Godzilla El Nino: Curah Hujan Turun, Kebakaran Meningkat

Mira T. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 76 dibaca
Bisik.id
Godzilla El Nino: Curah Hujan Turun, Kebakaran Meningkat

Gambar atau konten salah?

Fenomena cuaca yang kini sering disebut Godzilla El Nino menimbulkan kegelisahan di kalangan masyarakat Indonesia. Istilah ini tidak merujuk pada film, melainkan pada kondisi ekstrem yang diprediksi akan memengaruhi iklim negara ini secara signifikan.

El Nino sendiri adalah peristiwa pemanasan permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Ketika suhu air laut naik, pola awan dan curah hujan di wilayah sekitarnya ikut berubah. Awan biasanya berkumpul di Samudra Pasifik, sehingga daerah Indonesia mengalami penurunan curah hujan.

Prof. Erma Yulihastin, peneliti di Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan mengapa istilah "Godzilla" dipakai. Ia menyebutkan bahwa skala peristiwa ini jauh lebih besar daripada El Nino biasa, sehingga dampaknya tidak dapat dianggap ringan.

Menurut Prof. Erma, fenomena ini dapat meningkatkan suhu rata-rata hingga 1,5 hingga 2 derajat Celsius. Kenaikan ini tidak terjadi sekaligus, melainkan berkembang seiring berjalannya waktu sejak peristiwa pertama kali muncul.

Selain El Nino, peristiwa ini diperkirakan akan bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. IOD positif ditandai dengan pendinginan permukaan laut di barat Indonesia, khususnya Sumatra dan Jawa. Kondisi ini memperlemah pembentukan awan di wilayah tersebut.

Prof. Erma menegaskan bahwa “semakin memperkuat dampaknya di Indonesia”. Dengan awan yang berkurang, curah hujan menurun drastis, memicu potensi musim kemarau yang lebih panjang dan kering.

Prediksi awal menunjukkan bahwa sinyal El Nino mulai terlihat pada 01 April 2026. Pada fase awal, curah hujan masih dapat terjadi hingga 31 Maret 2026, namun intensitasnya mulai menurun.

Prof. Erma menyatakan bahwa “semakin berkurang secara bertahap”. Seiring berjalannya bulan April, awan semakin sedikit dan kondisi cuaca akan berubah menjadi lebih kering.

Hujan masih dapat terjadi hingga akhir Maret, namun setelah memasuki April, intensitas hujan diperkirakan “semakin berkurang secara signifikan”. Dominasi cuaca panas di siang hari akan semakin terasa.

Dampak fenomena ini tidak merata di seluruh wilayah Indonesia. Di selatan ekuator, seperti Jawa dan Sumatra, kondisi kering dapat memicu kekeringan, suhu udara yang lebih panas, serta risiko kebakaran hutan dan lahan yang meningkat.

Sementara di utara ekuator, termasuk Kalimantan dan Sumatra bagian utara, hujan dengan intensitas tinggi masih mungkin terjadi. Dalam beberapa kasus, curah hujan yang tinggi dapat memicu banjir.

Perubahan pola awan dan curah hujan ini disebabkan oleh interaksi kompleks antara El Nino, IOD positif, dan kondisi laut di Samudra Pasifik serta Samudra Hindia. Proses ini memengaruhi tekanan udara dan aliran udara di wilayah tropis.

Para peneliti di BRIN terus memantau data suhu laut dan curah hujan untuk menyesuaikan prediksi. Hasil pengamatan ini penting bagi perencanaan pertanian, pengelolaan sumber daya air, dan mitigasi risiko kebakaran serta banjir.

Dengan pemahaman yang lebih baik tentang Godzilla El Nino dan IOD positif, masyarakat Indonesia dapat menyiapkan langkah-langkah adaptasi. Meskipun tidak ada jaminan bahwa prediksi akan terwujud persis, informasi ini memberi pandangan tentang potensi perubahan iklim di masa depan.

Godzilla El NinoIOD positifcurah hujansuhu lautkebakaran hutanbanjirperubahan iklim

Komentar

Memuat komentar...