Emosi Tertahan Bisa Memicu Kanker, Dr Andhika Jelaskan

Endah K. · 1 min baca · 11 hari lalu · 39 dibaca
Bisik.id
Emosi Tertahan Bisa Memicu Kanker, Dr Andhika Jelaskan

Gambar atau konten salah?

Emosi yang dipendam sering dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker. Topik ini ramai dibicarakan di media sosial, dan seorang spesialis penyakit dalam subspesialis hematologi onkologi, Dr dr Andhika Rachman, SpPD‑KHOM, mengatakan ada kebenarannya. Namun ia menegaskan, tidak semua emosi yang dipendam dapat memicu kanker.

“Tapi, mana yang akan berwujud pada kanker? Yang kalau sampai mengakibatkan luapan emosi, itu jadi depresi, stres, dan stresnya yang bukan stres harian yang kita dapatkan,” ujar dr Andhika saat ditemui di acara The 6th Siloam Oncology Summit di Shangri‑La Hotel, Jakarta Pusat, Sabtu (23 Mei 2026).

Ia menjelaskan mekanisme yang terjadi ketika seseorang mengalami depresi. Tubuh akan memproduksi zat kimia sitokin pro‑inflamasi. Zat ini dapat memicu inflamasi atau peradangan. Inflamasi menimbulkan kenaikan suhu tubuh, yang pada gilirannya dapat mengubah beberapa sel secara genetik karena perubahan lingkungan.

“Akibatnya terjadi kerusakan, mulai ada kerusakan genetik. Di situlah, kalau gennya terganggu kemudian terjadi perubahan protein yang berwujud kepada jadinya keganasan,” ungkapnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa proses ini tidak semudah itu. Dibutuhkan waktu dan mekanisme panjang sebelum depresi dapat memicu kanker, serta mempertimbangkan faktor risiko lain seperti gaya hidup tidak sehat, faktor keturunan, dan lainnya.

Untuk mencegahnya, dr Andhika menyarankan kontrol stres, olahraga, dan jalan‑jalan santai. “Pencegahannya dengan kontrol stres dan jangan lupa olahraga, main‑main jalan‑jalan juga itu penting untuk bantu (mencegah),” tambahnya.

Secara keseluruhan, meski emosi yang dipendam dapat memicu peradangan, faktor lain masih berperan penting. Menjaga kesehatan mental dan fisik tetap menjadi strategi sederhana namun efektif dalam mengurangi risiko kanker.

emosikankerstresdepresiinflamasisitokinonkologipencegahan

Komentar

Memuat komentar...