Indonesia Bertemu S&P: Fokus Rating dan Defisit 3%

Bambang W. · 2 min baca · 1 jam lalu · 19 dibaca
Bisik.id
Indonesia Bertemu S&P: Fokus Rating dan Defisit 3%

Gambar atau konten salah?

Kementerian Investasi dan Hilirisasi bersinergi dengan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk mengadakan pertemuan dengan S&P Global Ratings. Tujuan utama pertemuan ini adalah menilai Sovereign Credit Rating (SCR) Indonesia, sebuah indikator penting bagi investor global.

Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara, Rosan Roeslani, memimpin sesi tersebut. Ia menyoroti perkembangan investasi domestik serta Foreign Direct Investment (FDI) yang masuk ke Indonesia. Selain itu, Rosan menjelaskan peran Danantara dalam memperkuat transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Kami menyampaikan perkembangan investasi domestik dan FDI, serta peran Danantara dalam memperkuat transformasi BUMN dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” ungkap Rosan dikutip dari unggahan Instagram resminya @rosanroeslani, Kamis (04 Juni 2026).

Rosan menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga reformasi dan memperkuat ekosistem investasi. Ia percaya langkah-langkah tersebut dapat meningkatkan kepercayaan dan optimisme pasar terhadap Indonesia.

Pemerintah terus menjaga momentum reformasi dan penguatan ekosistem investasi untuk memperkokoh kepercayaan dan optimisme pasar global terhadap prospek ekonomi Indonesia,” pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa juga mengaku telah bertemu dengan S&P pada Rabu (03 Juni 2026). Fokus utama pertemuan tersebut adalah komitmen pemerintah menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah telah menyampaikan berbagai langkah untuk menjaga kesehatan fiskal, termasuk strategi mempertahankan defisit APBN di bawah ambang batas 3% selama tahun ini dan tahun depan.

Kewajiban kita kan itu. Untuk respons, mereka akan diskusikan di sana dengan timnya. Jadi, dia hanya mencari informasi dan kita jelaskan semaksimal mungkin dari posisi kita. Utamanya keseriusan kita menjaga defisit di bawah 3%, dan kita jelaskan cara-cara tahun ini mau ke tahun depan, dan semua termasuk perbaikan kondisi ekonomi kita,” ungkap Purbaya di Kompleks DPR RI, Jakarta, Kamis (04 Juni 2026).

Dengan kedua pertemuan tersebut, Indonesia menegaskan tekadnya untuk meneguhkan posisi fiskal dan meningkatkan daya tarik investasi, sekaligus memperkuat kepercayaan pasar global terhadap prospek ekonomi nasional.

Sovereign Credit Rating IndonesiaS&P Global RatingsBPI DanantaraFDIBUMNdefisit APBN 3%ekonomi Indonesiareformasi fiskal

Komentar

Memuat komentar...