Idulfitri Indonesia: 5 kali tanggal beda dalam 25 tahun
Gambar atau konten salah?
Idulfitri merupakan momen penting bagi umat Islam di Indonesia. Pada 21 Maret 2026, pemerintah baru saja menetapkan 1 Syawal. Namun, sejarah Lebaran di Indonesia memuat peristiwa‑peristiwa tak terlupakan.
Pada tahun 1987, 1 Syawal diumumkan secara resmi di pagi hari. Masyarakat yang sedang menunaikan puasa hari ke‑30 terkejut harus segera merayakan Lebaran. Keputusan itu dipicu oleh sistem sidang isbat yang belum seefektif saat ini. Presiden Soeharto tidak menggelar open house karena ekonomi Indonesia sedang terpuruk akibat penurunan harga minyak bumi. Ekspor minyak menurun, pendapatan negara merosot, dan nilai tukar rupiah melemah. Dalam autobiografi Soeharto, ia menegaskan contoh kesederhanaan dan keprihatinan. “Pada hari Lebaran 1987, saya dan istri tak menerima ucapan selamat Idulfitri di kediaman kami di jl. Cendana,” kata Soeharto.
Pada 2011, kalender menulis Lebaran jatuh pada 30 Agustus. Namun, sidang isbat pada 29 Agustus malam menyatakan tidak ada hilal, sehingga 1 Syawal ditetapkan pada 31 Agustus. Masyarakat yang sudah menyiapkan ketupat, kue lebaran, dan membersihkan rumah merasakan dampak. Di Samarinda, ratusan kendaraan konvoi takbiran yang sudah berkumpul di Jalan Slamet Riyadi‑Untung Surapati pada 29 Agustus malam belum mendapat keputusan hingga pukul 20.30 WITA. Pada pukul 21.00 WITA, Kementerian Agama mengumumkan Idulfitri jatuh pada 31 Agustus. Beberapa konvoi bubar, namun beberapa peserta tetap melanjutkan tradisi. “Tidak apa‑apa (batal). Yang penting niatan kita untuk konvoi takbiran,” ungkap Fadil, salah satu peserta.
Pada 2020, pandemi Covid‑19 melanda. Pemberantasan Sosial Berskala Besar diberlakukan, sehingga sidang isbat dilakukan secara virtual dan salat Id dilaksanakan di rumah. Lebaran tanpa mudik menjadi sejarah. Silaturahmi yang biasanya dilakukan langsung beralih ke video call, Google Meet, dan Zoom. Meskipun jarak memisahkan, silaturahmi tetap terjaga.
Lebaran beda hari terjadi karena perbedaan metode perhitungan. Muhammadiyah menggunakan hisab, sementara NU menggunakan rukyat. Selama 25 tahun terakhir, Indonesia merayakan Hari Raya beda hari sebanyak lima kali: 2002, 2006, 2007, 2011, 2023, dan 2026.
Sejarah Idulfitri di Indonesia mencerminkan perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi. Dari kejutan 1987 hingga adaptasi 2020, peristiwa‑peristiwa ini tetap menjadi bagian penting dalam ingatan masyarakat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kebakaran 4 Ha di Bangka Barat Padam dalam 1 Jam pada 3 Juni
Wakil Bupati Iwan Tuaji Laporkan Harta Rp 6,7 Miliar
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
BMKG: Hujan Ringan di Way Kanan, Lampung Sore Hari
Palembang: Gaji ke-13 ASN 2026, Rp 89 Miliar Alokasi
Evaluasi CFD Palembang: PKL Dikonfigurasikan di Zona Khusus
Berita Terbaru
Empat Anakan Harimau Sumatra Lahir di Taman Safari Prigen
Operasi Patuh 2026: 14 Hari Tepatkan Lalu Lintas Nasional
Vlahovic Bebas: Arsenal Tertarik, Juventus Tak Berikan Kontrak
Fabiola Elizabeth Tersangka Penipuan Online Internasional
Pedagang Valas Kaki Lima di Jalan Kwitang Terima Dolar Rusak
Kebakaran 4 Ha di Bangka Barat Padam dalam 1 Jam pada 3 Juni
Khutbah Jumat Akhir Tahun: Refleksi dan Muhasabah 1447 H
