Hantavirus dari Kapal Pesiar MV Hondius Mengintai Penumpang

Yuli S. · 2 min baca · 28 hari lalu · 49 dibaca
Bisik.id
Hantavirus dari Kapal Pesiar MV Hondius Mengintai Penumpang

Gambar atau konten salah?

Di akhir pekan lalu, kabar tentang Hantavirus menyebar ke seluruh dunia setelah kapal pesiar MV Hondius dioperasikan di dekat Tanjung Verde mengakibatkan tiga orang meninggal dan beberapa orang lainnya sakit. Sebanyak 149 penumpang dan kru terpaksa ditahan sementara penyelidikan masih berlangsung.

Menurut laman resmi World Health Organization (WHO), Hantavirus adalah virus zoonosis. Artinya, virus ini secara alami menular pada hewan pengerat seperti tikus, dan hanya kadang kala menular ke manusia. Ketika manusia terinfeksi, penyakit yang muncul bisa sangat serius dan seringkali fatal. Tingkat keparahan penyakit ini berbeda tergantung jenis virus dan wilayah geografis tempat terjangkit.

Di Amerika, infeksi biasanya menimbulkan HCPS atau sindrom kardiopulmoner hantavirus. Penyakit ini berkembang dengan cepat dan menyerang paru‑paru serta jantung. Sedangkan di Eropa dan Asia, HFRS atau sindrom ginjal hantavirus lebih sering terjadi. Penyakit ini terutama memengaruhi ginjal dan pembuluh darah, menimbulkan komplikasi serius.

Hingga kini belum ada obat khusus yang dapat menyembuhkan Hantavirus. Namun, perawatan medis suportif sejak dini dapat meningkatkan peluang hidup pasien. Fokus perawatan adalah pemantauan klinis ketat dan penanganan komplikasi pada paru‑paru, jantung, dan ginjal. Pencegahan menjadi kunci utama, dengan mengurangi kontak antara manusia dan hewan pengerat yang terinfeksi.

Penularan Hantavirus dapat terjadi melalui kontak dengan urin, kotoran, atau saliva hewan pengerat. Meskipun lebih jarang, gigitan tikus juga dapat menularkan virus. Aktivitas yang meningkatkan risiko meliputi membersihkan ruang tertutup, bekerja di area dengan ventilasi buruk, kegiatan pertanian, kehutanan, atau tidur di tempat yang sering dikunjungi tikus.

Gejala pada manusia biasanya muncul antara satu hingga delapan minggu setelah terpapar. Demam, sakit kepala, nyeri otot, serta gejala gastrointestinal seperti mual atau muntah seringkali menjadi tanda awal. Pada HCPS, kondisi dapat berkembang dengan cepat menjadi batuk, sesak napas, penumpukan cairan di paru‑paru, dan syok. Sedangkan pada HFRS, stadium lanjut dapat menampilkan tekanan darah rendah, gangguan pembekuan darah, dan gagal ginjal. Diagnosa dini sulit karena gejala awal mirip dengan flu, COVID‑19, pneumonia virus, leptospirosis, demam berdarah, atau sepsis. Oleh karena itu, riwayat pasien yang cermat sangat penting, termasuk kemungkinan paparan hewan pengerat, pekerjaan, lingkungan, perjalanan, dan kontak dengan kasus yang diketahui.

Berikut beberapa langkah pencegahan yang dapat diambil:

  • Menjaga kebersihan rumah dan tempat kerja.
  • Menutup celah-celah yang memungkinkan hewan pengerat masuk ke dalam bangunan.
  • Menyimpan makanan dengan aman.
  • Melakukan pembersihan aman di area yang terkontaminasi oleh hewan pengerat.
  • Hindari menyapu kering atau menyedot kotoran tikus dengan penyedot debu.
  • Basahi area yang terkontaminasi sebelum dibersihkan.
  • Perkuat praktik kebersihan tangan.

Kasus MV Hondius menegaskan betapa pentingnya kewaspadaan terhadap Hantavirus. Meskipun belum ada obat, penanganan cepat dan pencegahan yang tepat dapat menyelamatkan nyawa. Kesadaran tentang cara virus ini menular dan gejala yang muncul menjadi kunci dalam mengendalikan penyebaran, terutama di daerah yang rawan terpapar hewan pengerat. Dengan menjaga kebersihan dan mengurangi kontak dengan tikus, risiko infeksi dapat ditekan secara signifikan.

HantavirusMV HondiusWHOHCPSHFRSpenyakitgejalapencegahan

Komentar

Memuat komentar...