Floccus Floccus Rilis Kue Lonely Kuih, Rasa Hakka di KL
Gambar atau konten salah?
Di Kuala Lumpur, Malaysia, sebuah kafe bernama Floccus Floccus menampilkan kue yang lebih dari sekadar makanan, melainkan sebuah konsep. Kafe ini dikenal dengan desain kue yang cantik dan menarik, sehingga sering menjadi sorotan di kalangan penggemar kuliner. Baru-baru ini, mereka memperkenalkan produk terbaru yang diberi nama Lonely Kuih.
Nama kue ini bukan sekadar gimmick atau trik marketing. Lonely Kuih dirancang untuk memberikan pengalaman berbeda kepada penikmat kuliner. Dalam unggahan media sosial, pihak kafe menggambarkan kue ini sebagai kue yang tengah mencari rumah untuk pulang, menonjolkan nuansa emosional yang jarang ditemukan pada makanan biasa.
Menu Lonely Kuih terinspirasi dari hidangan khas Hakka, pangsit lobak atau radish dumpling. Untuk menghindari rasa monoton, Floccus Floccus menambahkan isian lobak tumis, udang kering, jamur, dan daging ayam cincang. Kombinasi ini menghasilkan cita rasa gurih dan nuansa nostalgia khas masakan rumah.
Sistem pembelian kue ini juga berbeda. Harga yang ditawarkan bervariasi, yakni sekitar RM 7 (Rp 30.200) untuk satu porsi yang disebut Lonely, dan RM 14 (Rp 60.000) untuk dua porsi kue Lonely Together. Penamaan kue ini menyorot konsep emosional, mengajak pembeli menikmati makanan sambil merefleksikan perasaan mereka.
Floccus Floccus menerapkan sistem pemesanan awal atau pre-order. Pembeli diwajibkan memesan terlebih dahulu sebelum membeli, dan dianjurkan untuk langsung mengonsumsi Lonely Kuih pada hari yang sama agar kualitas rasa tetap terjaga.
Kafe ini sudah dikenal karena inovasi kreatif pada menu tradisional. Sebelumnya, mereka meluncurkan kreasi unik seperti angku kuih yang terinspirasi karakter SpongeBob SquarePants dan Pingu, kuih lapis bergaya siu yoke, kingu chai kuih, serta mochi berbentuk anjing laut. Kreasi ini menjadi ciri khas yang menarik perhatian, khususnya di kalangan generasi muda.
Dengan konsep kue kesepian, Floccus Floccus menambahkan dimensi emosional pada kuliner tradisional. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kafe tidak hanya fokus pada rasa, tetapi juga pada pengalaman psikologis pelanggan. Inovasi semacam ini menandai tren baru dalam industri kafe di kawasan Asia Tenggara.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Prabowo Tekankan Standar 8 Potong Ayam MBG, Kumink Jelaskan
Londo Kampung Nikmati Pasar Blauran Baru dengan Rp 50.000
Buket Brokoli Prewedding Viral, Hemat dan Ramah Lingkungan
Ghibli's Table: Resep Ramen & Minuman Spesial Ponyo
Makanan Sederhana Dulu, Kini Warisan Kuliner Nasional
One Satrio Jadi Destinasi Kuliner Jakarta Selatan Penuh
Berita Terbaru
PT PP & Kemen Pekerjaan Umum Selesaikan 69 SPPG dalam 37 Hari
Gubernur Bengkulu Minta BPKAD Cepat Pencairan Gaji ke-13 ASN
USU Buka Proses Banding UKT, Mahasiswa Bisa Perbaiki Tarif
PLN Junivaganza: Voucher Rp10.000 untuk Token Listrik
Gaji Tertinggi Pelatih Tim Nasional: Ancelotti Rp 182,2 M
Telkom Luncurkan AIcosystem: Ekosistem AI Jakarta Nusantara
Mengajar di Ponpes Cipasung: Santri Kuasai Konten Digital
Indonesia 108 GW, 85% Fosil, 15% Terbarukan, Target Tercapai
IHSG Tutup 5.839,78, Garuda Naik Setelah Jatuh Pasar
