklim global, sedang dipantau dengan cermat karena potensi intensitasnya yang tinggi. Para ilmuwan berharap kejadian ini tidak mencapai keparahan yang sama seperti periode 01 Mei 1997 hingga 30 Juni 1998, yang dikenal sebagai salah satu El Nino paling merusak dalam sejarah.
Indikasi anomali suhu laut mulai terdeteksi pada akhir tahun 1996. Melalui jaringan pelampung tertambat di Samudra Pasifik, para meteorolog mengamati peningkatan suhu air laut. Meskipun data awal menunjukkan parameter yang sangat tidak biasa, hal itu menandai awal kehadiran El Nino.
Di bulan 01 Februari 1997, massa air hangat terpantau meluas di ekuator Pasifik, menutupi wilayah dari pesisir Peru hingga Papua Nugini. Jaraknya melebihi 11.000 kilometer, menandakan penyebaran luas. Pada 01 Mei 1997, massa air tersebut bergerak menuju Pasifik timur, meningkatkan anomali suhu di bawah permukaan laut hingga lebih dari 6 °C di atas batas normal.
Menurut informasi yang dihimpun dari IFL Science, massa air hangat akhirnya naik ke permukaan. Suhu permukaan laut di bagian timur meningkat secara signifikan, menandai kemunculan El Nino dalam skala besar. Data ini menjadi bukti kuat bahwa fenomena ini sudah berkembang secara ilmiah.
Monitoring El Nino menggunakan pelampung laut dimulai pada pertengahan 1980‑an, setelah peristiwa El Nino 1982‑1983 yang berdampak luas namun sulit diprediksi. Sistem ini kemudian diperluas pada pertengahan 1990‑an, ketika seluruh jaringan pelampung terpasang secara menyeluruh.
Dengan teknologi ini, peristiwa 1997‑1998 menjadi El Nino pertama yang berhasil dipantau secara ilmiah secara komprehensif. Dari fase awal hingga akhir, data dikumpulkan secara terus-menerus, memberikan pemahaman yang lebih baik tentang dinamika cuaca tersebut.
Pengamatan ini tidak hanya penting bagi para peneliti, tetapi juga bagi sektor pertanian dan perikanan yang rentan terhadap perubahan iklim. Dengan data yang lebih akurat, kebijakan mitigasi dapat dirancang lebih tepat.
Secara keseluruhan, El Nino 1997‑1998 menunjukkan pentingnya sistem pemantauan global. Penelitian ini menegaskan bahwa meski teknologi telah berkembang, pemahaman tentang fenomena cuaca masih memerlukan observasi berkelanjutan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
