Garda Pangan: Food Rescue dan Pengelolaan Sampah Organik

Hari W. · 4 min baca · 2 bulan lalu · 95 dibaca
Bisik.id
Garda Pangan: Food Rescue dan Pengelolaan Sampah Organik

Gambar atau konten salah?

Garda Pangan adalah komunitas dan social enterprise yang berdiri di Surabaya sejak 2017. Didirikan oleh Eva Bachtiar, Dedhy Trunoyudho, dan Indah Audivtia, organisasi ini fokus pada penyelamatan makanan berlebih atau food rescue. Ketua Yayasan, Kevin, menjelaskan bahwa misi mereka dimulai ketika Eva sangat peduli dengan sampah makanan dan ingin membuka food bank di Indonesia.

Awalnya Eva memang fokus banget ke isu sampah makanan. Dia ingin membuka food bank di Indonesia," kata Kevin. Rencana ekspansi ke Malang sempat terhenti karena pandemi COVID‑19, sehingga kegiatan masih difokuskan di Surabaya.

Operasi utama Garda Pangan adalah food rescue. Setiap Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu, tim bekerja sekitar 5 jam dan 8 jam pada hari Minggu. Makanan yang diterima tidak langsung dibagikan. Sebelum didistribusikan, semua produk disortir dan diperiksa kualitasnya melalui SOP organoleptik.

Proses pemeriksaan melibatkan tiga tahap: pertama, memeriksa fisik makanan—apakah ada perubahan warna atau jamur. Kedua, mencium aroma untuk memastikan tidak ada bau tak normal. Ketiga, melakukan random sampling dengan mencicipi. "Pertama kita lihat dari fisiknya dulu, ada perubahan warna atau jamur atau tidak. Kedua dari aromanya, apakah ada bau yang tidak seharusnya. Baru terakhir kita lakukan random sampling dengan mencicipi," jelas Kevin.

Jika makanan lolos pemeriksaan, maka akan disimpan dan kemudian didistribusikan. Jika tidak, makanan tersebut langsung diolah menjadi sampah organik. Garda Pangan memiliki unit pengolahan sampah menggunakan larva lalat Black Soldier Fly dengan kapasitas hingga 3 ton sampah organik per hari. Unit ini juga menjadi salah satu unit bisnis Garda Pangan, yang bekerja sama dengan hotel dan lembaga lain di wilayah Surabaya dan Sidoarjo. Saat ini, Garda Pangan tercatat bekerja sama dengan sekitar 19 hingga 20 mitra pengelolaan sampah.

Produk yang diselamatkan berasal dari berbagai sumber. Kontribusi terbesar datang dari supermarket, di mana produk biasanya berupa bahan makanan dengan kemasan rusak, bentuk tidak sempurna, atau mendekati masa kedaluwarsa namun masih aman dikonsumsi. Minimal tujuh hari sebelum tanggal kedaluwarsa saat proses penyortiran. Selain supermarket, Garda Pangan juga bekerja sama dengan hotel berbintang, bakery, dan kedai kopi di seluruh wilayah Surabaya maupun Sidoarjo. Kegiatan penyelamatan juga sering dilakukan dari acara besar seperti pernikahan atau kegiatan lain yang berpotensi menghasilkan makanan berlebih.

Informasi mengenai potensi makanan berlebih biasanya datang dari masyarakat yang menghubungi Garda Pangan melalui media sosial, terutama Instagram. "Kami biasanya edukasi juga ke masyarakat. Kalau ada acara yang berpotensi ada makanan berlebih, bisa hubungi kami lewat link di bio Instagram. Nanti tim kami akan datang selepas acara untuk mengambil makanan yang berlebih itu. Tapi kalau semisal makanannya ternyata habis semua juga nggak masalah," ujarnya.

Untuk makanan berlebih dalam jumlah besar, seperti dari pesta pernikahan, Garda Pangan menyimpannya terlebih dahulu di lemari pendingin, lalu menghangatkan ulang dan mengemas makanan tersebut pada hari Minggu siang dalam kegiatan Dapur Umum. Proses distribusi kemudian dijalankan pada sore harinya.

Selain di kota, Garda Pangan juga melakukan gleaning di daerah pedesaan. Program ini dimulai ketika harga komoditas anjlok sehingga petani memilih tidak memanen karena biaya panen lebih besar daripada harga jual. Garda Pangan bersama relawan membantu memanen hasil pertanian sekaligus menanggung biaya transportasi. "Kadang harga komoditas bisa turun sangat jauh. Misalnya normalnya Rp 6.000 sampai Rp 8.000 per kilo, tapi bisa anjlok sampai Rp 500 per kilo. Kalau dipanen petani malah rugi karena biaya buruh dan transportasi," kata Kevin.

Hasil panen yang berpotensi terbuang dapat dimanfaatkan. Makanan yang berhasil diselamatkan tidak dibagikan secara acak di jalanan. Garda Pangan memiliki basis data penerima manfaat yang sebagian besar berasal dari kampung prasejahtera. Saat ini terdapat sekitar 200 kampung yang menjadi target distribusi makanan. Selain itu, bantuan juga disalurkan ke shelter atau tempat singgah bagi masyarakat jalanan. "Fokus kami memang ke orang-orang yang benar-benar membutuhkan," ujar Kevin.

Relawan Garda Pangan terbagi menjadi dua kategori: public volunteer yang disebut sebagai food heroes, dan relawan inti yang memiliki komitmen lebih dalam operasional. Sebagian besar kegiatan dijalankan pada sore hingga malam hari karena banyak relawan memiliki pekerjaan utama. Saat ini tercatat ada kurang lebih 60 relawan dalam grup Garda Pangan, dengan sekitar 30 hingga 40 orang yang aktif secara rutin membantu kegiatan. Satu relawan inti biasanya harus mengikuti kegiatan lebih dari 10 kali dan menjalani proses OJT atau on‑job training.

Siapapun bisa menjadi relawan. Garda Pangan selalu membuka pendaftaran setiap hari Sabtu di Instagram @gardapangan. Namun pendaftaran bersifat war dan jika kuota terpenuhi, pendaftaran otomatis ditutup. "Awalnya dari public volunteer dulu. Aku first rescue (kegiatan volunter pertama) tahun 2019, diajak teman kuliah yang sudah lebih dulu bergabung," ungkap Nada, salah satu relawan inti Garda Pangan.

Semakin banyak relawan yang terlibat, semakin besar dampak positif dari kegiatan Garda Pangan. "Di satu sisi kita lihat makanan yang terbuang banyak sekali, tapi di sisi lain masih banyak orang yang membutuhkan. Dari situ kelihatan ada masalah yang sebenarnya bisa dihubungkan," ujar Nada. Bagi Nada dan para relawan lainnya, kegiatan di Garda Pangan menjadi cara untuk berkontribusi mengurangi sampah makanan sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan.

Garda Pangan tidak hanya menanggulangi sampah makanan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi bagi petani dan pelaku usaha kecil. Dengan memanfaatkan produk yang hampir kedaluwarsa, Garda Pangan membantu mengurangi limbah dan meningkatkan pendapatan bagi pihak-pihak yang terlibat. Selain itu, unit pengolahan sampah dengan Black Soldier Fly menjadi sumber protein alternatif bagi industri peternakan, menambah nilai tambah pada proses daur ulang sampah organik.

Melalui pendekatan yang terstruktur, Garda Pangan berhasil menggabungkan misi sosial dengan model bisnis yang berkelanjutan. Organisasi ini menunjukkan bahwa penyelamatan makanan tidak hanya tentang mengurangi limbah, tetapi juga tentang memperkuat jaringan komunitas, menciptakan peluang ekonomi, dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah makanan di Indonesia.

Garda PanganFood RescueBlack Soldier FlyPengelolaan SampahRelawanKomunitasSurabayaEkonomi Berkelanjutan

Komentar

Memuat komentar...