Jawa Timur: Tokoh Pendidikan yang Membentuk Indonesia Bersama
Gambar atau konten salah?
Jawa Timur, daerah yang dikenal sebagai pusat pergerakan kemerdekaan, juga menjadi ladang bagi banyak tokoh pendidikan yang memengaruhi arah belajar di Indonesia. Pada Hari Pendidikan Nasional 2026, kita dapat menelusuri jejak mereka, melihat bagaimana ide dan lembaga yang mereka dirikan masih berdampak hingga kini.
-
Danudirja Setiabudi atau Ernest Douwes Dekker (30 Juli 1888 – 13 Juni 1913) lahir di Surabaya. Ia menjadi satu-satunya anggota Tiga Serangkai yang berasal dari Jawa Timur. Kritiknya terhadap sistem pendidikan kolonial yang memisahkan warga Eropa dan pribumi menandai langkah awalnya. Pada tahun 1924, ia mendirikan Ksatrian Instituut, sekolah yang membuka pintu bagi semua lapisan masyarakat. Meski menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar, ia menekankan pendidikan karakter, kesehatan, dan literasi ekonomi. Bersama Cipto Mangunkusumo, Danudirja berusaha mencetak generasi yang sadar akan hak dan kemerdekaan.
-
Dr Soetomo (30 Juli 1888 – 14 Februari 1871) lahir di Nganjuk. Pendidikan awalnya di STOVIA membawanya ke dunia medis, namun kehilangan ayah pada tahun 1907 memperkuat kesadarannya akan ketidakadilan sosial. Ia mendirikan Budi Utomo pada tahun 1908, gerakan yang kini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Setelah lulus sebagai dokter pada 1911, ia melanjutkan spesialisasi kulit di Belanda pada 1919 hingga 1923. Kembali ke tanah air, Soetomo mengajar di NIAS dan memimpin Perhimpunan Indonesia. Ia juga mendirikan Intellectueelenbond, yang kemudian menjadi Indonesische Studieclub pada 1924, memfokuskan pada pemikiran lintas ideologi. Pada 1930, gerakannya bergabung menjadi Persatuan Bangsa Indonesia (PBI), yang kemudian menjadi bagian dari Parindra. Warisan fisiknya, Gedung Nasional Indonesia (GNI), masih berdiri sebagai simbol gotong royong di masa kolonial.
-
KH Hasyim Asy'ari (14 Februari 1871 – 31 Januari 1926) lahir di Jombang ke dalam keluarga ulama. Ia mengembangkan ilmu di pesantren, kemudian menimba ilmu di Makkah selama tujuh tahun. Di sana, ia menjadi murid Syaikh Mahfudh Termas dan memperoleh ijazah mengajar Shahih Bukhari. Kembali ke Indonesia, ia mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng pada 1899 dan menjadi pendiri Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926. Melalui Risalah Ahl Al-Sunnah Wal Al-Jama'ah, KH Hasyim menekankan pentingnya menjaga akidah sesuai ajaran ulama terdahulu, sekaligus menanggapi perubahan zaman. Ia percaya bahwa inovasi tidak harus menolak tradisi, asalkan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
-
Khoiriyah Hasyim (1908 – 2 Juli 1983) lahir sebagai putri kedua KH Hasyim Asy'ari. Pada masa ketika perempuan belum memiliki akses pendidikan formal, ia belajar otodidak lewat pengajian ayahnya. Ia berperan penting dalam membuka pendidikan bagi perempuan. Bersama suami pertamanya, KH Maksum Ali, ia mendirikan Pesantren Seblak di Jombang, tempat santri putri belajar ilmu falak. Ketika pindah ke Arab Saudi, ia bersama suami keduanya mendirikan Madrasah Lil Banat di Makkah, sekolah perempuan yang progresif pada masanya. Ia juga aktif di forum Bahtsul Masail PBNU dan pernah menjabat Ketua Fatayat NU pada 1958 hingga 1962, serta menjadi anggota Syuriah NU. Pada 1957, ia kembali ke Indonesia atas permintaan Soekarno untuk memperkuat gerakan perempuan. Kontribusinya menunjukkan bahwa pendidikan formal tidak wajib bagi perempuan untuk berkontribusi pada masyarakat.
-
Mayjen TNI (Purn) Moestopo (13 Juni 1913 – 2007) lahir di Kediri. Kariernya dimulai di bidang kedokteran gigi setelah lulus dari STOVIT Surabaya. Ia dipercaya menjadi wakil kepala sekolah kedokteran gigi pada masa pendudukan Jepang, kemudian terjun ke dunia militer. Moestopo pernah menjadi komandan PETA di Surabaya dan Gresik, serta menjabat Menteri Pertahanan Ad Interim dalam pertempuran Surabaya 1945. Ia juga membentuk Pasukan Terate, unit khusus yang melibatkan masyarakat sipil dalam perlawanan. Setelah perang, ia kembali ke pendidikan dengan mendirikan Dr Moestopo Dental College pada 1958, yang kemudian berkembang menjadi Universitas Prof. Dr. Moestopo. Perguruan tinggi ini kini terakreditasi A. Selain itu, ia mendirikan Pusat Perdamaian Dunia pada 1964, menandai visinya terhadap perdamaian global. Atas jasa-jasanya, Moestopo dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2007.
Kelima tokoh ini menonjol karena keberanian mereka dalam menantang sistem yang ada. Mereka tidak hanya menciptakan lembaga pendidikan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebebasan, keadilan, dan inovasi. Pada Hari Pendidikan Nasional, kita diingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses pembentukan karakter dan semangat kemerdekaan. Warisan mereka tetap hidup, menginspirasi generasi baru untuk terus belajar dan berkontribusi pada kemajuan bangsa.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Persebaya Surabaya Resmi Berpisah dengan Mihailo Perovic
Santerra De Laponte: Tujuan Foto Keluarga di Pujon Malang
Timnas U‑19 Siap Hadapi Timor Leste, Kaka Fokus Evaluasi
Tim Tabur Tangkap Liauw Inggarwati dan Bastian Widjaja
Peternak Sapi Perah Dusun Brau Siap Hadapi Musim Kemarau
Rakhmad Basuki: Dari Larangan Orang Tua Jadi Pelatih Pro
Berita Terbaru
Harga Emas Antam Palembang Turun Rp2,759.000 per Gram
Harga Emas Antam Medan Turun Rp15.000 per Gram di Medan
Sekolah Jember Siapkan Lapangan Sepak Bola Internasional
Kementerian Sosial Buka 5.127 Posisi PPPK Guru Sekolah Rakyat 2026
BKN Tegaskan Poster CPNS 2026 Hoaks, Cek Sumber Resmi
Kementerian Lingkungan Target Turunkan Emisi CO2 15% 2025
Korea Selatan & Panama Menang Uji Coba Piala Dunia 2026
Furtasan Usulkan PTN Seleksi Mahasiswa Hanya Dua Jalur
