Jembatan Cirahong Tanpa Jaga, Pengendara Paham Risiko
Gambar atau konten salah?
5 April 2024 menandai perubahan suasana di Jembatan Cirahong, Desa Pawindan, Kecamatan Ciamis. Setelah viral dugaan pungutan liar di media sosial, tidak ada lagi warga yang berjaga mengatur lalu lintas di jembatan penghubung Ciamis‑Tasikmalaya.
Arus kendaraan roda dua yang dulu diatur bergantian kini mengalir bersamaan dari dua arah. Pengendara terlihat lebih berhati‑hati, khususnya di bagian tengah jembatan. Beberapa di antaranya sempat berhenti di depan pintu jembatan, menyiapkan uang receh seperti kebiasaan sebelumnya. Setelah mengetahui tidak ada lagi penjaga, mereka langsung melanjutkan perjalanan.
Menariknya, masih ada pengendara yang melempar koin pecahan Rp500 ke arah saung di depan jembatan. Kebiasaan ini dianggap sebagai bentuk terima kasih atas jasa pengaturan lalu lintas sebelumnya.
Reaksi warga tidak terlepas. Ade, pedagang kerupuk berusia 45 tahun asal Baregbeg, mengaku lebih nyaman bila ada penjaga. "Kalau ada yang jaga, saya tidak keberatan kasih Rp1.000 atau Rp2.000. Soalnya jadi lebih aman. Apalagi malam hari, takut ada kejahatan. Kalau tidak ada yang jaga, agak khawatir juga," ujarnya.
Ahmad Himawan, pedagang lain di Pawindan, menilai keberadaan penjaga selama ini cukup membantu pengendara. Ia menyayangkan respons terhadap isu viral. "Sekarang jembatan tidak ada yang jaga, mungkin karena takut dipidanakan atau karena viral. Padahal di lapangan, banyak pengendara yang merasa terbantu. Kalau berpapasan risikonya besar, apalagi saat hujan," katanya. Ia berharap ada solusi konkret dari pemerintah, seperti penempatan petugas resmi atau pemasangan rambu lalu lintas. "Kalau memang penjaga dihentikan, harus ada solusi. Misalnya petugas resmi atau rambu. Ini jalur penting bagi warga Ciamis dan Tasikmalaya," tambahnya.
Kepala Desa Pawindan, Ahmad Kartoyo, mengonfirmasi sejak Sabtu siang tidak ada lagi warga yang berjaga di lokasi jembatan. "Betul, sejak kemarin sudah tidak ada yang jaga. Tadi malam saya sampai turun langsung ke lokasi karena khawatir. Kondisinya gelap dan sepi, tidak ada orang sama sekali," ungkapnya. Ia mengaku merasa waswas dengan kondisi tersebut, terutama terkait potensi kecelakaan atau tindak kejahatan. "Biasanya kalau ada penjaga, pengendara yang takut bisa dibantu, bahkan diantar. Kalau sekarang sepi sekali, rasanya seperti masuk gua. Jujur ada rasa khawatir," ujarnya. "Untuk sementara belum ada solusi. Kami sebagai pemerintah desa mengikuti kebijakan, tapi tetap berharap ada langkah pengamanan ke depan," pungkasnya.
Situasi ini menyoroti ketergantungan warga pada penjaga jembatan, terutama di malam hari. Meskipun pengendara masih menunjukkan rasa terima kasih dengan melempar koin, ketidakpastian mengenai keamanan dan pengaturan lalu lintas tetap menjadi perhatian utama bagi masyarakat Pawindan dan sekitarnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
