FOMO: Dampak Media Sosial pada Generasi Muda Serba

Maya K. · 3 min baca · 16 hari lalu · 55 dibaca
Bisik.id
FOMO: Dampak Media Sosial pada Generasi Muda Serba

Gambar atau konten salah?

Semakin banyak orang yang menghabiskan waktu di media sosial, semakin sering pula muncul dampak negatifnya. Salah satu yang paling sering dialami, khususnya oleh generasi muda, adalah FOMO atau Fear of Missing Out. Perasaan ini muncul ketika seseorang merasa tertinggal dari aktivitas, tren, atau informasi terbaru yang dilihat di platform seperti Instagram dan TikTok.

Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Dr. Andrew K. Przybylski pada tahun 2013. Sejak itu, FOMO semakin meluas seiring dengan tingginya penggunaan media sosial. Menurut Kemenkes Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, rasa takut ini tumbuh dari persepsi bahwa orang lain sedang menjalani kehidupan yang lebih baik atau lebih menyenangkan.

FOMO biasanya ditandai dengan kebiasaan terus-menerus memeriksa gadget, lebih memilih media sosial daripada interaksi nyata, dan selalu penasaran dengan kehidupan orang lain. Seseorang yang mengalami FOMO cenderung boros demi tidak dianggap ketinggalan zaman. Taswiyah, penulis di JAWARA: Jurnal Pendidikan Karakter, menambahkan bahwa perilaku ini sering kali membuat orang merasa tidak puas dengan apa yang mereka miliki.

Dampak FOMO tidak hanya terbatas pada perasaan tidak nyaman. Kemenkes Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan melaporkan bahwa FOMO dapat meningkatkan risiko gangguan psikologis seperti kecemasan dan depresi. Perbandingan terus-menerus dengan orang lain di media sosial menurunkan rasa percaya diri, karena kehidupan orang lain tampak lebih sempurna. Produktivitas pun terganggu, karena perhatian terus teralihkan ke gadget. Pekerjaan dan aktivitas penting lainnya seringkali terbengkalai, dan kebiasaan tidur pun terganggu, mulai dari sulit tidur hingga merasa kewalahan dan kurang motivasi.

Dari sisi finansial, orang yang mengalami FOMO terdorong untuk berperilaku konsumtif demi tidak merasa tertinggal. Mereka cenderung membeli barang-barang yang sedang tren sebagai cara mendapat pengakuan di media sosial. Bahkan, beberapa rela berutang dengan bunga tinggi demi memenuhi keinginan tersebut. Akibatnya, kemampuan menabung pun ikut terganggu. Dampak terburuk FOMO meliputi overload informasi yang membuat otak kelelahan, kesulitan membedakan fakta dari hoaks, gangguan kesehatan mental serius seperti depresi, dan rasa takut berlebihan bila tidak mengikuti perkembangan informasi meski tidak relevan dengan kehidupannya.

Berikut beberapa langkah yang dapat membantu mengatasi FOMO secara konsisten:

  1. Fokus pada diri sendiri
    Sadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Tidak perlu membandingkan pencapaian diri dengan orang lain karena kebahagiaan setiap orang tidak bisa diukur dengan standar yang sama.
  2. Hargai diri sendiri
    Bersyukur atas hal-hal baik yang sudah dimiliki dapat mengurangi rasa iri dan perasaan selalu kurang. Fokus pada apa yang sedang dikerjakan saat ini jauh lebih produktif daripada mencari pengakuan dari orang lain.
  3. Batasi penggunaan media sosial dan gadget
    Mengurangi waktu scrolling membantu pikiran tidak terus-menerus terpapar konten yang memicu kecemasan, sekaligus memberi ruang untuk melakukan hal-hal yang lebih bermakna.
  4. Bangun koneksi nyata
    Menjalin hubungan sosial secara langsung jauh lebih efektif dalam membangun rasa kepuasan dibanding interaksi di dunia maya. Bergaul secara nyata juga membantu seseorang memahami realita di balik tampilan sempurna orang lain di media sosial.
  5. Ubah persepsi
    FOMO pada dasarnya adalah bentuk pemikiran distorsi atau pola pikir irasional. Mengubah cara pandang menjadi lebih positif, termasuk sesekali melakukan “puasa” media sosial, dapat membantu memulihkan kondisi ini secara bertahap. Jika diperlukan, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional.

Artikel ini ditulis oleh Widia Ardhana.

FOMO adalah fenomena yang semakin kian nyata di era digital. Memahami apa yang memicu perasaan ini dan mengambil langkah-langkah sederhana dapat membantu menjaga kesehatan mental, produktivitas, dan keuangan. Dengan lebih sadar akan penggunaan media sosial, kita dapat mengurangi dampak negatif dan memanfaatkan platform digital untuk kebaikan pribadi dan sosial.

FOMOmedia sosialkecemasandepresiproduktivitaskonsumsikesehatan mental

Komentar

Memuat komentar...