Habis Gelap Terbitlah Terang: Surat Kartini Menuju Kebebasan

Surya B. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 88 dibaca
Bisik.id
Habis Gelap Terbitlah Terang: Surat Kartini Menuju Kebebasan

Gambar atau konten salah?

Habis Gelap Terbitlah Terang bukan sekadar buku sejarah. Itu adalah kumpulan surat yang dikirimkan oleh Raden Ajeng Kartini kepada teman-teman di Belanda. Surat-surat itu menjadi bukti nyata bahwa perjuangan Kartini tidak hanya lewat tindakan, tapi juga lewat kata.

Setelah Kartini meninggal pada usia 25 tahun, J.H. Abendanon, sahabat dan pejabat kebudayaan Hindia Belanda, mengumpulkan semua surat tersebut. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1911 dan kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa, mulai dari Jawa hingga Sunda.

Surat-surat Kartini disusun secara kronologis. Dengan cara ini, pembaca dapat melihat bagaimana pemikirannya berkembang seiring waktu. Ada tiga periode utama: surat awal (1899), surat menengah, dan surat akhir (1904).

Surat awal, yang ditulis pada 1899, dipenuhi kekaguman Kartini terhadap kemajuan peradaban Eropa. Ia merasa terpenjara oleh tembok pingitan di Jepara dan mendambakan kebebasan seperti wanita Barat. “Aku ingin melihat dunia luar,” tulisnya, mengekspresikan keinginannya untuk menjelajah.

Di bagian surat menengah, Kartini mulai mengkritik praktik poligami, tradisi sembah jongkok, dan pentingnya pendidikan bagi ibu. Ia menegaskan bahwa ibu adalah pendidik pertama bagi anak bangsa. “Kita harus memberi hak kepada perempuan untuk belajar,” ujarnya.

Surat akhir, yang ditulis pada 1904, menunjukkan pemikiran yang lebih tenang namun tetap kuat. Ia menekankan bahwa pendidikan bukan untuk menyaingi laki-laki, melainkan agar perempuan menjadi mitra cerdas dalam membangun bangsa. “Pendidikan bukan sekadar ijazah,” katanya, menyoroti nilai pendidikan karakter, kemandirian ekonomi, dan literasi.

Dalam bukunya, Kartini juga menentang pingitan dan budaya feodal. Ia menggambarkan betapa menyakitkannya terisolasi dari dunia luar. “Kenapa seorang adik harus menyembah kakaknya atau berbicara dalam bahasa yang berbeda hanya karena status sosial?” tanya Kartini, menuntut hubungan yang lebih manusiawi dan demokratis.

Definisi pendidikan Kartini melampaui membaca dan menulis. Ia menekankan pendidikan karakter, membentuk budi pekerti yang luhur. Ia juga menekankan kemandirian ekonomi, terutama lewat seni ukir Jepara. Dalam suratnya, Kartini menceritakan upayanya mempromosikan ukiran lokal ke Eropa agar pengrajin dapat hidup sejahtera. Ia juga menekankan pentingnya literasi, mengirim majalah dan buku dari Belanda kepada teman-temannya di Indonesia.

Buku ini berisi 106 surat. Penerima terbanyak adalah Ny. RM Abendanon-Mandri dengan total 49 surat. Berikut profil singkat beberapa penerima utama:

  • Estelle Stella Zeehandelaar: Sahabat pena paling akrab. Kartini paling terbuka tentang amarahnya terhadap ketidakadilan gender.
  • Ny. Abendanon: Dikenal sebagai ibu angkat. Surat-suratnya bersifat personal, penuh kasih sayang, dan diskusi tentang masa depan.
  • Pasangan Van Kol: Tokoh politik Belanda yang mendukung perjuangan Kartini untuk mendapatkan beasiswa ke Belanda, meskipun akhirnya gagal karena tekanan.

Judul buku ini mengalami transformasi. Awalnya berjudul bahasa Belanda Door Duisternis tot Licht, yang berarti “Melalui Kegelapan menuju Cahaya.” Pada tahun 1922, sastrawan Armijn Pane menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia dengan judul yang kita kenal sekarang: Habis Gelap Terbitlah Terang. Judul ini diambil dari kalimat ikonik Kartini yang menggambarkan optimisme bahwa penderitaan pasti akan berganti dengan kemajuan.

Kenapa buku ini masih relevan saat ini? Kartini mengajarkan bahwa keterbatasan fisik seperti dipingit atau tidak boleh sekolah bukan hambatan untuk berpikir kritis. Di era digital, semangat Kartini tentang menggunakan akses informasi untuk hal-hal berdampak masih penting. Ia berbicara tentang martabat manusia secara utuh, bukan hanya emansipasi wanita.

Dengan melihat surat-surat Kartini, kita dapat memahami bagaimana pemikiran perempuan Indonesia berkembang di masa kolonial. Buku ini mengingatkan kita bahwa pendidikan, kebebasan, dan kesetaraan tetap menjadi tujuan bersama. Menyimak karya Kartini memberi pelajaran bahwa perubahan dimulai dari kata, yang kemudian menjadi tindakan.

Kartinisuratpendidikankebebasanperempuankolonialkemandirian ekonomi

Komentar

Memuat komentar...