Hotpot Panas Bakar Kerongkongannya, Air Es Memperparah

Fitri A. · 2 min baca · 12 hari lalu · 61 dibaca
Bisik.id
Hotpot Panas Bakar Kerongkongannya, Air Es Memperparah

Gambar atau konten salah?

Seorang wanita berusia 42 tahun, bernama Wang, mengalami luka serius pada kerongkongannya setelah memakan hotpot yang masih sangat panas di Changsha, Provinsi Hunan, China. Luka tersebut berukuran 8 sentimeter, setara dengan hampir sepertiga panjang esofagus dewasa yang biasanya berukuran 25 hingga 30 sentimeter.

Kejadian bermula pada suatu hari dingin di bulan Maret lalu. Wang sedang menikmati hotpot bersama teman-temannya. Karena lapar dan terhanyut suasana, ia langsung menelan makanan panas tanpa menunggu suhunya turun. Sesaat setelah menelan, ia merasakan dada sesak dan rasa panas di tenggorokan.

Untuk meredakan rasa panas, Wang meminum air es. Awalnya ia merasa kondisi membaik, sehingga tidak memikirkan tindakan tersebut. Namun keesokan harinya, ia mulai merasakan nyeri hebat saat menelan makanan, bahkan saat hanya meminum air putih.

Wang segera memeriksakan diri ke Changsha Eighth Hospital. Dokter Wu Xiaoqing, yang menangani kasusnya, menemukan adanya ulkus sepanjang 8 sentimeter pada esofagus. Dokter menjelaskan bahwa banyak orang salah mengira bahwa kerongkongan mampu menahan suhu makanan yang terlalu panas. Padahal, saluran esofagus hanya dapat mentoleransi suhu sekitar 50 hingga 60 derajat Celsius.

Makanan hotpot yang baru matang suhunya bisa mencapai 80 sampai 90 derajat Celsius. Kalau langsung ditelan, lapisan kerongkongan dapat terbakar, jelas Wu.

Dokter juga menambahkan bahwa kebiasaan langsung minum air dingin setelah mengonsumsi makanan panas dapat memperparah kondisi kerongkongan. Perubahan suhu yang ekstrem membuat lapisan mukosa esofagus semakin teriritasi. Banyak orang mengira air es bisa menetralisir suhu panas, padahal justru memberi rangsangan tambahan pada kerongkongan, tambahnya.

Beruntung, kondisi Wang masih dapat ditangani dengan cepat sehingga peluang sembuh total cukup besar. Namun dokter memperingatkan, jika luka seperti ini terus berulang maka dapat meningkatkan risiko kanker esofagus.

Kasus Wang memicu perdebatan di media sosial China. Banyak warga China terbiasa menyantap makanan selagi masih sangat panas dan menganggapnya lebih nikmat. Hotpot sendiri menjadi salah satu makanan favorit di China, terutama hotpot dengan kuah pedas khas Sichuan dan Chongqing yang terkenal menggigit di mulut.

Menurut badan kesehatan dunia WHO, minuman atau makanan bersuhu di atas 65 derajat Celsius dapat memicu kanker pada manusia. Karena itu, dokter menyarankan agar makanan panas suhunya diturunkan sedikit sebelum dikonsumsi agar tidak melukai saluran pencernaan.

Wang tidak menyebutkan nama dokter lain atau fasilitas medis selain Changsha Eighth Hospital. Ia juga tidak menyatakan bahwa ia akan melanjutkan pengobatan atau prosedur lanjutan. Namun, dokter Wu menekankan pentingnya memperhatikan suhu makanan dan menghindari minum air dingin secara langsung setelah mengonsumsi makanan panas.

Kasus ini menyoroti risiko kesehatan yang sering terabaikan ketika menikmati makanan panas. Meskipun hotpot menawarkan rasa yang menggugah selera, penting bagi konsumen untuk memperhatikan suhu makanan dan menghindari tindakan yang dapat memperparah luka pada esofagus. Rasa panas yang berlebihan dapat menyebabkan luka serius, dan kebiasaan minum air es secara langsung justru dapat memperburuk kondisi tersebut.

Secara keseluruhan, kejadian Wang mengingatkan kita bahwa kesadaran akan suhu makanan dan cara mengonsumsinya dapat mencegah luka serius dan risiko kanker esofagus. Mengurangi suhu makanan sebelum dikonsumsi dan menghindari minum air dingin secara langsung dapat menjadi langkah sederhana namun efektif untuk menjaga kesehatan kerongkongan.

hotpot panasluka esofaguskanker esofagussuhu makananminum air esChangsha Eighth HospitalDokter Wu Xiaoqing

Komentar

Memuat komentar...