FJTT Trenggalek Masuk KEN 2026, Bangga Dukung Pariwisata
Gambar atau konten salah?
Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) telah resmi masuk ke Kharisma Event Nasional (KEN) 2026, sebuah program yang diprakarsai oleh Kementerian Pariwisata. KEN akan menampilkan 125 acara terpilih dari 38 provinsi, bertujuan memperkuat daya tarik pariwisata nasional. Pencapaian ini menandai tonggak pertama bagi Trenggalek dalam kalender pariwisata nasional.
Proses seleksi KEN menuntut acara daerah memenuhi beberapa kriteria: telah berlangsung minimal tiga tahun berturut‑turut, dikelola secara profesional, dan tidak bersifat sekunder. "Betul, sesuai rilis dari Kementerian Pariwisata, FJTT masuk KEN 2026. Ini yang pertama kali bagi Trenggalek," ujar Kepala Bidang Pemasaran Disparbud Trenggalek, Bambang Supriyadi, pada 26 Januari 2026. Pencapaian ini tidak datang begitu saja; pemerintah daerah telah mengajukan festival ini berkali‑kali sebelum akhirnya berhasil lolos pada tahun 2026.
Selain Festival Jaranan, Disparbud Trenggalek juga pernah mengajukan acara tradisional Ngitung Batih di Kecamatan Dongko. Namun, hingga kini belum mendapat persetujuan Kemenpar. Dalam rangka memperluas cakupan budaya Jawa Timur, Bambang menjelaskan bahwa ada 11 acara yang masuk KEN 2026, termasuk Festival Reog dan Grebeg Suro Ponorogo, Jember Fashion Carnival, Banyuwangi Ethno Carnival, Festival Rujak Ulek Surabaya, Tong Tong Night Market Kota Malang, Segoro Topeng Kaliwungu Lumajang, Gandrung Sewu Banyuwangi, Surabaya Vaganza: Festival Of Lights, Festival Ronthek Pacitan, dan Festival Musik Tong Tong Sumenep.
“Trenggalek tentu bangga bisa mewarnai KEN 2026,” imbuhnya, menegaskan kebanggaan daerah atas pengakuan nasional. Keberhasilan ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisata dan memperkuat posisi Trenggalek sebagai destinasi budaya.
Sejarah Festival Jaranan Trenggalek terbuka panjang. Meskipun media sosial baru menampilkan akun Instagram @festivaljaranantrenggalek pada 2025, arsip menunjukkan festival ini telah berlangsung sejak lama. Pemerintah Daerah Trenggalek baru saja merayakan FJTT ke‑29 pada tahun 2025. Pada 24 Agustus 2023, Wakil Bupati Trenggalek, Syah Mohammad Natanegara, membuka Festival Jaranan Terbuka. Ia menyatakan bahwa acara ini telah menjadi agenda rutin pemerintah daerah selama 27 tahun terakhir.
Festival ini biasanya diselenggarakan setiap perayaan Hari Kemerdekaan dan Hari Jadi Trenggalek. Selain sebagai ajang perayaan, festival ini juga menjadi kompetisi dan adu kreasi para pelaku seni. Pada 2019, festival ke‑24 mencatat 58 grup peserta: 36 grup kategori umum, 6 grup SD/MI, 7 grup SMP/MTS, dan 9 grup SMA/MA/SMK. Dari kategori umum, 9 grup berasal dari luar kota, sementara 25 grup berasal dari Trenggalek.
"Untuk kategori umum ada 9 dari luar kota, sedangkan 25 grup dari lokal Trenggalek," kata Agus Setyono, Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek, pada 23 Agustus 2019. Kategori perlombaan yang sering diadakan meliputi jaranan khas Trenggalek Turonggo Yakso dan non‑Turonggo Yakso. Turonggo Yakso berkembang di daerah Trenggalek, khususnya di Kecamatan Dongko, sebagai kesenian rakyat yang awalnya diciptakan sebagai wujud syukur atas nikmat agraris masyarakat Dongko, yang mayoritasnya adalah petani. Kesenian ini diciptakan oleh Pamrih pada 1979 dan menampilkan jaran atau kuda berkepala buto atau raksasa dengan rambut lebat tergerai. Tunggangan penari Turonggo Yakso terbuat dari kulit sapi atau kerbau dan dibentuk menyerupai kuda berkepala sapi.
Di media sosial, festival tidak hanya menampilkan kompetisi. Akun Instagram @festivaljaranantrenggalek juga memperlihatkan pameran jaranan, workshop, dan bazar. Konsep branding festival ini mendapat pujian karena ilustrasi yang penuh warna, berbeda dari gambaran tradisional jaranan. Adhec, ilustrator di balik branding, membagikan prosesnya di akun tersebut. Ia mengatakan bahwa temannya takut menonton jaranan karena dianggap rusuh, padahal menurutnya tradisi ini tidak mengerikan. Ia ingin mengubah persepsi tersebut menjadi sesuatu yang ramah dan menyenangkan. Dengan mengubah elemen jaranan menjadi visual penuh warna, ia berharap dapat melepas pandangan kuno terhadap jaranan. Menurutnya, ilustrasi yang selaras dengan konsep acara dapat menjadi potongan kecil pengalaman yang dapat dibawa pulang oleh pengunjung.
Merchandise festival sudah tersedia sebelum acara dimulai dan tetap dijual selama acara berlangsung. Merchandise ini melibatkan kolaborasi dengan bisnis lokal, memberikan dampak positif pada ekonomi sekitar. Produk-produk tersebut mencakup kaos, topi, dan aksesori lain yang menampilkan ilustrasi jaranan yang cerah dan menarik.
Keberhasilan FJTT masuk KEN 2026 menandai langkah penting bagi Trenggalek dalam mempromosikan budaya lokal ke panggung nasional. Festival ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi seni, tetapi juga menjadi platform untuk memperkenalkan tradisi Turonggo Yakso, meningkatkan kesadaran akan nilai budaya, dan mendukung ekonomi kreatif daerah. Dengan dukungan Kemenpar dan kolaborasi lokal, FJTT berpotensi menarik lebih banyak wisatawan, memperkuat identitas Trenggalek, dan memperluas jaringan budaya di tingkat nasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
