Idul Adha: Sejarah Kurban Nabi Ibrahim dan Makna Sosialnya
Gambar atau konten salah?
Idul Adha atau Lebaran Haji diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah di seluruh dunia. Hari ini menjadi momen penting bagi umat Islam, identik dengan ibadah kurban. Di balik perayaan tersebut, terdapat kisah Nabi Ibrahim (AS) dan putranya Nabi Ismail (AS) yang menjadi dasar perintah kurban.
Menurut tradisi, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggalkan istri dan putranya di sebuah tempat yang kering, tandus, jauh dari pemukiman, dan tidak ditumbuhi pepohonan. Meskipun kondisi sulit, Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim, menerima ketetapan tersebut dengan ikhlas dan penuh tawakal.
Allah menegaskan permintaan tersebut dalam QS Ibrahim ayat 37:
رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Artinya: Ya Tuhan kami sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di suatu lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahmu (Baitullah) yang dimuliakan. Ya Tuhan kami (sedemikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagai manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.
Ketika Nabi Ismail masih kecil dan kehausan hingga menangis, Siti Hajar berusaha mencari air dengan berlari antara Bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Usahanya belum membuahkan hasil. Hingga akhirnya Allah mengutus Malaikat Jibril dan memunculkan air zam-zam dari hentakan kaki Nabi Ismail. Air tersebut mengubah wilayah yang semula gersang menjadi kawasan dengan persediaan air melimpah. Kini wilayah tersebut menjadi pusat perkembangan wilayah sekitarnya dan dikenal dengan Kota Makkah.
Atas ketaatan dan keimanannya, Nabi Ibrahim diberi gelar Al-Khalil (Kekasih Allah). Namun, para malaikat bertanya kepada Allah, “Ya Tuhanku, mengapa engkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasihmu padahal ia disibukkan dengan urusan kekayaan dan keluarganya?” Allah berfirman, “Jangan menilai hambaku Ibrahim ini dengan ukuran lahiriyah, tengoklah isi hatinya dan amal baktinya.”
Allah kemudian memberi izin kepada para malaikat untuk menguji keimanan dan ketakwaan Nabi Ibrahim. Dalam kitab “Misykatul Anawa”, Nabi Ibrahim digambarkan sebagai sosok yang sangat kaya, memiliki ribuan hewan ternak, namun kekayaannya tidak membuat lalai dari perintah Allah.
Satu hari, ia mendapat ujian melalui mimpinya. Dalam mimpi tersebut, ia diperintahkan untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail (AS) yang sedang berusia tujuh tahun. Mimpi tersebut berulang hingga Nabi Ibrahim memahami bahwa itu merupakan perintah Allah. Ia menyampaikannya kepada sang anak.
قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya: Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ismail menjawab: “Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatku termasuk orang yang sabar.”
Setelah memutuskan melaksanakan perintah tersebut, setan berusaha menggoda Nabi Ibrahim agar membatalkannya. Namun, ia tetap teguh dan mengusir godaan tersebut dengan mengucap basmalah sambil melempar batu. Langkah itu kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji, yaitu jumrah.
Ketika Nabi Ibrahim dan Ismail berserah diri dan bersiap menjalankan perintah Allah, Allah memerintahkan untuk menghentikan perbuatan itu saat pisau telah diayunkan ke leher Nabi Ismail. Allah mencukupkan dengan menyembelih seekor kambing sebagai korban.
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
Artinya: Dan, kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
Sejak peristiwa tersebut, umat Islam dianjurkan melaksanakan ibadah kurban pada tanggal 10 Dzulhijjah, dengan menyembelih hewan ternak seperti kambing, sapi, kerbau, atau unta sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah SWT.
Makna berkurban dapat dilihat melalui empat pelajaran utama, sebagaimana dijelaskan oleh Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat:
- Bersedekah – Ibadah kurban mengajarkan kita untuk memberi kepada yang membutuhkan. Rasulullah SAW bersabda: أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ
- Bertakwa kepada Allah – Menunaikan kurban menumbuhkan rasa takut dan hormat kepada Allah. QS Al-Hajj: 37: اَ هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسنِينَ
- Belajar untuk Ikhlas – Kurban menuntut ikhlas demi mencapai ridha Allah. QS Al-Hajj: 37: لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
- Belajar Berzikir – Ibadah kurban mengharuskan melafalkan basmalah dan bertakbir saat menyembelih. QS Al-Hajj: 28: وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ
Setiap poin mengandung nilai praktis: bersedekah, menunaikan perintah Allah, bersikap ikhlas, dan selalu mengingat Allah. Ibadah kurban menjadi contoh konkret bagaimana umat Islam dapat menyalurkan ketakwaan, kepedulian, dan rasa syukur kepada Allah serta sesama.
Dengan memahami kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail serta makna kurban, umat dapat meneladani keteguhan iman, pengorbanan, dan kepedulian sosial yang menjadi inti dari Idul Adha. Ibadah ini tidak hanya sekadar ritual, melainkan cara hidup yang mengajarkan nilai-nilai spiritual dan sosial yang relevan hingga saat ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Persebaya Surabaya Resmi Berpisah dengan Mihailo Perovic
Santerra De Laponte: Tujuan Foto Keluarga di Pujon Malang
Timnas U‑19 Siap Hadapi Timor Leste, Kaka Fokus Evaluasi
Tim Tabur Tangkap Liauw Inggarwati dan Bastian Widjaja
Peternak Sapi Perah Dusun Brau Siap Hadapi Musim Kemarau
Rakhmad Basuki: Dari Larangan Orang Tua Jadi Pelatih Pro
