Francesco Setiawan: Game ‘Against the Silence’ Kalah Takut

Maya K. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 102 dibaca
Bisik.id
Francesco Setiawan: Game ‘Against the Silence’ Kalah Takut

Gambar atau konten salah?

Francesco Emmanuel Setiawan adalah mahasiswa tingkat akhir Ilmu Komputer di Binus University. Ia pernah merasakan ketakutan berbicara di depan umum, yang sering dianggap sepele, namun bagi Francesco pengalaman itu menjadi titik awal bagi sebuah game edukatif.

Game tersebut, berjudul Against the Silence, dirancang untuk membantu pengguna melatih kemampuan public speaking dengan cara yang menyenangkan. Dengan proyek ini, Francesco berhasil menjadi Swift Student Challenge Distinguished Winner dan mendapat undangan dari Apple untuk menghadiri Worldwide Developers Conference (WWDC) pada awal Juni 2026.

Keberhasilan ini lahir dari pergulatan pribadi Francesco dengan kecemasan sosial. Sejak kecil, ia sering memilih diam daripada berbicara, bukan karena tidak punya ide, melainkan karena takut dihakimi. Ia berkata, “Saya punya banyak ide, tetapi takut untuk mengungkapkannya. Saya takut dihakimi dan takut salah. Karena itu, sebagian besar waktu saya memilih diam.

Seiring waktu, ia menyadari bahwa diam juga menimbulkan konsekuensi besar dalam kehidupan sosial maupun karier. “Kesempatan biasanya diberikan kepada mereka yang berani berbicara,” ujarnya.

Francesco memulai pencarian cara melatih kemampuan berbicara spontan dengan mengikuti kursus public speaking. Ia menemukan metode impromptu speaking, yaitu latihan berbicara tanpa persiapan mengenai topik acak. Menurutnya, kemampuan berbicara bukan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang harus terus dilatih. Ia menegaskan, “Kemampuan berbicara sebenarnya seperti otot. Itu bukan bakat bawaan, melainkan sesuatu yang harus dilatih secara rutin.

Dari pemikiran tersebut lahir ide Against the Silence, yang kini tersedia untuk iPad. Sebelum membangun aplikasinya, Francesco melakukan riset kecil dengan mewawancarai 22 profesional muda di sekitarnya. Hasilnya mengejutkan: 75% dari mereka mengaku memiliki masalah serupa saat harus berbicara spontan di kelas atau di kantor.

Dengan data tersebut, Against the Silence berusaha mengubah latihan public speaking menjadi pengalaman bermain yang menyenangkan. Pemain dihadapkan pada seekor “demon”. Konsep demon dipilih bukan tanpa alasan. Francesco menjelaskan, “Demon dalam game ini mensimulasikan kecemasan saat presentasi di depan audiens. Secara metaforis, itu juga melambangkan perjuangan menghadapi ‘demon’ dalam diri sendiri—rasa takut dihakimi dan kurang percaya diri untuk berbicara.

Di dalam game, pemain ditantang membela pendapat yang tidak populer, seperti mengapa nanas layak ada di atas pizza. Setiap filler word seperti “umm” atau “hmm” akan mengurangi skor, menjadikan setiap ronde sebagai ukuran nyata kemajuan.

Francesco memulai belajar coding pada usia 15 tahun melalui Swift Playgrounds. Ketertarikannya pada teknologi juga terinspirasi dari filosofi “Think Different” milik Apple. Perjalanannya kemudian berlanjut hingga bergabung dengan Apple Developer Academy Tangerang pada 2025. Di sana, ia belajar tidak hanya membuat aplikasi, tetapi juga menciptakan produk yang relevan dengan kebutuhan pengguna.

Keberhasilan di Swift Student Challenge menjadi validasi besar atas perjuangannya mengatasi rasa takut berbicara. Ia menyatakan, “Dinobatkan sebagai Pemenang Terhormat Swift Student Challenge lebih dari sekadar penghargaan bagi saya. Ini adalah bukti bahwa perjuangan pribadi kita dapat diubah menjadi alat yang membantu orang lain.

Francesco menambahkan, “Diakui oleh Apple untuk aplikasi yang membantu orang mengatasi rasa takut yang sama persis adalah suatu kehormatan luar biasa dan validasi tertinggi atas perjalanan saya.

Ke depan, Francesco berencana terus menyempurnakan Against the Silence sebelum akhirnya dirilis secara resmi di App Store. Game ini berpotensi menjadi alat bantu bagi banyak orang yang ingin mengatasi kecemasan berbicara di depan umum.

Dengan latar belakang akademis, pengalaman praktis, dan motivasi pribadi, Francesco menunjukkan bahwa ketakutan dapat diubah menjadi inovasi. Game Against the Silence menegaskan bahwa kemampuan berbicara dapat dilatih, dan setiap langkah kecil menuju keberanian dapat membawa perubahan positif bagi diri sendiri dan orang lain.

Against the Silencepublic speakingkecemasan sosialSwift Student ChallengeApple Developer AcademyiPadgame edukatif

Komentar

Memuat komentar...