Guru SMAN 1 Purwakarta Pemaaf, Siswa Tergabung Pembinaan

Yuli S. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 95 dibaca
Bisik.id
Guru SMAN 1 Purwakarta Pemaaf, Siswa Tergabung Pembinaan

Gambar atau konten salah?

Bu Atun, guru Pendidikan Kewarganegaraan di SMAN 1 Purwakarta, menjadi sorotan ketika sembilan siswanya mengacungkan jari tengahnya di depan wajahnya. Akibatnya, video kejadian itu menyebar ke media sosial dan memicu reaksi keras.

Insiden terjadi pada hari Kamis setelah pelajaran kebhinekaan selesai. Saat Bu Atun keluar kelas, murid-murid kelas XI IPS mulai menampilkan gestur tidak sopan. Mereka mengacungkan jari tengah, mengeksekusi ejekan berulang. Rekaman juga menunjukkan upaya murid menekan kepala guru, meski tidak sampai menyentuh tubuhnya.

Video tersebut direkam oleh salah satu pelajar dan segera tersebar. Banyak orang mengomentari kejadian itu, menuntut tindakan tegas. Namun, Bu Atun tidak memutuskan untuk membalas dengan kemarahan.

Dia mengatakan, "Saya manusiawi kalau saya sedih, tapi keimanan saya tidak akan dirusak oleh rasa sedih, dan sakit manusiawi, tapi keimanan saya mengobati luka hati saya agar anak-anak saya selamat dunia akhirat, itu yang ada di hati saya," . Kata-kata ini menunjukkan bahwa dia memilih untuk memaafkan.

Menurutnya, memaafkan adalah bagian dari tugas seorang guru. Bu Atun menegaskan, "Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak," . Ia menekankan pentingnya membimbing siswa, bukan menghukum.

Ia juga menambahkan, "Semakin mereka salah, semakin saya ingin membimbingnya. Saya ingin mereka menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak," . Kata-kata ini menyoroti tekadnya untuk tetap mencintai murid, meski mereka melakukan kesalahan.

Setelah video muncul, pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Jawa Barat segera mengambil langkah. Pada hari Sabtu, orang tua dari sembilan siswa dipanggil ke sekolah. Pertemuan itu dipenuhi emosi, di mana para orang tua menangis dan menyesali tindakan anak mereka.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti turut memantau kasus ini. Mereka memastikan bahwa penyelesaian dilakukan sesuai regulasi tentang sekolah aman dan nyaman.

Untuk memberi efek jera sekaligus pembinaan karakter, siswa dikenakan sanksi sosial. Awalnya mereka skorsing 19 hari, namun kemudian diberi tugas membersihkan lingkungan sekolah, termasuk toilet, selama tiga bulan. Sanksi ini bertujuan agar mereka belajar tanggung jawab dan empati.

Selama masa sekolah, sembilan siswa ditempatkan di ruangan khusus. Langkah ini diambil agar mereka tidak menjadi korban perundungan dan tetap dapat memperoleh hak pendidikan. Mereka juga akan menjalani sesi konseling dengan psikolog.

Insiden ini menjadi alarm bagi dunia pendidikan. Kepala Dinas Pendidikan Jabar mendorong sekolah untuk mengevaluasi penggunaan ponsel, karena dapat memicu ekspresi spontan yang buruk. Hal ini juga menyoroti pentingnya nilai Gapura Panca Waluya, yang menekankan perilaku bageur dan bener.

Selain itu, Mendikdasmen mengimbau agar kejadian ini menjadi pengalaman pahit terakhir. Ia menekankan pentingnya Ikrar Pelajar Pancasila untuk membangun sekolah yang saling menghormati. Sementara itu, sembilan remaja kini menempati ruang khusus, bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai upaya sekolah menjauhkan mereka dari perundungan dan ilusi ruang digital.

Dengan menyelesaikan kasus ini melalui pendekatan pembinaan, bukan hukuman keras, Bu Atun menunjukkan bahwa kekuatan seorang pendidik terletak pada keikhlasan. Ia tetap memegang keyakinan dan harapan agar murid-muridnya dapat tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, dan tetap menghormati nilai-nilai kebersamaan.

Bu AtunJari TengahSiswaSanksi SosialPembinaan KarakterIkrar Pelajar PancasilaGapura Panca Waluya

Komentar

Memuat komentar...