Indonesia Tegakkan Ekonomi dengan Energi Mix dan Kebijakan Fiskal

Maya K. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 94 dibaca
Bisik.id
Indonesia Tegakkan Ekonomi dengan Energi Mix dan Kebijakan Fiskal

Gambar atau konten salah?

Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu perang tarif dan ketegangan geopolitik, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketangguhan. Pemerintah menegaskan bahwa bauran energi nasional yang beragam dan strategi fiskal yang prudensial menjadi pilar utama menahan risiko.

Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menyampaikan hal tersebut dalam Kuliah Umum di Institut Pertanian Bogor pada 29 Mei 2026. Ia menyoroti komitmen Indonesia dalam memproduksi berbagai sumber energi: minyak, gas, biodiesel, bioenergi, dan batu bara. “Kita menghasilkan minyak, gas, biodiesel, bioenergi, batu bara. Jadi energi mix kita lebih baik sehingga kita masih mempunyai daya tahan yang baik terhadap harga minyak yang meroket di global,” ujarnya, dikutip dari keterangan Kementerian Keuangan pada 30 Mei 2026.

Dalam pidatonya, Juda Agung memaparkan tiga strategi utama untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus mempertahankan disiplin fiskal dan stabilitas makroekonomi. Pertama, pengendalian belanja negara. Pemerintah berjanji menjaga daya beli masyarakat dan menahan inflasi dengan mempertahankan harga BBM bersubsidi melalui kenaikan pengeluaran subsidi. Program Makan Bergizi Gratis juga akan diperkecil. Fokus belanja negara dialihkan ke sektor produktif, mendorong produksi, dan menciptakan lapangan kerja. “Itu dari sisi pengeluaran yang kita bisa melakukan pengendalian. Istilahnya refocusing. Kita akan fokus pada pengeluaran yang mendorong demand, yang mendorong supply, mendorong produksi, dan juga mendorong menciptakan kata pekerjaan,” jelas Wamenkeu.

Strategi kedua adalah optimalisasi penerimaan negara. Kenaikan harga komoditas dimanfaatkan secara maksimal, sementara penerimaan pajak ditingkatkan lewat implementasi sistem Coretax. Dengan demikian, pendapatan negara dapat tumbuh tanpa menambah beban fiskal.

Ketiga, pembiayaan. Untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS, pemerintah mengarahkan penerbitan surat utang dengan mata uang non-US$. Contohnya Samurai bonds denominasi yen (JPY), Dim Sum bonds dalam renminbi, dan Kangaroo bonds dalam dolar Australia. Pendekatan ini diharapkan menurunkan risiko mata uang dan menjaga suku bunga tetap kompetitif.

Efektivitas strategi fiskal tersebut terlihat pada kinerja ekonomi kuartal pertama tahun ini. Perekonomian Indonesia tumbuh kuat dengan 5,61%, inflasi tetap terjaga di 2,42%, defisit fiskal terkendali pada 0,64% di April 2026, dan yield SBN serta spread masih stabil. “Jadi empat itu sebenarnya empat indikator pertumbuhan, inflasi, fiskal defisit, dan juga yield SBN ini, menentukan bagaimana fiskal kita masih kuat. Strategi kita yang kita ambil tadi, it works. Dia bekerja dengan baik,” pungkas Juda Agung.

Dengan kombinasi energi yang beragam, pengendalian belanja, peningkatan penerimaan, dan diversifikasi pembiayaan, Indonesia menegaskan posisi ekonominya di tengah ketidakpastian global. Kinerja kuartal pertama menunjukkan bahwa kebijakan fiskal yang terukur mampu menjaga pertumbuhan, inflasi, dan stabilitas keuangan tetap dalam batas yang dapat dikelola.

Energi mixfiskal prudensialpenerimaan pajaksamurai bondsinflasidefisit fiskalkebijakan fiskal

Komentar

Memuat komentar...