Hari Pendidikan Nasional: Kenangan Ki Hajar Dewantara 2024

Wahyu T. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 56 dibaca
Bisik.id
Hari Pendidikan Nasional: Kenangan Ki Hajar Dewantara 2024

Gambar atau konten salah?

Hardiknas diperingati setiap 02 Mei sebagai hari penting bagi bangsa. Peringatan ini lebih dari sekadar upacara; ia menjadi refleksi atas peran pendidikan dalam pembangunan negara.

Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 menetapkan tanggal tersebut. Pilihan 02 Mei tidak semata-mata kebetulan, melainkan penghormatan pada Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan yang lahir pada 02 Mei 1889.

Ki Hajar Dewantara, lahir di Yogyakarta sebagai Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, berasal dari keluarga bangsawan Pakualaman. Ayahnya, K.P.A. Suryaningrat, masih menurunkan garis keturunan Sultan Hamengkubuwono II. Dari nama keluarga ini, ia mewarisi nilai sejarah dan kebanggaan.

Sejak kecil, ia dikenal dengan julukan Jemblung karena perutnya yang buncit. Nama ini awalnya hanya candaan ayahnya, namun ia juga diberi nama tambahan Trunogati oleh Kyai Soleman, yang mengandung harapan ia akan menjadi pemimpin.

Kepribadian Soewardi tumbuh keras. Meski tubuhnya tidak kuat, ia memiliki tekad yang luar biasa. Sahabatnya, Ernest François Eugène Douwes Dekker, menulis bahwa dalam tubuhnya yang lemah terdapat semangat juang yang tak tergoyahkan.

Nama Ki Hajar Dewantara muncul secara spontan di forum diskusi Selasa Kliwonan. Awalnya hanya gurauan, namun seiring waktu nama tersebut menjadi identitas resmi pada 23 Februari 1928.

Perjalanan pendidikan Ki Hajar tidak terlepas dari dunia jurnalistik dan politik. Setelah menamatkan pendidikan di ELS, ia menulis di berbagai surat kabar, mengekspresikan kritik tajam terhadap kebijakan kolonial yang diskriminatif, khususnya di bidang pendidikan.

Ia bersama Cipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker mendirikan Indische Partij pada 1912. Organisasi ini menuntut kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda, menandai langkah awal perjuangan politiknya.

Suatu tulisan terkenal, Als Ik een Nederlander was, menolak kebijakan Belanda yang memaksa rakyat jajahan merayakan kemerdekaan mereka. Akibatnya, Ki Hajar diasingkan oleh pemerintah kolonial.

Setelah kembali dari pengasingan, ia fokus pada pendidikan. Pada 03 Juli 1922, ia mendirikan Perguruan Taman Siswa, lembaga pendidikan terbuka bagi rakyat pribumi. Taman Siswa menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan Indonesia.

Konsep pendidikan Taman Siswa menekankan kemandirian, budaya bangsa, dan pembentukan karakter. Sistem yang dikenal sebagai system among menempatkan guru sebagai pembimbing, bukan penguasa.

Meski berpengaruh besar, Ki Hajar menolak pengkultusan diri. Ia melarang anak-anaknya menulis biografi dirinya selama hidup, khawatir akan ketidakobjektifan. Ia percaya setiap orang berhak memiliki pandangan berbeda tentang dirinya.

Dalam surat kepada Gubernur Jenderal Belanda pada 1932, ia menolak pemajangan gambar dirinya di lingkungan Perguruan Taman Siswa. Ia khawatir hal tersebut dapat menimbulkan ketergantungan dan menghambat kemandirian.

Filosofi hidupnya terinspirasi oleh wayang, khususnya lakon Kresna Muksa. Ia membandingkan hidup dengan perjalanan panjang yang penuh pendakian, menekankan bahwa hidup dan mati, sukses dan kegagalan, bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dipahami.

Ia menyinggung istilah kanthil dalam filosofi Jawa, yang berarti melekat atau bergantung. Ia menanamkan nilai bahwa setiap individu harus mandiri, tidak menggantungkan diri pada figur tertentu, termasuk dirinya sendiri.

Penghargaan terhadap sejarah juga terlihat dalam kehidupan pribadi. Ia menggunakan barang bekas, termasuk perabot rumah tangga yang dibeli dari pelelangan. Beberapa barang tersebut bahkan berasal dari tokoh besar seperti Soekarno. Ia tetap mengingat asal-usul barang tersebut, sering menyebut nama pemilik sebelumnya saat menggunakannya.

Di rumah, Ki Hajar menerapkan nilai demokrasi. Ia terbiasa berdiskusi dengan istri dan anak-anaknya, bahkan dalam hal sederhana seperti makan bersama. Tradisi ini menunjukkan bahwa nilai pendidikan yang ia perjuangkan juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ki Hajar Dewantara wafat pada 26 April 1959. Meskipun sudah tidak hidup, pemikiran dan perjuangannya tetap hidup. Hari lahirnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, mengingatkan pentingnya pendidikan dalam membangun peradaban bangsa.

Nilai-nilai yang diajarkannya, seperti kemandirian, kebebasan belajar, dan pendidikan yang humanis, masih relevan menghadapi tantangan zaman. Konsep pendidikan yang ia gagas tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kepribadian.

Hari ini, Hardiknas menjadi momen bagi generasi muda untuk merenungkan peran pendidikan dalam kehidupan. Dengan mengenang Ki Hajar Dewantara, kita diingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses pembentukan diri yang berkelanjutan.

HardiknasKi Hajar DewantaraPendidikan NasionalTaman SiswaKemandirianPerjuangan IndonesiaKebijakan kolonial

Komentar

Memuat komentar...