Guru MI Bahrul Ulum Minta Buka PPPK untuk Honorer Swasta
Gambar atau konten salah?
Hari Pendidikan Nasional 2026 menjadi momentum penting bagi guru di Bali. Pada peringatan tersebut, guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Bahrul Ulum Kusamba di Klungkung meminta agar proses seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) segera dibuka untuk guru honorer di sekolah swasta.
MI Bahrul Ulum Kusamba baru saja memperoleh izin operasional pada tahun 2023. Sekolah ini masih mengajar tiga kelas, yaitu kelas 1‑3, dengan total 38 siswa. Kepala MI, Musa Bahar, menjelaskan bahwa dari tujuh guru yang mengajar, hanya satu yang sudah memiliki sertifikasi pendidik. Kondisi ini menandai tantangan besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan di lembaga swasta.
“Selain terus berupaya mengedepankan kualitas, kita punya harapan besar pada regulasi guru sekolah swasta bisa mengajukan diri jadi PPPK. Di tengah kita terus berjuang, di sisi lain kita juga ingin ada semacam penghargaan,” kata Bahar pada 2 Mei 2026.
Bahar, yang kini berstatus guru dengan sertifikat pendidik, menekankan pentingnya regulasi yang setara antara guru di sekolah negeri dan swasta. Ia menegaskan bahwa pemerintah harus membuka seleksi atau sistem kompetisi. “Jalur kompetisi kita siap. Mari dibuka secara umum dan diseleksi,” ujarnya.
MI Bahrul Ulum merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang dibangun oleh Yayasan Al Mahdi. Sebelum mendirikan MI, yayasan ini pernah menyiapkan TPQ pada sore hari dan diniyah pada malam hari. Pendirian sekolah baru ini bertujuan memudahkan akses pendidikan bagi anak‑anak di Kampung Kusamba, mayoritas beragama Islam.
“Saya sebelumnya mengajar di Denpasar. 15 tahun meninggalkan kampung halaman. Dan sekarang bisa kembali karena adanya madrasah ini. Ini juga menjadi pemantik bagi generasi yang sekiranya menempung bidang pendidikan tapi tak memiliki akses untuk bekerja di kampung halamannya,” jelas Bahar.
Di sisi lain, Ketua Yayasan Al Mahdi, H Mugni, menyatakan bahwa selain merintis MI Bahrul Ulum, yayasan juga tengah mempersiapkan pembangunan Madrasah Tsanawiyah. “Harapannya agar anak‑anak kita di kampung Kusamba ini tidak perlu jauh‑jauh bersekolah,” ungkapnya.
Menariknya, tantangan membangun sekolah baru tidak hanya soal dana. Bahar menegaskan bahwa pihaknya harus menarik kepercayaan masyarakat. Fasilitas yang memadai dan kompetensi guru menjadi dua faktor utama. Sekolah ini juga menjadi pemantik bagi generasi muda yang ingin kembali ke desa dan berkontribusi pada pendidikan lokal.
Kesimpulannya, permohonan guru honorer di MI Bahrul Ulum untuk membuka seleksi PPPK mencerminkan upaya meningkatkan kesejahteraan guru swasta. Dengan satu guru bersertifikat di antara tujuh, kebutuhan akan regulasi yang adil menjadi jelas. Pendirian MI dan rencana Madrasah Tsanawiyah menandai langkah konkret Yayasan Al Mahdi dalam memperluas akses pendidikan di Kampung Kusamba, sekaligus memberi peluang bagi pendidik lokal untuk kembali berkontribusi di komunitas mereka.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Penurunan Wisnus Bali 4,14% Tahun Ini, 2,03% Bulanan
SIM Keliling Kembali Operasi di Badung dan Buleleng Pusat
Cuaca cerah berawan Bali, hujan ringan Badung Denpasar
Kamis 04 Juni 2026: Hari Ala Ayuning Dewasa, Waktu Lahan
Badung Bangun Tempat Penampungan Sampah B3 di Mengwitani
SMPN 5 Pupuan, Disdik Tabanan Atasi Rendahnya Siswa
Berita Terbaru
IHSG menutup di zona negatif, turun 4,11%; global merosot
Sumsel Hormati Keputusan Presiden Makan Bergizi Gratis
Dishub Surabaya Pasang Foto Jukir di Rambu Parkir TJU
Bandara Adisutjipto Tak Perlu Direaktivasi, YIA Cukup
Scammer Solo Baru Target Warga AS, Polda Jawa Tengah
Beasiswa Garuda Gelombang II Terbuka Hingga 25 Juni 2026
Moody's Atur Peringkat Baa2 Negatif untuk Danantara Investasi
