Gim Suyati Pulang ke Desa Adinuso Setelah 31 Tahun
Gambar atau konten salah?
Gim Suyati (73) akhirnya pulang ke kampung halamannya di Desa Adinuso, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang. Setelah lebih dari tiga dekade terpisah, ia kembali ke tanah air pada 2026. Perjalanan pulang ini penuh liku, namun akhirnya ia dapat menempuh kembali jalan pulang ke Batang.
Gim Suyati meninggalkan kampung pada tahun 1995 untuk bekerja di Negeri Jiran. Ia diduga menjadi korban penipuan oleh agen tenaga kerja tidak resmi. Akibatnya, ia hidup di Malaysia tanpa dokumen sah. Pada 1997, ia sempat menghubungi keluarga dan menyatakan keinginannya pulang. Namun, komunikasi terputus dan keberadaannya tidak diketahui sampai tahun 2026.
Proses pemulangan Gim Suyati tidak mudah. Tanpa dokumen resmi, pengurusan administrasi menjadi kendala utama. Pada saat ia pergi, sistem e‑KTP belum ada. Ia harus melewati banyak birokrasi untuk mendapatkan izin masuk kembali ke Indonesia.
Ketika tiba di Batang, ratusan warga desa menunggu. Tangis haru pecah saat ia bertemu keluarga yang lama terpisah. Putranya, Anto, menjadi kunci dalam proses ini. Ia berhasil membawa ibunya kembali ke tanah air.
Gim Suyati tak mampu menahan kebahagiaan. Ia sempat menangis karena tidak menyangka bisa kembali setelah 31 tahun hidup di Malaysia. “Perasaannya senang sekali, gembira sekali. Ini tak tahu macam mana nak cakap (harus ngomong apa),” ungkapnya dengan logat Melayu yang masih kental.
Walaupun lama tinggal di Malaysia, ia tetap mengingat kampung dan merasa lebih nyaman di Indonesia. “Pasti di kampung halaman. Suka ketemu keluarga,” ujarnya. Ia juga mengakui bahwa selama di Malaysia, ia berusaha mengurus kepulangan melalui kedutaan, namun sering menemui kendala.
Kasus serupa pernah terjadi di Batang. Seorang TKW, Ribut Uripah (56), asal Bawang, Batang, baru bisa pulang pada 21 Maret 2025. Ia hilang selama 19 tahun di Malaysia, bekerja tanpa dokumen resmi. Ia ditemukan hidup memprihatinkan di gubuk pinggiran hutan Malaysia setelah video kondisinya viral di media sosial. Saat ditemukan, ia sudah berganti nama menjadi Sakinah Anggraeni. Proses pemulangan Ribut juga terhambat oleh administrasi kependudukan. Berkat dukungan pemerintah desa dan anggota DPR, ia akhirnya dipulangkan ke Desa Candirejo, Kecamatan Bawang.
Anto, anak Gim Suyati, mengungkapkan masih ada warga desa yang belum ditemukan. Ia mengatakan, “Iya, orang-orang Adinuso saja masih ada satu yang hilang, namanya Mas Darno. Beliau sama dengan ibu, udah 30 tahun lebih hilang.”
Keberhasilan pemulangan Gim Suyati menandai akhir dari perjalanan panjangnya. Ia kembali ke kampung halamannya, menegaskan kembali pentingnya dukungan keluarga dan pemerintah dalam membantu pekerja migran. Kasus ini juga mengingatkan tentang risiko penipuan agen tenaga kerja dan perlunya sistem administrasi yang memadai bagi migran. Dengan bantuan, mereka dapat kembali ke tanah air tanpa harus menanggung beban administratif yang berat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Jawa Tengah Hari Ini Pada
Pria 65 Tahun di Klampok Lor Berhenti Hidup, Kembali Mati
Banjir Rob di Demak Meningkat, Warga Minta Tanggul Pantai
SPMB SMA/SMK 2026: Kuota 5% Domisili Desa dan 2% ATS Jateng
KAI Commuter Tandai Penumpang Merokok di KRL di Palur
Kera Liar Merusak Rumah Pak Wahyu, Evakuasi 20 Menit
Berita Terbaru
Sumsel Hormati Keputusan Presiden Makan Bergizi Gratis
Dishub Surabaya Pasang Foto Jukir di Rambu Parkir TJU
Bandara Adisutjipto Tak Perlu Direaktivasi, YIA Cukup
Scammer Solo Baru Target Warga AS, Polda Jawa Tengah
Beasiswa Garuda Gelombang II Terbuka Hingga 25 Juni 2026
Moody's Atur Peringkat Baa2 Negatif untuk Danantara Investasi
Dolar AS Kembali Menguat, Rupiah Turun di Bawah Rp18.000
