JLKT Bromo Dimulai: 13 km Jalur Tanpa Pengaspalan, 3 Rest

Surya B. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 98 dibaca
Bisik.id
JLKT Bromo Dimulai: 13 km Jalur Tanpa Pengaspalan, 3 Rest

Gambar atau konten salah?

Pariwisata Bromo selalu menjadi magnet bagi pengunjung di Jawa Timur. Ribuan kendaraan melintas setiap hari, memberi dampak ekonomi besar bagi masyarakat sekitar. Namun, di balik popularitas itu, jalur‑jalur liar muncul tanpa pengaturan, merusak savana, menimbulkan erosi, dan mengganggu ekosistem alam.

Untuk menata kondisi tersebut, pemerintah memulai pembangunan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT). Jalur ini dirancang untuk mengatur pergerakan wisatawan, melindungi lingkungan, dan menjaga nilai budaya Tengger.

JLKT bertujuan melindungi ekosistem, menjaga nilai budaya Suku Tengger, serta meningkatkan kenyamanan wisata. Dengan penataan jalur, diharapkan pergerakan wisata menjadi lebih tertib, pengunjung lebih nyaman, dan aktivitas ekonomi tetap berjalan secara berkelanjutan.

Pembangunan JLKT resmi dimulai pada Senin, 13 April 2026, melalui proses groundbreaking di kawasan Bromo, Kabupaten Probolinggo. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin acara tersebut.

Acara tersebut dihadiri oleh Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kemenhut Satyawan Pudyatmoko, Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha, Bupati Probolinggo Mohammad Haris, Bupati Lumajang Indah Amperawati Masdar, dan Forkopimda Jatim.

Gubernur Khofifah menjelaskan bahwa JLKT merupakan sinergi antara TNBTS dan Kementerian Kehutanan dalam mengharmonisasikan kekuatan daya dukung alam dan lingkungan di destinasi wisata. “Kami bersyukur JLKT ini ketemu dengan programnya TNBTS dan Kementerian Kehutanan. Lalu, kita harmonisasikan dengan apa yang menjadi kekuatan adat pada Suku Tengger ini, ketemulah rute‑rutenya,” kata Gubernur Khofifah.

Spesifikasi JLKT mencakup pembangunan jalur sepanjang 13 kilometer dengan lebar 18 meter. Jalur akan dilengkapi dengan 3 titik rest area, 4 titik kantong parkir, 9.725 patok pembatas jalur, dan 60 sumur resapan. Pembangunan tidak menggunakan pengaspalan untuk menjaga daya dukung alam. “Kalau dihitung ada 13 km, kita butuh 9 ribu lebih patok, kita tidak melakukan pengaspalan karena kita menjaga daya dukung alam dan daya dukung lingkungan. Itu kita juga merespon banyak sekali yang menyampaikan untuk kebutuhan rest room,” ungkapnya.

Lokasi rest area direncanakan tiga titik di sepanjang jalur. Setiap area akan memiliki rest room, sumber air, dan area parkir. Para pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini beraktivitas di area kaldera akan dipindahkan ke tiga lokasi tersebut. Dengan penataan ini, aktivitas ekonomi tetap berjalan, namun lebih rapi, terorganisir, dan tidak mengganggu kelestarian kawasan.

Berikut lokasi tiga rest area di JLKT:

  • Bungkah Cemoro Lawang
  • Bungkah Dingklik
  • Watu Gede

JLKT juga dilengkapi dengan sarana pendukung untuk menunjang kenyamanan wisatawan sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Ketersediaan air bersih menjadi fokus utama, dengan mengoptimalkan dua sumber air yang ada: Sumber Widodaren dan Sumber Jantur. Selain itu, fasilitas toilet dan sanitasi ramah lingkungan akan disediakan di seluruh rest area.

Proyek JLKT telah memasuki tahap pembangunan yang dijadwalkan berlangsung mulai Maret hingga Oktober 2026. Tahapan ini menjadi langkah konkret mewujudkan kawasan wisata yang lebih tertata, berkelanjutan, sekaligus tetap menjaga nilai sakral dan ekosistem di kawasan Bromo.

Dengan JLKT, diharapkan Bromo dapat tetap menjadi destinasi wisata yang menarik, namun juga terjaga keseimbangan alamnya. Pembangunan jalur ini tidak hanya memperbaiki infrastruktur, tetapi juga menegaskan komitmen pemerintah dalam melestarikan keindahan alam dan budaya setempat.

Jalur Lingkar Kaldera TenggerBromoEkosistem TenggerSuku TenggerTNBTSKementerian KehutananRest area

Komentar

Memuat komentar...