Guru Tua Saut Nainggolan Ajarkan Aksara Batak di TikTok
Gambar atau konten salah?
Saut Nainggolan, seorang pria Batak Toba berusia 72 tahun, kini menjadi guru tak terduga bagi generasi muda yang ingin belajar aksara leluhur. Ia mengajar lewat siaran langsung di TikTok dan YouTube, memakai peci dan ulos sebagai simbol kebanggaan atas identitasnya.
Lahir pada 10 Desember 1954 di Desa Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, Saut tumbuh di lingkungan yang sederhana. Pada tahun 1979, ia merantau ke Pekanbaru, Riau, karena lahan di kampungnya tidak cukup untuk mendukung kehidupannya.
Di Pekanbaru, Saut menempuh hidup bersama keluarganya. Ia memiliki enam anak—tiga laki‑laki dan tiga perempuan—serta dua belas cucu. Meskipun hanya tamat Sekolah Dasar, ia menganggap pendidikan aksara Batak Toba sebagai warisan yang harus dilestarikan.
“Aku hanya tamat sekolah dasar, dari kecil aku duluan diajari tulisan Aksara Batak Toba sebelum masuk sekolah rakyat. Jadi sudah mendarah daging Aksara Batak Toba dengan diriku,” ujarnya pada 17 April 2026.
Saut belajar di SD di kampung halamannya, namun tidak dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena kondisi ekonomi yang sulit. Ia menolak melanjutkan pendidikan demi kebutuhan adik‑adiknya.
“Saya sekolah SD di Pansur Natolu, sempat sekolah setingkat SMP tapi tidak tamat karena kami banyak kali bersaudara. Saya anak nomor 6 dari 12 bersaudara, kalau saya minta melanjut adek‑adek tidak sekolah,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa pengorbanan demi keluarga adalah bagian dari nilai yang diajarkan di kampung. “Rela mengorbankan diri, karena kita sekeluarga banyak kebutuhan dan biaya untuk pendidikan. Jika saya minta sekolah, adek‑adek tidak ada yang sekolah atau lanjut. Meskipun saya tidak tamat sekolah hingga selesai, yang penting saya paham Aksara Batak Toba,” tambahnya.
Awal mula pengetahuannya tentang aksara datang dari neneknya, seorang guru yang ditahbiskan Belanda pada masa kolonial. Namun neneknya tidak meninggalkan buku, karena pada saat itu buku dianggap tidak penting di huta‑huta.
“Aku dulu belajar dari opungku (nenek), dia seorang guru yang ditahbiskan Belanda pada zaman itu. Opung itu dulu, mengajari aku Aksara Batak Toba tapi gimana‑laku dulu di huta‑huta mana ada buku dikenal orang,” ceritanya.
Walaupun hanya tamat SD, Saut berhasil mengajarkan aksara kepada anaknya. Namun, salah satu anaknya yang paling mahir telah berpulang, dan ia juga mencoba mengajarkan kepada cucunya, meski mereka belum sepenuhnya menguasainya.
“Ada dulu anakku persis dengan ku yang menguasai Aksara Batak Toba tapi telah berpulang. Tidak berhenti di situ, cucuku juga kuajarkan tentang Aksara Batak Toba, namun, ia tidak terlalu mahir memahaminya,” imbuhnya.
Setelah mencoba menyebarkan aksara kepada keluarga, Saut merasa hasilnya masih kurang maksimal. Ia berharap warisan leluhurnya tetap terjaga dan dipahami, khususnya oleh orang Batak Toba.
Ia menyadari bahwa di media sosial tidak banyak yang mengajarkan aksara secara jelas. “Selama ini saya lihat di sosial media, tidak ada yang bisa mengajarkan peraturan, fungsinya dan pemahaman Aksara Batak Toba dengan jelas. Bahkan, tidak ada keterangan Aksara Batak Toba yang dibuat sehingga sulit diterima akal sehat,” ungkapnya.
Dengan kesadaran tersebut, ia memulai siaran langsung pada tahun 2021. Ia mencoba dua platform, YouTube dan TikTok, namun yang paling ramai di TikTok.
“Pada tahun 2021 saya memulai mengedukasi Aksara Batak Toba melalui live di media sosial. Saya mencoba di dua aplikasi di YouTube dan TikTok, namun paling ramai di aplikasi warna hitam tersebut,” tambahnya.
Ia rutin melakukan siaran dua kali seminggu, pada hari Senin dan Kamis mulai pukul 19.30 WIB. Durasi tergantung jumlah pertanyaan dan interaksi penonton.
“Live setiap Senin dan Kamis mulai pukul 19.30 WIB, durasi tergantung banyaknya yang bertanya dan berdiskusi di dalam live,” imbuhnya.
Selama siaran, Saut mengajarkan aksara mulai dari huruf hingga cara membacanya. Ia menekankan bahwa mempelajari aksara Batak Toba memerlukan pemahaman dasar yang kuat.
“Saat ini, mempelajari Aksara Batak Toba sangatlah rumit kalau nggak tau dasarnya. Namun, kalau betul‑betul dari dasar dan ada niat tinggi maka tidak ada yang payah,” tegasnya.
Ia mempersiapkan papan tulis dan alat tulis, mengajar penonton seolah‑olah berada di kelas. Meskipun hanya tamat SD, ia meniru gaya guru sekolah.
“Waktu live selalu kita ajarkan Aksara Batak Toba, kita buat siapa mau bertanya lalu saya jawab. Kalau ada yang belum paham, saya akan mengajari lagi dan diingatkan juga untuk jangan malu‑malu bertanya,” tuturnya.
Penonton yang hadir di siaran langsungnya biasanya antusias. Beberapa penonton menggunakan bahasa yang kurang sopan, namun Saut tetap bersabar.
“Lumayan ramai penontonnya, namun ada beberapa yang berbahasa kurang enak didengar ketika live tapi nggah apalah kumaafkan. Kudoakan agar mereka itu segera bertobat,” ujar Saut.
Selama lima tahun berkarya di media sosial, ia menemukan banyak hal menarik. Ia merasa bangga karena berhasil melestarikan aksara Batak Toba.
“Hal unik dari penonton, pernah ada yang bilang tidak ada yang mengajarkan Aksara Batak Toba seperti opung. Selain itu, penonton banyak juga memberikan koin,” ucap Saut tertawa kecil.
Ia menekankan bahwa aksara Batak Toba adalah harta warisan yang harus dilestarikan. Ia juga sudah menerbitkan buku tentang aksara tersebut.
“Bagi yang belum paham betul Aksara Batak Toba, sudah ada buku kita yah. Kalian bisa belajar banyak hal tentang Aksara Batak Toba didalam buku itu,” kata Saut.
Ia menutup ceritanya dengan pesan tentang pentingnya keteguhan hati di perantauan. “Dari kampung kita selalu diajari tabah menjalani hidup, jika cuek akan celaka jadi biar pun kita di negeri orang, kita harus bertegur sapa di kampung orang,” tandas Saut.
Judul buku yang ia tulis adalah Manurat Dohot Manjaha Surat Batak Toba. Bagi yang ingin mendalami aksara, ia mengajak pembaca untuk memesan buku tersebut.
Itulah kisah seorang pria Batak Toba dari Taput yang merantau ke Pekanbaru. Meskipun tidak memiliki gelar akademis, ia tetap menjadi contoh bagi generasi muda bahwa warisan budaya masih dapat dipelajari dan disebarkan melalui teknologi modern.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SIM Baru Kini Verifikasi Wajah, Mulai 1 Juli 2026 Indonesia
Jaga Kolam Ikan Rumah Bersih: Tips Pembersihan dan Nutrisi
Zamzam: Air Suci Terus Mengalir Meski Dipompa 24 Jam
Habonaron: Kepercayaan Asli Simalungun yang Masih Hidup
Rekrutmen Bintara TNI AL Gelombang III 2026: Daftar Sekarang
Pemadaman Listrik Medan Akibat Hujan Deras, PLN Pengerjaan
Berita Terbaru
Surabaya Target 250 Medali Emas Porprov Jatim 2027
Hanya 8 Tim Piala Dunia 2026 Punya Pemain Lokal, 310 Luar Negeri
SPMB Jakarta 2026: Daftar Sekolah dengan Skor UTBK 2022
KAI Butuh Rp1,2 Triliun & 8.000 Petugas Perlintasan Sebidang
Dolar AS Beruat Rp 18.000, Rupiah Terdampak Kuat Pada Hari
PPPK Boleh Dapat Gaji ke-13 2026, Besar Sesuai Masa Kerja
SIM Baru Kini Verifikasi Wajah, Mulai 1 Juli 2026 Indonesia
Pria 65 Tahun di Klampok Lor Berhenti Hidup, Kembali Mati
